Aqua dan Warga Doulu (Bagian 1)

3
216

Oleh: Herlina Surbakti (Medan)

herlina 3

Desa Doulu dan Rajaberneh terletak di kaki Gunung Berapi Sibayak. Di kedua desa ini, tinggal lebih kurang 552 keluarga.


Kebanyakan dari penduduknya adalah petani skala kecil dan sebahagian adalah buruh tani. Pendidikan rata-rata adalah SMP. Ada juga diantara mereka yang datang dari wilayah di luar Taneh Karo. Kebanyakan dari masyarakat para pendatang ini adalah orang-orang dari Tapanuli Utara (Batak) dan Jawa.

Pendapatan rata-rata dari setiap keluarga adalah sekitar Rp.1,500.000/bulan. Kalau di setiap keluarga ada 3 anak, maka pendapatan per kapita adalah Rp 300,000/bulan.

Sebagai warga Doulu yang juga dilahirkan di Desa Doulu saya merasa terpanggil untuk membantu penduduk desa ini. Saya mengdakan pelatihan Bahasa Inggris dengan biaya saya sendiri karena kepala desa mengatakan perusahaan Danone/Aqua akan bisa membantu. Pelatihan saya mulai kira-kira 3 atau 4 bulan yang lalu. Pada salah satu kunjungan ini, saya melihat banyak anak-anak desa membawa jaring yang terbuat dari plastik di sekitar Rajaberneh. Tidak lama kemudian hujan rintik-rintik pun turun. Saya menuju rumah kepala Desa Amos Ginting yang kebetulan adalah suami dari anak senina sipemeren saya. Ketika duduk sambil mengobrol, saya melihat semua anak-anak desa yang membawa jaring plastik penuh sampah.

herlina 16Saya mendapat informasi, ada LSM yang dipimpin seorang perempuan Batak yang mengelola CSR Danoane/Aqua untuk Desa Doulu dan Rajaberneh. Saya mendekati orang-orang yang berdiri berkelompok di sekitar jambur Desa Doulu. Mereka memberi tahu saya bahwa mereka berasal dari sebuah Yayasan di Medan. Sampah-sampah itu kemudian dikumpulkan di dekat desa dan adapula yang di dekat jambur.

Hari Minggu berikutnya saya dan kelompok saya datang lagi untuk mengajar anak-anak desa. Saya bertanya:

“Kemana semua sampah yang kelian kumpulkan minggu lalu?” Kata mereka: “Sudah dibakar, Miss Karo.” Miss Karo adalah panggilan saya di kelas Bahasa Inggris.

Kemudian, adapula lembaga Sources of Indonesia (SOI) membuat lubang-lubang biopori di kedua desa ini. Apakah lubang biopori diperlukan di desa yang penuh mata air? Menurut Posman Surbakti, mereka juga akan mengadakan penghijauan di kedua desa ini. Desa yang di kelilingi hutan belantara? Mungkin lebih baik kalau uang untuk ini bisa digunakan untuk pembangunan ruang kelas, perpustakaan dan ruang komputer untuk anak desa?
Menurut kepala desa, akan lebih membantu kalau SOI memberdayakan masyarakat desa untuk bersama-sama bertanggungjawab atas bagaimana dana tersebut digunakan.

Penduduk Desa Doulu tanpa bantuan pemerintah sudah pernah berhasil membuat jalan sepanjang 1 Km dari jalan utama Jl. Jamin Ginting sampai ke Desa Doulu. Kalau pendekatannya baik, saya yakin penduduk desa akan mendukung (Bersambung ke bagian 2).

3 COMMENTS

    • Berfikirlah selalu positif. Sebagai warga desa saya wajib membela orang orang desa
      yang tak berdaya dan itu akan terus saya lakukan. Selama ini saya tidak berada di desa, saya bekerja pada organisasi Internasional dan saya terus menerus membela kepentingan Nasional (NKRI). Ketika kebanyakan manusia manusia Indonesia lebih mementingkan uang. Janganlah sembarang curiga!

  1. ‘Miss Karo’ (Herlina Surbakti) punya banyak pikiran baru dalam membela penduduk desa Doulu dalam kaitannya dengan exploitasi SDA di Doulu dan dalam kemandirian Karo secara umum.

    Pasti akan ada efek praktis dan kegunaan besar dalam membela Doulu serta lebih memperkenalkan Karo sebagai suku bangsa kultur tersendiri dan bebas di Sumut jika diperbatasan masuk ke Karo dan masuk ke Doulu ditegakkan plank besar bertuliskan:

    KARO BUKAN BATAK
    SELAMAT DATANG
    MEJUAH-JUAH

Leave a Reply