Hidup Bersama Skizofrenia

2
378

Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)

Ketua SMF Psikiatri RS.Dr.H.Marzoeki Mahdi Bogor

 

 

lahargo 1.lahargo 4.Pada setiap tanggal 10 Oktober, di seluruh dunia diadakan peringatan hari kesehatan jiwa sedunia (World Mental Health Day). Tahun ini tema yang diangkat adalah “Living with Skizofrenia” (hidup bersama skizofrenia), mencoba mengingatkan kita semua bahwa pasien dengan skizofrenia layak hidup bermartabat dengan kita semua.

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang membuat penderitanya sulit membedakan mana yang nyata dan mana yang khayalan. Saat ini ditemukan penyebab munculnya gangguan ini adalah adanya ketidakseimbangan zat biokimia di dalam saraf otak penderita. Beberapa hal yang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tersebut antara lain adalah : faktor genetik, mereka yang memiliki anggota keluarga yang menderita masalah/gangguan kejiwaan lebih rentan untuk terkena gangguan skizofrenia; adanya penyakit yang berat sebelumnya seperti kejang, penyakit tiroid, riwayat trauma kepala; penggunaan narkoba; situasi kehidupan yang berat yang menjadi stresor secara psikologis seperti adanya kekecewaan, keinginan yang tidak tercapai, kehilangan, dll.

Gangguan skizofrenia ditandai dengan adanya beberapa perubahan dalam sikap, perilaku, dan pikiran dari penderita, yaitu : adanya halusinasi (seperti mendengar suara-suara bisikan, melihat bayangan, mencium bau-bau, merasa ada sesuatu di kulitnya, merasa rasa-rasa di lidah yang semuanya tida ada sumbernya); adanya waham/delusi (keyakinan/persepsi yang salah seperti : yakin ada yang mau membunuh/ berbuat jahat, yakin ada yang memperhatikan, membicarakannya, merasa dirinya adalah sosok yang hebat dan punya kekuatan tertentu, cemburu/ curiga yang berlebihan); pembicaraan tidak nyambung/ ngaco (yang bersangkutan sulit memahami yang kita bicarakan demikian juga sebaliknya); emosi yang tidak stabil (kadang marah, bisa juga jadi mengisolasi diri, tidak mau bersosialisasi).


[one_third]mitos atau pendapat yang salah[/one_third]

Semua gejala di atas merupakan akibat dari proses kimiawi yang terjadi di dalam saraf otaknya. Beberapa mitos atau pendapat yang salah di masyarakat yaitu: Skizofrenia adalah penyakit kutukan, akibat santet, guna-guna, kurang iman, dibuat-buat harus mulai diganti dengan pendapat bahwa ini adalah penyakit medis yang bila diterapi dengan cepat dan tepat bisa memberikan kesembuhan yang diharapkan.

Hidup bersama dengan orang dengan skizofrenia bukanlah suatu hal yang tidak mungkin karena setiap pasien memiliki harapan untuk sembuh bila mengikuti strategi terapi yang diberikan.

Ada 3 pilar pengobatan skizofrenia yaitu : farmakologi (obat-obatan), psikoterapi (terapi dengan percakapan), dan rehabilitasi (mengembalikan fungsi-fungsi yang sudah hilang). Obat-obatan yang diberikan termasuk ke dalam golongan anti psikotik yaitu obat yang bila digunakan bisa menstabilkan kembali zat kimia di otak penderitanya.

Ada 2 golongan obat yang digunakan yaitu generasi lama dan generasi baru yang memiliki manfaat/ khasiat yang sama, hanya berbeda pada efek sampingnya. Pemberian obat anti psikotik untuk skizofrenia ini bisa dilakukan dengan beberapa cara yaitu : tablet dan sirup yang diminum, suntik jangka pendek, dan suntik jangka panjang. Psikoterapi adalah suatu bentuk terapi dengan percakapan, pasien-pasien skizofrenia membutuhkan suatu percakapan yang produktif dan konstruktif untuk merubah sudut pandangnya terhadap suatu hal sehingga dia bisa memiliki cara berpikir yang baru dalam menghadapi kehidupan.

Rehabilitasi memegang peranan penting dalam terapi skizofrenia karena pasien biasanya memiliki banyak disabilitas yang membuatnya tidak bisa menjalankan kehidupannya dengan baik, kemampuan mengurus diri, berkomunikasi, dan merencanakan sesuatu. Rehabilitasi terdiri dari berbagai upaya program yang memperlengkapi pasien dengan skizofrenia agar mampu kembali ke masyarakat dan berfungsi serta produktif dalam hidupnya. Beberapa terapi seperti latihan keterampilan sosial, latihan vokasional, psikoedukasi, remediasi kognitif, dll akan membuat pasien kembali pada fungsinya yang semula sehingga masa depan yang cerah bisa diraih.

Hidup bersama skizofrenia tidak hanya harapan bagi pasien yang menderita gangguan ini tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat. Mari kita wujudkan bersama hak-hak para penderita skizofrenia dan hidup bersama mereka dalam meraih harapan yang dicita citakan.

Salam sehat jiwa.

2 COMMENTS

  1. Semakin banyak pengetahuan soal ‘kalak adon’ ini, bagi rakyat biasa, semakin betul kita menghadapi ‘kalak adon’ ini. Masih sering tersebutkan bagaimana di Eropah sendiri caranya menghadapi orang ‘gila’ ini, termasuk ahli ahli psikologi/psikoterapinya ketika itu. Ada yang pakai listrik, orangnya menjerit-jerit kesakitan, tetapi tak sembuh juga. Ada yang diikat di satu roda dan rodanya diputar-putar sehingga orang ‘gila’ yang diobati itu semakin puyeng tak karuan. Pengobatan lama itu tak ada satupun yang berhasil karena tidak ilmiah seperti sekarang dimana sudah sampai diteliti ke genetik/DNA otak sipenderita. Sehingga bisa ditemukan obat yang sesuai atau cara menghadapi yang sesuai dengan perkembangan otak orang yang bersangkutan.
    Sekarang yang sangat diperlukan ialah informasi dan keadaan yang sesungguhnya dari ‘kalak adon’ ini sehingga rakyat tidak ‘salah’ menghadapi mereka. Itulah berkat kerja keras psikoterapi dan ilmu pengetahuan yang terus-menerus mendalami seluk beluk manusia, otaknya dan kulturnya.

    MUG

  2. Kebetulan sekali saya membaca topik tentang skizofrenia ini, mungkin banyak orang yg menganggap bahwa gangguan jiwa seperti skizoprenia adalah malapetaka bahkan aib, baik bagi si penderita maupun keluarganya. Tak jarang para pengidap skizofrenia mendapat perlakuan yg tidak semestinya bahkan disamakan dengan ‘kalak mereng’ (Orang Gila) dan seringkali terkucilkan dari komunitasnya, tak jarang juga malah di bully secara verbal (ini yg paling menyakitkan). Terima kasih untuk Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater) yang mengangkat topik “Living with Skizofrenia” ini sehingga dapat membuka mata dan hati kita terhadap para ‘Skizofrenian’ lainnya yang mungkin ada di sekitar kita. Mungkin jika ada kesempatan saya akan sangat senang sekali dapat berbagi pengalaman tentang ‘skizofrenia’ bersama Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater). Terima kasih.

Leave a Reply