Kok Kuda Lumping yang Tampil di Laubaleng?

1
216

laubaleng 10BRANDY KARO SEKALI. LAUBALENG. Warga Karo di Kecamatan Laubaleng menyesalkan minimnya pagelaran seni budaya Karo di acara Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia (HUT RI) ke-69 di daerah ini.

“Sudah pagelaran Karonya minima ada pula penampilan kuda lumping (jarang kepang) dari Pujakesuma Kabupaten Karo yang sengaja diundang oleh pihak penyelenggara sebagai hiburan masyarakat,” kata aktivis Pemuda Karo Medan (PKM) kepada Sora Sirulo [Senin 18/8].

Denh yang berasal dari Laubaleng dan di Medan aktif menggiatkan acara-acara seni budaya Karo ini mempertanyakan keberadaan kuda lumping yang dihadirkan dalam acara HUT RI ke-69 di Laubaleng.

“Banyak pertanyaan terucap dari para tetua setmpat. Kenapa tidak kesenian Karo saja yang ditampilkan untuk memeriahkan HUT RI. Tapi tiada yang bisa menjawab. Salah satu sepuh dari pemain kuda lumping mengatakan kehadiran mereka di Kecamatan Laubaleng tidak lebih dari sekedar menampilkan kesenian dan hiburan kepada masyarakat,” ujarnya ketika mereka mulai tampil.


[one_third]Rindu seni Karo di masa muda mereka dulu[/one_third]

Denh Sembiring Maha juga mengatakan, banyak harapan yang disampaikan oleh warga Karo, khususnya para tetua yang hadir di acara itu. Mereka berharap agar ke depannya panitia membuat perlombaan yang berkaitan dengan kesenian Karo di Kecamatan Laubaleng. Mereka sudah rindu akan kehadiran kesenian yang hanya mereka dapatkan di masa mudanya dulu.

“Ada juga harapan yang terucap dari beberapa orang tua yang sengaja hadir di acara ini. Harapannya, bagaimana agar panitia dapat membuat suatu perlombaan yang berkaitan dengan kesenian Karo di Kecamatan Laubaleng. Mereka sudah rindu kehadiran kesenian yang bisa dikatakan hanya mereka dapatkan di masa mudanya dahulu,” ujarnya.

Denh Sembiring Maha berharap agar suatu saat nanti, akan ada orang Karo yang terpanggil untuk membuat harapan masyarakat Karo terwujud di Kecamatan ini. Dengan demikian, apa yang diharapkan oleh masyarakat luas segera dapat terlaksana.

1 COMMENT

  1. “banyak harapan yang disampaikan oleh warga Karo, khususnya para tetua yang hadir di acara itu. Mereka berharap agar ke depannya panitia membuat perlombaan yang berkaitan dengan kesenian Karo di Kecamatan Laubaleng. Mereka sudah rindu akan kehadiran kesenian yang hanya mereka dapatkan di masa mudanya dulu.”

    Sudah 69 th merdeka, walaupun sesungguhnya belum merdeka menurut ketua KPK Abraham Samad. Mengapa belum merdeka, karena belum hadir KEADILAN katanya. Koruptor masih merasa dirinya yang adil, masih merajalela menggasak kekayaan rakyat dan negara. Pak ketua KPK ini memang capek, kalau ‘cinta kepada ibu pertiwi ini harus tetap berjuang’ kata Ita Apulina dalam kolomnya barusan.

    Di Laubaleng orang tua merindukan kehadiran kkesenian Karo, tetapi yang disodorkan oleh panitia ialah ‘kuda lumping’. Tentu susah untuk ikut menari bersama kuda lumping bagi orang tua Karo itu, apalgi kalau disuruh makan beling atau padi, tetapi mereka masih tidak putus asa, masih mengharapkan lain kali masih datang acara kesenian mereka, kesenia asli Laubaleng..

    Ketika berjuang demi kemerdekaan dari tangan penjajah, bukan main aktifnya dan giatnya orang Karo. Karena itu juga dipuji oleh wk presiden Hatta, Karo adalah pahlawan perjuangan pembebasan IBU PERTIWI. Karo mencintainya 100%, jelas tak teragukan. Makam Pahlawan terisi cepat anak-anak muda pejuang kkemerdekaan. Setelah merdeka, Karo dihinggapi penyakit parah sekali. KEPASIFAN yang mematikan. Contohnya Kuta Pengkih tak jauh dari daerah Laubaleng, dijadikan ‘suku terasing’ lalu diambil alih oleh orang-orang Batak dll. Perampokan terang-terangan tanah ulayat orang Karo, tetapi orang Karo termasuk Bupatinya diam seribu bahasa, sehingga ‘tak ada rakyat Karo yang mengetahui’, kata Juara Ginting. Masri Singarimbun juga merasa tertipu disiang bolong, mengapa tiba-tiba dep sosial menjadikan Kuta Pengkih jadi Pemukiman Desa terasing/terisolasi, beliau tuliskan di Gatra 1996, (pak Masri meninggal 1997).

    Bukan hanya sampai disitu, departemen Pak Masri di UGM juga dilucuti diambil orang lain, padahal Masri sudah bersusah payah membangunnya sampai kemudian berdiri sukses. Memang ‘kalau tak ada panglima kita di pusat, susahlah kita bergerak maju keatas’, kata Juara Ginting kepada Pak Masri, yang kemudian diyakini juga oleh Pak Masri setelah terlambat. Dua persoalan ini sangat memberatkan hati Pak Masri.

    ‘Pak Masri (mama ningku sekali) adalah contoh seorang anak Karo yang “lurus-lurus” dan sukses dalam kelurusannya tapi di akhir hidupnya dia menjadi “sakit hati” karena menyadari dunia rupanya tidak selurus-lurus yang dia bayangkan. Banyak intrik-intrik di sekitarnya yang langsung berebutan madu yang dia hasilkan dengan modal “kekuasaan di atas/ pusat”, kata Juara Ginting.

    Penyakit orang Karo bukan hanya KEJUJURAN yang bikin mampus karena gampang ditipu orang, tetapi juga KEPASIFAN yang bikin mampus bagi existensi Karo sebagai suku. KEPASIFAN KARO memang luar biasa!!!

    Bisakah orang Karo menghilangkan penyakit yang mematikan ini?

    MUG

Leave a Reply