Memberi Tanggapan Positif dengan Jujur

1
234

Oleh: Herlina Surbakti (Medan)

 

herlina 3herlina 4Ternyata, untuk bisa mememberi taggapan positif secara jujur terhadap kolega ataupun siapa saja memerlukan pelatihan sejak usia dini.

Sekolah-sekolah di Amerika maupun di sekolah internasional para guru sudah melatih anak-anak didik sejak usia dini untuk bisa memberi tanggapan positif terhadap presentasi dari teman-teman mereka. Seorang guru akan mendorong/melatih anak-anak didik untuk memberi tanggapan yang positif saja. Sebagai guru, sayapun ikut bertanggungjawab mengajar murid-murid saya untuk hanya memberi tanggapan yang positif ketika mereka dimintai masukan. Keterampilan memberi komentar positif ini memang harus dilatih sejak usia dini.

Memang, memberi komentar negatif sangat mudah untuk dilakukan sehingga tidak perlu diajarkan. Semua kita sudah bisa melakukannya secara alami.

Bagaimana dangan kita di Indonesia? Kebanyakan dari guru-guru kita memang jarang mengajak kita untuk member tanggapan positif saja terhadap hasil kerja teman sekelas. Mungkin juga karena sistem pembelajaran kita selama ini Feedback dari semua murid atas pekerjaan di sekolah belum pernah atau masih jarang dilakukan. Karena itu, banyak teman-teman saya guru yang mengatakan orang Indonesia semua saling dengki. Atau kita sendiri orang Karo mengatakan banyak di antara kita yang ACC.

Orang yang sudah dewasa mungkin agak sulit mengubahnya. Karena orang dewasa layaknya sebatang pohon tidak akan bisa lagi diluruskan kalau tumbuhnya sudah bengkok. Jadi, kalau memang ada diantara kita yang sudah mempunyai sifat ACC, setidaknya kita perlu menyadarinya. Mungkin kita bisa mengajarkan feedback positif yang jujur kepada generasi muda dan yang akan datang. Misalkan dalam pembelajaran “Cooperative and Collaborative” yang sangat tepat untuk diimplementasikan di kelas-kelas agar anak-anak didik siap menghadapi persaingan global sekarang ini.

Kita seharusnya tidak bersaing dengan saudara-saudara kita sesama orang Indonesia ataupun sesama orang Karo. Saingan kita adalah orang-orang dari negara-negara tetangga. Kita mempunyai sumber daya alam yang kaya. Tetangga kitalah yang banyak untung kalau kita tidak mampu. Contohnya, 36 tahun lalu saya bekerja mengajar Pengungsi Vietnam di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Setiap hari pasir diangkut dengan kapal khusus untuk membangun Singapura. Kabarnya, sampai hari inipun kegiatan itu masih terus berlangsung sehingga Kota Singapura sudah sangat berbeda dengan Kota Singapura 36 tahun lalu. Singapura telah berkembang ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga garis pantai kitapun semakin menyusut.

Untuk itu ,saya sarankan supaya anak-anak didik kita diajarkan dengan pembelajaran Cooperative and Collaborative Learning. Metode pembelajaran abad 21. Belajar saling mendukung dan melengkapi. Ini semua tercakup pada kurikulum 2013 apabila dilaksanakan dengan baik dan benar.

Mejuah-juah!

1 COMMENT

  1. Tanggapan yang positif dan komentar yang positif bagi anak-anak akan selalu imenghasilkan buah yang positif. Ini sudah jauh dilaksanakan dalam pendidikan anak-anak di eropah barat. Betul sekali memang kalau tanggapan atau komentar yang negatif tak perlu diajarkan karena datang dengan sendirinya secara alamiah. Dan datangya juga tak terkendali dan bikin kontradiksi. Walaupun kontradiksi adalah tenaga penggerak perubahan dan perkembangan, tetapi hal ini tak berlaku bagi anak-anak didik yang masih SD, SMP, akan tetapi diantara murid SMA yang akan segera ke Universitas pastilah teori kontradiksi ini perlu sekali terutama bagi siswa yang mengambil jurusan sosial/politik. Ditingkat pertama pelajaran sosial ini mereka bisa merenungkan kembali ‘kontradiks sosial’ ketika di sekolah-sekoleh SD,SMP, SMA. Dulu mereka tak mengerti secara hakiki, sekarang bisa menyimpulkan dari segi teori dan pengalaman yang dialami sendiri.

    Bagaimana mengajarkan tanggapan yang positif, bagi guru-guru Indonesia sekarang pastilah rumit, karena ini hal yang baru. Banyak halangan, kultural, maupun pendidikan guru sendiri tak pernah terpikir kesana. Pekerjaan cooperative dan collaborative tak akan pernah jalan kalau tak ada feedback positif dikalangan siswa, apalagi kalau yang ada hanya yang negatif.

    Satu lagi yang sangat penting (sesuai juga dengan perkembangan zaman ini) ialah bahwa tiap murid dilahirkan dalam kutlur tertentu yang terlihat didalam sikap dan way of thinkingnya sehari-hari, sekarang dinyatakan dalam introversi atau extroversi. Karena ini adalah kultural (gen dan DNA) maka disetiap daerah otonomi terlihat perbedaannya dengan daerah otonomi lain yang berlainan kulturnya. Begitu juga disekolah-sekolah yang campuran, umumnya murid-murid extrovert akan selalu menunjukkan diri didepan. Walaupun dalam soal pelajaran misalnya matetmatik, murid-murid introvert lebih didepan.

    Siswa introvert mengambil energinya dari ‘kesepian sosial’, mereka recharge batterinya dalam situasi demikian, Ini tuntutan alamiah bagi mereka. Tanpa itu mereka tak bisa hidup. Sebaliknya siswa extrovert mengambil energinya dari ‘keributan sosial’ juga tak hidup kalau itu tak dipenuhi. Ketika saya di SD ada teman erat saya orang Batak, sangat terkenal bukan hanya dikelas saya tetapi seluruh sekolah, kaena dia selalu bikin ‘keributan sosial’ seperti bikin perkelahian dengan siapa saja. Hampir setengah abad kemudian barulah saya mengerti persoalannya. Terima kasih kepad Carl Jung. Bagusnya ialah sekarang semua bisa baca Jung.

    Soal persaingan ekonomi dengan negeri lain mungkin untuk kita orang dewasa saja, anak-anak belum juga mengerti. Bermacam-macam persaingan memang, ada ekonomi, politik, ethnic competition dsb.Dan yang paling rumit ialah bahwa persaingan yang satu tak bisa dipisahkan dari persaingan lain, seperti ethnic competition denga ekonomi, dan politik. Kita sudah ada contoh dekat yaitu di Aqua Doulu, dimana orang-orang Batak berusaha mendominasi dengan alasan ‘mendampingi’ orang Karo. Soal ini tentu erat kaitannya dengan politik dan ekonomi.

    MUG

Leave a Reply