Cerpen: ELANG RAMPAS HENING

1
212


[one_third_last]Oleh: Rimantha[/one_third_last]

Hendak beli rokok ke sebuah toko swalayan dekat rumah. Aku ambil sepeda di gudang dan kudorong lewati gerbang taman belakang.
Tiba-tiba, terdengar jeritan seekor burung layang-layang di udara.


Aku menengadah, mencari sumber jeritan. Seekor elang kecil melayang dengan kaki mencakar seekor layang-layang yang menjerit-jerit, terbayang dirinya segera dijemput oleh Dewa Cabik-cabik.

Tanpa kusadari, tiba-tiba saja di sekelilingku telah berkerumun beberapa tetangga. Tadinya mereka duduk-duduk di taman belakang rumah mereka, menikmati siraman mentari. Kebetulan cuaca memang cerah hari ini.

“Apa yang terjadi? Suara apa itu tadi?” Tanya Nyonya Vredenberg tetanggaku kelang satu rumah.

“Seekor elang menyambar seekor layang-layang,” kataku sambil mengalihkan pandangan ke arah elang yang menukik ke jalan raya.

“Lihat, dia menukik dan seekor kucing mengejarnya. Dia terbang lagi tapi tidak jauh. Lihat, kucing itu mengejarnya lagi,” kataku pada Nyonya Vredenberg.

“Ya, betul. Wah …. wah ….” katanya dengan raut muka tegang.

“Ada apa? Ada apa?” Tetangga-tetangga lain mendekat dan melihat ke arah pandang kami.

Tuan Langebroek, tetanggaku kelang dua rumah, coba merapat ke badanku untuk melihat dari sudut pandangku. Seorang gadis berambut pirang terlihat di kejauhan menunjuk-nunjuk ke arah burung dan kucing seolah berkata: “Itu, burungnya, sekarang dia ada di sana.”

Kerumunan semakin ramai. Burung dan kucing menghilang entah ke mana. Para tetangga ngobrol satu sama lain tentang burung-burung yang semakin sering terbang mendekati rumah kami sejak walikota memperluas hutan di kota kami.

“Rumah-rumah kita akan semakin mahal dengan kebijaksanaan baru ini. Untunglah galon minyak itu tidak jadi dibangun. Kalau jadi, wah, hancur sekali harga rumah kita,” kata Derek dengan suaranya yang keras sambil mengelus-ngelus anjingnya. Anjing ini dia beri nama Litmanen, nama mantan penyerang tengah Ajax Amsterdam yang asal Finlandia.

Perlahan kudorong sepedaku meninggalkan kerumunan. Berapa selang, kunaiki dan kukayu sepeda menuju toko.

Jalan setapak di belakang rumah telah sepi sekembaliku dari toko. Para tetangga telah kembali ke rumah masing-masing. Ada yang meneruskan berjemur di taman belakang (Kami sesama tetangga biasanya tak banyak saling ngomong. Paling halo … hai … saja bila kebetulan berpapasan).

Saat membuka gerbang taman belakang, suara elang kecil terdengar di angkasa: “kuliiiiikkkkkk …… kuliiiiikkkkk …..” Dia mencari mangsa lagi.

Aku menyapanya sebelum menutup pintu gerbang: “Kau telah berhasil memecah heningnya Belanda. Lanjutkan perburuanmu. Mejuah-juah, nak!”

1 COMMENT

Leave a Reply