Kolom M.U. Ginting: PERBEDAAN DASAR PERSATUAN

0
184

M.U. Gintingmuginting 2.”Aku tinggal di lingkungan Toba. Proyek di Humbang, Tobasa,  gak pernah diganggu. Dan selalu dihormati. Aku juga menghormati   mereka,” kata seseorang di mailing list Komunitas Karo. Ini gambaran persahabatan dan yang bagus juga. Soal persahabatan selalu perlu dijaga supaya bisa berjalan bagus dan hidup aman dan damai. Semua kita pasti setuju. Bagaimana menjaganya?

Itulah yang selalu berubah dan berkembang. Di era lalu, kita bersahabat dengan mengkedepankan PERSAMAAN. Abad ini (21) jelas tak bisa lagi, karena abad ini adalah abad PERBEDAAN. Artinya, mendalami pengetahuan soal perbedaan dan menggali KEKUATAN dari perbedaan itu. Itulah yang berlaku sekarang. Kekuatan dalam Bhinneka Tunggal Ika ialah kekuatan perbedaan. Dulu kita tak tahu, tetapi sekarang kita harus tahu ada kekuatan di situ, bukan kekuatan PERSAMAAN tetapi kekuatan PERBEDAAN.

Untuk melihat kekuatan dalam perbedaan tak ada jalan lain kecuali mempelajari perbedaan dari segi KONTRADIKSI. Perbedaan adalah mutlak dan alamiah. Karena itu juga, kontradiksi adalah mutlak dan alamiah. Kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan. Dan, itu memang betul.

Semua sudah pernah merasakan dari segi pengalaman sendiri. Cobalah apa yang kita tulis ini, anda membantah pendapat saya dan saya berusaha menjelaskan, dan dari situ kita bersama tambah wawasan. Artinya, ada perubahan dan perkembangan. Itulah kontradiksi yang menjadi tenaga penggerak perubahan, perkembangan dan yang berarti juga sedikit banyaknya ada kemajuan.

Bandingkanlah kontradiksi yang kita hadapi dalam tulisan kecil ini antara saya dan anda. Anda menentang dan menuduh saya ‘terus-terusan mengembuskan perpecahan 3 suku’. Ini fitnah atau bukan biarlah yang lain menilainya. Anda boleh memperdalam dan memperluas pendapat negatif tentang saya dan Karo. Dari sisi lain, saya berusaha menjelaskan dan dari situlah kita akan temui hal-hal baru yang artinya, itu tadi, perubahan.

Memang sering dalam diskusi/debat terselip argumentasi adhominem. Sering tak bisa juga dihindari, tetapi bukan itu thema pokoknya. Bagi saya, themanya tetap dari situ kita bisa belajar bersama demi kemajuan bersama semua suku, seluruh nation negeri ini, dari kontradiksi tadi, dari perbedaan tadi.

Apa yang saya paparkan dalam tulisan yang lalu, dan dalam semua tulisan-tulisan saya umumnya, adalah soal KONTRADIKSI. Di sini konkretnya ialah soal ethnic competition, di Indonesia dan di dunia umumnya. Karena ethnic competition juga adalah kontradiksi maka dia juga akan mendorong ke perubahan dan perkembangan dan kemudian ke kemajuan, terutama dalam pikiran.


[one_third_last]mengarahkan kontradiksi itu sehingga mendorong perubahan[/one_third_last]

Persoalan ini memang besar dan rumit. Bagaimana kita bisa mengubah atau tepatnya mengarahkan kontradiksi itu sehingga mendorong perubahan tanpa memecah belah atau bikin tak bersatu atau bikin perang seperti era lalu? Untuk itu perlu PENGETAHUAN, bukan hanya bagi penulis-penulis buku-buku soal ethnic competition dunia, tetapi perlu sekali untuk kita semua rakyat biasa. Soalnya, kalau terjadi perang etnis, rakyatlah yang selalu menderita. Karena itu, yang membutuhkan pengetahuan ini ialah kita-kita ini semua. Kita beruntung sudah banyak dibukukan pengetahuan itu, tinggal baca dan mempelajari.

Perang atau konflik bisa diatasi kalau cukup pengetahuan di kalangan rakyat. Artinya, kontradiksi itu dipelajari sehingga bisa diarahkan. Tidak bisa diarahkan kalau tak punya pengetahuan soal kontradiksi, yang di sini terutama soal-soal kultur, tradisi dan way of thinking tiap etnis/kultur serta perjuangannya masing-masing dalam kehidupan nyata sehari-hari (perjuangan untuk survival sebagai etnis dan sebagai individu).

”Paduka yang Mulia Gatot Pujo Nughroho dan ini juga dibahas oleh ketiga suku tadi di Jakarta. Kok bisa ketiga suku tadi dari Zaman Merdeka gak pernah memimpin ? Ulah siapa ya? Isu apa, ya? Ya itu yang kam hembuskan terus-terusan. Memecah ketiga suku tadi,” tulis orang yang sama di mailing list itu.

Bersatu untuk menentang Paduka Yang Mulia Gatot? Gatot dipilih secara demokratis oleh mayoritas rakyat Sumut. Kita menghormati demokrasi dan karena itu juga Gatot yang terpilih. Kalau zaman dulu kita bersatu melawan penjajah orang Belanda, itu betul. Tetapi tak bisa pula disamakan dengan Gatot hanya karena dia orang Jawa.  Di Sumut memang sering dihembuskan ’persatuan’ melawan orang Jawa yang katanya pendatang. Tempo hari ketika ada 5 orang Batak mau mengalahkan Gatot, tetapi kelimanya kalah. Karo tak ikut diantara 5 calon itu, karena KARO BUKAN BATAK.

Pengetahuan tentang KARO BUKAN BATAK adalah salah satu kunci penyelesaian masalah etnis di Sumut dan Indonesia umumnya. Menambah pengetahuan soal ini akan meringankan bagi kita semua dalam menghadapi dan mengarahkan kontradiksi mutlak ethnic competition.

Si pembuat komentar tinggal dan bekerja di daerah Toba (Batak). Jelaskanlah kepada teman-teman sekeliling anda bahwa Karo bukan Batak. Sudah banyak bukti-buktinya secara ilmiah dan saya yakin anda sebagai seorang intelektual pastilah sudah membaca semua.

Penemuan arkeologi terakhir 2011 di Kabayaken Gayo di bawah pimpinan arkeolog Ketut Wiradyana, fosil berDNA Karo dan Gayo dengan barang anyamannya sudah berumur 7.400 tahun. Sedangkan orang Batak (Toba) menurut profesor Sosiologi Bungaran Simanjuntak datang ke Indonesia sekitar 2500-3000 tahun lalu dari Pilipina/Taiwan. Jadi, Karo dan juga Gayo sudah berada di Sumatera 4000-5000 tahun sebelum orang Batak (Toba) tiba di Sumatera.

Tidaklah masuk akal kalau dibilang Karo adalah Batak. Sangat tak masuk akal karena beda tahunnya sangat jauh dan juga beda kulturnya, way of thinkingnya serta adat istiadatnya sangat jauh dan sering berkebalikan seperti sifat introversi dan extroversinya.

Anda berkewajiban memberikan informasi ilmiah kepada teman-teman Batak anda, anda akan berjasa demi kedamaian sesama etnis supaya bisa saling mengakui, saling menghormati dan saling menghargai. Itulah dasar perdamaian dan kedamaian hidup bersama.

Leave a Reply