Sada Team Apresiasi Grup Facebook JMS

1
211
elias pranata 1
Elias Pranata Purba

BRANDY KARO SEKALI. BERASTAGI. Acara diskusi dengan topik seputar gejolak anak muda Karo dalam pengembangan diri untuk melestarikan Kekaroan di Radio Gundaling 96.1 FM Berastagi tadi siang [Minggu 14/9: 14.00 – 16.00 WIB] menghadirkan Sada Team sebagai nara sumber yang diwakili oleh Elias Prananta Purba, Rheya Riboe dan David Haris dari pihak Radio Gundaling. Acara ini dipandu pula oleh Winda sebagai pembawa acara.

Melalui diskusi tersebut Elias dan Rheya memaparkan tentang perlunya generasi muda bergabung dalam sebuah wadah atau komunitas seni dalam rangka pengembangan kreatifitas mereka melestarikan seni dan budaya Karo. Seperti halnya Sada Team, merupakan salah satu komunitas anak-anak muda Taneh Karo yang selama ini sangat konsen untuk mengembangkan kreatifitas mereka dalam bidang seni dan budaya.

“Selain sebagai tempat pengembangan kreatifitas di bidang seni dan budaya, wadah atau komunitas ini juga bermanfaat untuk meningkatkan rasa kecintaan generasi muda terhadap kekaroan itu sendiri,” ungkap Elias.

Selain Sada Tema, beberapa komunitas seni kalangan generasi muda Karo yang sudah terbentuk, diantaranya Mejile Family yang dibentuk oleh Wisnu Bangun, Karonesia dan lainnya.

“Ini juga dapat dijadikan sebagai wadah pilihan sebagai tempat mengembangkan kreatifitas generasi muda yang dimaksudkan tersebut,” ujar Elias menambahkan.

Dalam kesempatan diskusi tersebut, Elias mengungkapkan apresiasinya atas keberadaan grup diskusi facebook Jamburta Merga Silima (JMS). Menurutnya bergabung di grup diskusi ini akan menambah wawasan kawula muda Karo untuk memahami arti kekaroan.

“Bergabunglah dan berdiskusi di dalam grup-grup karo khususnya JMS, maka ini akan menambah wawasan kawula muda Karo untuk memahami ‘Kekaroan’ itu sendiri,” ujarnya dengan semangat.

Di akhir diskusi, baik Elias, David Haris, dan juga Rheya sangat berharap generasi muda Karo dapat mengekspresikan dirinya dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat positif. Dengan begitu, generasi muda Karo terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif, seperti halnya pergaulan bebas yang semakin marak, Narkoba, judi dan lain sebagainya.

 

1 COMMENT

  1. Ini satu usaha konkret yang sangat bagus. Usaha cerdas dan ilmiah dalam mengantisipasi pembusukan Karo dan kulturnya, artinya pemusnahan Karo secara perlahan dan berjangka panjang seperti, judi, sexkomersial prostitusi yang menyebarkan HIV/AIDS, narkotika, miras, dan sangat berbahaya karena telah dimulai juga disekolah-sekolah. Usaha perusakan dan ‘pembunuhan’ berjangka panjang ini perlu diketahui oleh semua orang Karo. Penyebaran informasi perlu terus, offline dan menggunakan semua media online, seperti JMS dan Sorasirulo. Jadikan dua media ini sebagai media penyangga budaya dan survival Karo sebagai etnis utuh dan mandiri lengkap dengan daerah ulayatnya.

    Digemborkan selalu kalau Karo jadi daerah terbesar HIV/AIDS dan judi, sampai banyak anak-anak sekolh ‘ngisap lim’. Sambil berkreasi dan sambil terus bikin pencerahan. Duanya harus seimbang. Internet telah bisa digunakan untuk menyelamatkan Karo dari ‘pembusukan’ dan pembunuhan secara perlahan.

    Anak-anak sekolah belum bisa melihat sejauh itu, harus ada yang ‘menterjemahkan’ informasi yang terlalu komplex, seperti strategi besar orang luar Karo yang mau bikin ‘pembunuhan’ pelan-pelan. Karo penting untuk di’bunuh’ terutama darisegi kekuasaan, karena tanah subur dan SDAnya. Lihat di Aqua Doulu bagaimana orang-orang Batak membodohi penduduk setempat yang katanya itu semua ‘berkebetulan’. Tidak ada yang ‘berkebetulan’ dalam ethnic competition.. Disitu ada rebutan kepentingan antara etnis, bukan ‘berkebetulan’. Karo dan daerahnya harus bisa dikembangkan dan dimajukan oleh orang Karo sendiri. Jangan dibolehkan ‘berkebetulan’ orang lain atau kultur lain yang mengurusnya. Otonomi daerah itulah, melestarikan budaya dan kultur Karo, memakai kearifan lokal. Karo dan daerahnya tak bisa dibangun oleh orang-orang ‘berkebetulan’ harus mendampingi pembangunan Karo. Karo harus dibangun atas dasar kekuatan kultur dan way of thinkng Karo, tak bisa atas dasar kultur lain yang asing bagi Karo.

    MUG

Leave a Reply