Kolom M.U. Ginting: SOAL KONTRADIKSI (Bagian 3)

0
161

M.U. Gintingkontradiksi 4Apa yang saya jelaskan di Bagian 1 dan 2 ialah arah perkembangan yang pasti dan positif. Semua dianalisa dari segi kontradiksi dan dialektika perkembangan. Persoalan atau problem umumnya ialah kontradiksi, proses perjuangan dari segi-segi bertentangan dalam satu kesatuan. Karena itu, semua persoalan, besar atau kecil, nasional atau internasional, harus dianalisa dari segi kontradiksi. Artinya, segi-segi bertentangan di dalamnya dan kepentingan-kepentingan yang diwakili oleh masing-masing pihak.

Kontradiksi pokok dunia ialah kontradiksi yang ’memimpin’ semua kontradiksi lain dalam kehidupan politik dunia. Pada era lalu, era dua blok, kontradiksi pokok dunia ialah kontradiksi antara dua blok yaitu Barat dan Timur. Semua kontradiksi lainnya ’dipimpin’ oleh kontradiksi pokok ini. Perang di manapun di bagian lain dunia tak bisa dipisahkan dari kontradiksi Barat dan Timur serta selalu mendominasi kontradiksi apapun lainnya dalam semua konflik yang terjadi antara berbagai nation, bahkan dalam satu nation itu sendiri.

Setelah kontradiksi dua blok ini lenyap bersama lenyapnya Blok Soviet, banyak perubahan terjadi. Kontradiki pokok dunia pun berubah. Kontradiksi pokok sekarang ialah soal keadilan; perjuangan untuk keadilan dari semua atau mayoritas manusia seluruh dunia (tidak tergantung di negara mana mereka tinggal).


[one_third]Pertengkaran 2 blok lebih penting dari keadilan[/one_third]

Perjuangan keadilan tidak menonjol di era dua blok, karena keadilan ’di sini’ lain dengan keadilan ’di sana’. Atau dengan perkataan lain, ditentukan oleh kontradiksi pokok ketika itu. Pertengkaran dua blok selalu lebih penting dari keadilan. Sekarang, situasi berubah; adakah persolan yang lebih penting dari keadilan? Pandangan soal keadilan sudah semakin menunjukkan kebersamaan sehingga perjuangan untuk keadilan bagi semua manusia sudah bisa ditingkatkan sebagai kontradiksi pokok dunia.

Dua daerah besar dan dengan penduduk besar masih punya kontradiksi besar regional, spesifik dan tajam, tetapi juga tak bisa lepas dari kontradiksi pokok tadi yaitu perjuangan untuk keadilan. Daerah itu ialah China (kontradiksi antara pikiran lama/ komunisme dengan pikiran baru kebebasan dan demokrasi), Timur Tengah antara rakyat-rakyat Arab dan bangsa Yahudi Israel dalam satu kesatuan dan dengan negara-negara diktator Arab dalam satuan kekuatan lainnya.

Faktor extern terpenting dan terutama dalam kontradiksi ini ialah USA dengan kekuatan militernya yang masih bisa dimanfaatkan oleh dua pusat kekuatan di Timur Tengah (Israel dan diktator-diktator Arab), tetapi tidak berpengaruh apa-apa di China.

ISIS adalah juga nama Dewi Pertanian dalam kebudayaan Mesir Kuno yang pernah jadi tokoh TV Serie di Amerika (1975-1976) yang juga populer dengan komik ISIS.

ISIS sekarang berubah nama jadi IS (Islamic State) terbentuk dalam rangka ’meringankan’ kontradiksi besar Timur Tengah dengan memindahkan sebagian dari kontradiksinya ke daerah-daerah lain seperti Irak atau negara-negara lain dunia dengan nama terrorism. Survival IS tentu banyak tergantung dari keadaan finansnya. Sekarang uangnya sangat berlimpah dengan perampokan bank-bank, dan masih menguasai sumber minyak di Irak dan Sirya, sehingga IS kelihatan kuat.

Biarpun dia kuat, tetapi imbas pengacauannya bisa dikatakan terbatas seperti melikwidasi etnis minoritas tak bersenjata, menyibukkan negara-negara Islam lainnya terutama di kalangan shia muslim yang merupakan musuh utama semua diktator Arab dan zionisme. Selain itu, pengungsi besar-besaran akan menyibukkan Barat mengalihkan perhatian atau pemindahan kontradiksi.

Di negeri-negeri yang kuat tentara nasionalnya, IS tak berdaya, seperti percobaannya di Indonesia. Kontradiksi IS hanya kontradiksi sampingan, karena kontradiksi utamanya ialah kontradiksi regional di Timur Tengah seperti tertulis di atas. Kontradiksi besar regional ini selain ’Arab Spring’ kontra diktator-diktator minyak Arab di satu pihak, dan dengan zionisme Israel di pihak lain juga tak bisa dipisahkan dari ’Jewish question’ dunia secara umum.

Jewish Question yang menurut Marx akan hilang setelah kapitalisme hilang, juga masih belum bisa dibayangkan. Pertama, kapan kapitalisme hilang? Ke dua, kapitalisme juga tak ada sangkut pautnya dengan kultur, tradisi dan way of thinking Yahudi. Tetapi, kontradiksi ’Arab spring’ dengan diktator minyak pasti bisa lenyap dengan sirnanya persediaan minyak diktator-diktator ini (SELESAI).

Berita Terkait:

Kolom M.U. Ginting: SOAL KONTRADIKSI (Bagian 1)

Kolom M.U. Ginting: SOAL KONTRADIKSI (Bagian 2)

Leave a Reply