Bahasa Ibu (Karo)

3
147

Oleh: Herlina Surbakti (Medan)

 

herlina 3 herlina 5Hidup belajar dan mengajar di tengah-tengah dunia internasional mulai dari kuliah di Fakultas Sastra tahun 1974 sampai 2011 dan kembali lagi ke Medan dan tinggal di rumah orangtua yang sudah tiada. Saya tidak menemukan masa lalu.

Semua sudah berubah. Lingkungan berubah bahkan makananya pun ikut berubah. Komposisi penduduk sudah sangat berbeda. Tetangga pe enggo kalak sideban kerina. E maka rende kerina tiap berngi.

Karena tidak pernah terkontaminasi oleh sistem masa lalu, maka saya masih mewarisi sifat-sifat kalak Karo yang saya peroleh dari kedua orangtua saya. Setelah absen dari penggunaan bahasa Karo selama berpuluh-puluh tahun ketika pulang ke Medan, saya tidak berbahasa Inggris ataupun bahasa Indonesia. Saya merasa saya di rumah sendiri dan, aneh memang, yang muncul di kepala saya cuma bahasa Karo.

Semua orang yang saya jumpai di USU saya ajak berbahasa Karo. Saya lupa, sementara banyak orang Karo yang merasa malu berbahasa Karo. Misalnya minggu yang lalu saya pergi ke dokter THT. Saya tahu semua pegawainya orang Karo. Ketika saya berbahasa Karo kepada salah seorang perawatnya, dia menjawab dengan bahasa Indonesia dan agak membentak. Saya sangat terkejut mereka memperlakukan pasien dengan sangat tidak hormat dibandingkan dengan perawat di Jakarta apalagi kalau dibandingkan dengan perawat di dunia Barat.

herlina 7Pada kunjungan saya yang ke dua, saya disuruh berbaring sambil menunggu pembersihan kuping saya ketika HP saya berdering. Rupanya itu dari teman saya yang tidak pandai bahasa Karo jadi mau tidak mau saya berbahasa Indonesia dengan sangat lancarnya. Rupanya si perawat mendengarkan percakapan saya. Dia berubah menjadi ramah dan mengatakan dengan bahasa Karo yang sangat fasih: “Kak, adi ndarat kam kari ula matekendu lampu e, ya?”

Begitu juga ketika saya berkunjung ke kabanjahe. Kalau saya bertanya kepada ibu-ibu maka mereka selalu menjawab dengan bahasa Indonesia.

Kenapa malu? Bahasa Karo adalah bahasa yang sangat indah dengan intonasi yang merdu. Kita harus bangga. Teman-teman saya mengatakan bahasa Karo mirip intonasinya dengan bahasa Itali. Sekedar informasi!

Saya hanya mau mengatakan kepada ibu-ibu Karo, agar anak-anak kita bisa berbahasa asing dengan baik dan benar maka seorang ibu harus mengajari anak-anaknya dengan bahasa Karo. Karena anak-anak yang bisa berbahasa ibu dengan baiklah yang akan sukses di dalam mempelajari bahasa ke dua, ke tiga dan seterusnya di dalam mempelajari empat ketrampilan berbahasa yaitu: Mendengar, berbicara, membaca dan menulis.

Mereka juga akan mempunyai identitas yang kuat. Di sekolah tempat saya bekerja, semua anak-anak yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris disarankan untuk berkomunikasi dengan anaknya dengan bahasa ibu.

Mejuah-juah!

3 COMMENTS

  1. @PJG, Kalau Si anak sudah berumur dari lima tahun tentu kemampuan bahasa Ibunya sudah mapan apalagi kalau anak-anak yang hidup di tanah Karo. Kalau seperti kasus anak bapak, apabila si anak sekolah dan baru belajar bahasa kedua maka si ibu bisa meneruskan bahasa pertama dan untuk tambahan dari pelajaran yang ada di sekolah maka si Ayah bisa berfungsi sebagai guru bahasa Itali. Saya yakin sekolahpun mempunyai program untuk membantu si anak. Kalau tidak mungkin guru native speaker bisa di undang kerumah dan biasakan si anak bermain dengan anak-anak lokal. Apakah bahasa pertama si ibu adalah bahasa Indonesia? Bujur, Mejuah-juah.

  2. “Di sekolah tempat saya bekerja, semua anak-anak yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris disarankan untuk berkomunikasi dengan anaknya dengan bahasa ibu”.

    Di Italia saya mengenal satu keluarga (bapak: italia dan ibu: karo) yang memiliki dua orang putri. Ketika putri pertama mereka lahir, si ibu mengajari anaknya berbahasa Indonesia. Sampai umur empat tahun si putri selalu berkomunikasi dengan kedua orangtuanya dalam bahasa Indonesia, sementara kedua orangtuanya berkomunikasi dalam bahasa inggris. Di luar rumah dia mendengar bahasa italia. Ketika berumur lima tahun dan si putri mulai masuk tk besar dia kebingungan dan menjadi sangat pemalu untuk tidak mengatakan penakut. Alasannya dia tdk bisa berkomunikasi dengan teman-temannya dan gurunya. Sejak itu guru sekolah menganjurkan kepada orangtuanya untuk memakai bahasa italia. Dan benar bahwa sejak saat itu kemampuan belajar si anak mulai meningkat.

    Bahasa ibu penting diketahui dan dipelajari namun hrs dilihat konteks dimana seorang anak itu tumbuh.
    Satu bahasa entah bahasa apapun itu bila dipelajari dengan baik dan benar akan membentuk kepribadian seseorang dan kemampuan berbahasa itu akan selalu menymbuhkan keingintahuannya untuk mempelajari bahasa atau hal-hal lain.

    Adi sekolah tutus ate sekolah, bagem nina sada lagu karo! Mejuah-juah man banta singoge ras si erlajar!

    PJG.

  3. “Karena anak-anak yang bisa berbahasa ibu dengan baiklah yang akan sukses di dalam mempelajari bahasa ke dua, ke tiga dan seterusnya di dalam mempelajari empat ketrampilan berbahasa yaitu: Mendengar, berbicara, membaca dan menulis.
    Mereka juga akan mempunyai identitas yang kuat.”

    Ini betul sekali bahwa bahasa ibu yang diperoleh gratis dan bisa menguasai juga dari segi kulturnya, anak-anak ini akan punya self-esteem yang sangat tinggi karena ada dasar tempat berpijak yang kuat, kultural. Anak-anak yang tak mengerti asal-usulnya, sering ditimpa kebimbangan seperti tak punya arah terutama dalam saat-saat keritis dimana dibutuhkan identitas yang kuat.

    MUG

Leave a Reply