Kolom M.U. Ginting: KBB dan Tanda-tanda Zaman

0
149
muginting 3.
Pemuda Karo Medan (PKM) melakukan kunjungan ke Istana Maium dan berdialog dengan keluarga Kesultanan Deli soal Kekaroan Kesultanan Deli. Lihat beritanya di http://www.sorasirulo.com/2014/09/15/pemuda-karo-medan-kunjungi-istana-maimun/

M.U. GintingBuku Valerie Trierweiler  membelejeti Presiden Prancis, Francois Hollande, sebagai seorang sosialis Perancis. Di samping jual buku dapat duit, insformasi ini juga benar. Orang-orang sosialis Eropah umumnya memang sangat  membanggakan orang-orang kaya negerinya, karena mereka ini yang kasih dana. Orang miskin hanya kasih suara, tetapi ’tak bergigi’ menurut pandangan mereka.

Zaman berubah, ideologi dan taktik orang sosialis atau orang sosial demokrat di Skandinavia semakin payah posisinya. Begitu juga halnya dengan kaum kanan tradisional Eropah. Dari dua grup politik inilah melonjaknya suara ke partai-partai kanan baru Eropah yang sekarang telah menjadi partai ke 3 di banyak negeri Eropah, seperti Independence Party Inggris, Front National Perancis, Demokrat Swedia, Framtid Partai di Norwegia, Partai Rakyat di Denmark dan di semua negeri Eropah Barat atau Timur muncul partai-partai kanan baru. Di Parlemen Uni Eropah partai-partai ini punya kursi terbanyak.

Kontradiksi besarnya di sini ialah, seperti di Aqua Doulu, harus ada campur tangan orang luar atau dipercayakan kepada penduduk asli. Di Eropah namanya migrasi.

Walaupun dalam berbagai perumusannya di tiap negeri berbeda-beda, tetapi itulah hakekatnya. Orang-orang kiri lama maupun kanan lama pada berlarian ke partai kanan baru yang nasionalis. Tetapi partai-partai lama itu masih belum mengakui atau memahami perubahan zaman ini, terutama pemimpin-pemimpinnya. Orang-orangnya pada berlarian kepada pembaharuan dunia.

Kemarin, baru diadakan Pemilu di Swedia. Partai-partai kiri lama dan kanan lama pada keok. Partai kanan baru (SD, partai nasionalis Swedia) menanjak 2 kali lipat dari 6% di Pemilu lalu menjadi 13% di Pemilu kemarin. Itulah perubahan dunia.

KBB (Karo Bukan Batak) adalah pengikut dan promotor besar perubahan itu. KBB menujukkan itu di Aqua Doulu, dalam soal Kuta Pengkih, penggantian nama Tahura, Juma Tombak, dan juga 9 desa Bangun Purba.

Orang kiri lama dan orang kanan lama di Indonesai juga mengikuti proses seperti di Eropah. Tetapi orang-orang Indonesia terutama yang muda-muda sangat dinamis dan cepat mengikuti perubahan dunia. Ini sangat terlihat di Pileg dan Pilpres 2014.

Di Eropah, banyak sekarang yang mengusulkan agar ditinjau ulang politik kanan lama maupun politik kiri lama. Di Eropah, soal yang sangat ’berapi dan menyala’ ialah soal migran. Orang kiri dan orang kanan lama ini TAK BERANI BUKA MULUT soal ini, dianggap TABU di kalangan mereka atau di kalangan mapan.

Di situlah ketinggalan mereka, partai-partai mereka ditinggalkan rakyat yang pada berlarian ke partai baru (kanan baru) yang mengutamakan kultur dan kepentingan nasional negerinya. Bagi partai-partai lama ini (kiri atau kanan) membicarakan kultur atau kultur nasional sangat TABU. Bagi mereka masih berlaku ’multikulturalisme’ yang sudah sangat busuk itu.

Proses ini tak ubahnya seperti orang Karo pada mulanya bikin gerakan KBB (Karo Bukan Batak). Perubahan orang Indonesia jauh lebih cepat dari perubahan otak orang Eropah. Sangat terlihat di Pemilu 2014 itu.

Lihatlah bagaimana partai-partai pada pecah menentang pemimpin-pemimpin mereka yang tak bisa berubah atau serek dalam perubahan dunia. Lihatlah bagaimana demokrasi di Indonesia berkembang jauh lebih maju dari demokrasi Barat yang pernah menjadi ’bapak demokrasi’ dunia. Ciri utama kemajuan ini ialah soal transparansi, sangat jauh di depan.

Foto Atas: Komunitas Karo di Belanda menampilkan Beidar Sinabung di Utrecht Indonesian Day (UID)2014  [Sabtu 13/9] (Foto: Ariyadi Wijaya)

Leave a Reply