Panandatanganan MoU Aqua Doulu Ditolak

4
339

Oleh: Herlina Surbakti (Medan)

 

herlina 3Sebelum saya mulai menulis tentang penandatanganan MoU antara SOI, Aqua dan Forum Masyarakat Lembah Sibayak, yang tidak melibatkan Kepala Desa setempat, ada baiknya saya memperkenalkan diri terlebih dahulu.

Nama saya Herlina br Surbakti. Ayah saya berasal dari Rajaberneh dan ibu saya dari Doulu. Doulu adalah panteken Purba mergana, sedangkan Rajaberneh panteken Surbakti mergana yang dulunya berada di wilayah Urung Telu Kuru beribunegeri Lingga panteken Sinulingga mergana. Desa Rajaberneh dan Desa Doulu sekarang ini berada di wilayah Kecamaten Merdeka, Kabupaten Karo.

Doulu adalah ingan pusungku ndabuh (tempat kelahiranku) dan ibuku berasal dari kuta ini. Sayapun termasuk penduduk desa ini. Jadi, oleh karena itulah, saya menjadi tertarik untuk mengetahui proses penandatanganan MOU ini.

aqua 2
Kepala Desa Rajaberneh saat membaca butir-butir MoU

Rapat dimulai Pkl 11 pagi. Semua sudah tersusun rapi. MoU akan ditandatangani stakeholders termasuk wakil dari Pusat, Provinsi, Muspida Karo, Pihak SOI, Forum Masyarakat Lembah Sibayak (?) dan Aqua. Saya agak terlambat tiba di jambur dan saya melihat stake holders sudah berdiri berjejer siap-siap untuk menandatangani.

SOI diwakili oleh seorang wanita I. Nababan dan seorang laki-laki Darman Lubis. Dari Forum Masyarakat Lembah Sibayak (?) diwakili oleh Perkasa Surbakti dari Rajaberneh dan Silalahi dari Desa Doulu, Kepala Desa Doulu (Amos Ginting), dan Kepala Desa Semangat Gunung (Rajaberneh) Jenni Ginting.

 


[one_third]Presenter membacakan isi MOU[/one_third]

Penandatangan pertama yang dipanggil oleh presenter adalah Bapak Jenni Ginting. Beliau maju ke depan berbicara tanpa mic sehingga saya tidak mendengar apa yang dikatakannya tetapi kedua tangannya ada di dalam saku jacketnya. Diikuti oleh Kepala Desa Doulu Bapak Amos Ginting. Beliau memaparkan ketidaksetujuannya atas beberapa poin yang ada pada MoU. Yang saya dengar beliau tidak setuju karena ditulis di dalam kontraknya semua ini harus dirahasiakan (ula kata-kataken).

Beliau juga mengatakan: ”Kami memang bodoh, tapi jangan pulalah kalian membodoh-bodohi kami.”

Ada pula poin yang menyatakan bahwa stakeholders tidak mempunyai hak maupun kewajiban. Kepala Desa Doulu menolak menandatangani MoU tsb. Ketika giliran pejabat-pejabat yang lain tidak ada satupun yang bersedia menandatangani.

 


[one_third]Ada orang-orang dari Singapore[/one_third]

Ketika saya makan siang di kedai nasi Rajaberneh seorang penduduk desa memberitahu saya bahwa semua ikan lele yang ditabur di kolam mati sesudah 4 hari. Menurut ibu itu, mereka sudah memberi tahu bahwa ikan lele tidak akan hidup di Lembah Sibayak.

aqua 1
Kepala Desa Doulu saat menaytakan menolak menandatangani MoU

Menurut Kepala Desa Doulu, memang beberapa waktu yang lalu banyak anak Tionghoa datang ke Lembah Sibayak. Banyak diantara mereka tidak bisa berbahasa Indonesia dan, menurut Kepala Desa, mereka datag dari Singapore.

Begitulah kisah Kepala Desa Amos Ginting telah bekerjasama secara bagus sekali Kepala Desa Jenni Ginting untuk menolak menandatangani MOU setelah memaparkan dan mendiskusikan butir-butir MoU ke hadapan masyarakat.

Berita Terkait:

Aqua dan Warga Doulu (Bagian 1)

Aqua dan Warga Doulu (Bagian 2)

4 COMMENTS

  1. Tulisan beru Karo diatas sangat mencerahkan. Kita patut teladani sepak terjangnya utk mau peduli ku “ingan pusung ndabuh ndube”.

  2. Perlu dipancangkan plank besar dijalan masuk desa Dolu bertulisan: KARO BUKAN BATAK.

    Ini sangat penting untuk menunjukkan kepada PENDATANG dan turis ke Karo/Doulu bahwa mereka datang ke daerah tradisional Karo dan tanah ulayat suku Karo, bukan Batak. Dengan begitu pengusaha Aqua bisa mengerti bahwa mereka berhadapan dengan suku Karo, bukan orang Batak. Organisasi-organisasi yang dengan sengaja dibuat orang Batak seperti SOI dan ‘Masyarakat Lembah’ dsb adalah akal bulus yang sangat licik untuk menipu dan membodohi orang Karo sekitar lembah itu.

    Kita jangan melupakan penipuan mereka di Desa Pengkih Mardinding. Begitu juga percobaan mereka mengubah nama Tahura dengan nama siSinga. SiSinga ini jadi pahlawan ‘perang batak’, padahal perang batak adalah perang orang Karo datuk Surbakti melawan perampokan tanah subur Karo di Sumtim yang dijadikan perkebunan tembakau dan sisal oleh penjajah Belanda.

    Orang Belanda tak pernah berperang di Tano Batak karena tak ada kepentingan kolonial disana, berlainan dengan daerah orang Karo Deli dan Langkat di Sumtim yang sangat subur dan kaya SDA seperti minyak di Langkat (Berrandan).

    Dengan adanya plank KARO BUKAN BATAK, ilusi bikin pembodohan seperti SOI, ‘masyarakat lembah’ dsb akan lenyap. SOI (source of Indonesia) rekayasa orang Batak Aqua tidak perlu ada karena ini adalah source of Karo secara konkret dan fakta.

    Begitu juga organisasi lembah harus diserahkan kepada masyarakat lembah itu sendiri, jangan direkayasa oleh orang luar dijadikan suara (voting) di MOU Aqua.

    Orang Karo desa Doulu dan Rajaberneh sudah tinggi kesadarannya dan bangkit jadi contoh perjuangan keadilan Karo dan Transparansi Indonesia maupun dunia, dan yang sudah jadi arah jelas perkembangan.rakyat-rakyat dunia.

    Bravo Karo!

    MUG

  3. “ditulis di dalam kontraknya semua ini harus dirahasiakan (ula kata-kataken).”

    Kegelapan masa lalu masih mau diteruskan. Perjuangan Miss Karo dengan semua Kepala Desa adalah perjuangan KEBEBASAN DAN TRANSPARANSI INDONESIA. Kebangkitan bersama penduduk lembah Sibayak sangat penting dan kali ini sangat menakjubkan, bekerja sama dengan rapi menentang PEMBODOHAN MASYARAKAT KARO oleh orang-orang luar Karo terutama orang-orang Batak, lewat perusahaan Aqua. Kewaspadaan dan kegigihan penduduk memperjuangkan hak-haknya atas SDAnya demi KEADILAN patut dipuji dan seluruh masyarakat Karo dunia mendukung sepenuhnya. Karo dengan kultur/budayanya, daerah ulayatnya dan SDAnya adalah tempat berdiri suku Karo. Tanpa tempat berpijak tak mungkin ada Karo sebagai suku.

    MUG

Leave a Reply