Beidar Sinabung Siap Tampil di Utrecht Indonesian Day

1
207
utrecht 1
Sebagian dari suasana latihan di Voorburg

LORETA KARO SEKALI. VOORBURG. Komunitas Karo di Belanda akan ikut mengisi acara ‘Utrech Indonesian Day’ yang dilaksanakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Utrecht di akhir pecan ini [Sabtu 13/ 9] dengan menampilkan tari dan musik tradisional Karo secara live berjudul Nyanyian Beidar Sinabung.

Nyanyian Beidar Sinabung ini dipersembahkan oleh Komunitas Karo di Belanda kepada para korban letusan gunung berapi Sinabung yang terletak di Dataran Tinggi Karo.

Menurut Juara R. Ginting yang merancang penampilan ini bersama Kristy Tarigan, selain untuk menampilkan seni tradisi Karo ke masyarakat internasional di Belanda, penampilan ini juga dimaksudkan untuk mengingatkan khalayak ramai bahwa ancaman letusan Gunung Sinabung belum berakhir.

“Sebenarnya, setiap hari terjadi gempa. Kadang dalam skala lemah sehingga tidak begitu terasa sehingga para wartawan menganggapnya bukan lagi berita. Tapi, itu bukan berarti bahwa ancaman ledakan dahsyat sudah berakhir. Kadang-kadang gunung ini masih menyemburkan debu vulkanik dan kadang-kadang memuntahkan lava membara berikut awan panas,” kata Juara sambil mengingatkan masyarakat Dataran Tinggi Karo agar tetap waspada dan masyarakat internasional tetap prihatin untuk menyalurkan bantuannya.

utrecht 2
Indhira Meliala

Sebagaimana terlihat oleh Sora Sirulo saat latihan di Voorburg beberapa hari lalu, Nyanyian Beidar Sinabung diawali dengan sebuah tarian yang dirancang dan ditata oleh Kristy Tarigan. Selanjutnya ditampilkan sejenis seni menutur (troubadur) dimana Juara menuturkan kisah sang kambing hutan yang terancam punah (Sumatra Sarrow) yang dalam bahasa Karo disebut Beidar. Selain menutur, Juara juga memerankan sang Beidar berdialog dengan ibunya (diperankan oleh Kristy Tarigan). Dalam dialog ini, Kristy berkata-kata pada Beidar dengan cara bernyanyi khas Karo saat mengalami kemalangan.

Menurut Juara, meskipun nyanyian Ibu Beidar yang dalam bahasa Karo tidak dimengerti oleh para penonton non Karo, musik pengiringnya akan membawa penonton berfantasi di dalam bahasanya masing-masing.

“Ini adalah bahasa seni, dari hati ke hati. Kita coba menata busana, musik dan latar panggung secara teatrikal agar penonton mampu menangkap suara hati para korban letusan Sinabung. Beidar mewakili mala petaka yang menimpa manusia dan alam sekitarnya,” kata Juara menjelaskan.

Penampilan ini akan ditutup dengan menari bersama penonton.

“Kita mengharapkan para warga Karo yang tinggal di Belanda atau negara-negara sekitar Belanda menyempatkan diri untuk datang menonton dan menari bersama di akhir penampilan,” kata Kinok Surbakti yang akan berperan sebagai pemain musik ketteng-ketteng dalam penampilan ini.

Selain menampilkan wajah-wajah lama seperti Juara Ginting, Kristy Tarigan, Kinok Surbakti serta dua perempuan Belanda (Dr. Clara Brakel dan Esmiralda Hillal), kelompok music dan tari Karo ini menampilkan wajah-wajah baru; Richard Purba, Tesa Kaban, Indira Meliala, Desniwaty Surbakti dan Kristina Tarigan.

Berita Terkait:

Erupsi Sinabung Malam ini

Sinabung Meletus Malam Ini

Beidar Si Hitam dari Sinabung Menuju Punah

 Satu Lagi Beidar Sinabung Ditemukan

Cerpen: Beidar

1 COMMENT

  1. Tepat sekali moment dan tema pertunjukan acara Sinabung Beidar ini, sangat membantu pengungsi Sinabung dan lebih memperkenalkan lagi budaya Karo sebagai bagian penting dari pertunjukan budaya nasional ini.
    Karo Belanda memang tak ada duanya dalam memperluas pengenalan akan kultur Karo. Karo akan mencatat ini dalam sejarah Karo, perkembangannya di LN dan Eropah terutama di Belanda.

    Bujur man kerina aktivis gerakan kultur Karo di Belanda.

    MUG

Leave a Reply