Billy dan Baca

3
191

mindaOleh: Pdt. Mindawati Perangin-angin PhD

 

”Sekolah tanpa perpustakaan bagiku bukan sekolah. Pelajar tanpa buku bagiku bukan pelajar. Pusat dari sekolah adalah perpustakaan, bukan guru” (Minda Peranging-angin, 2004).

Pernyataan di atas adalah cuplikan dari tulisan saya ketika penerbit Gramedia meminta kontribusi beberapa orang untuk menuliskan pikiran mereka akan buku, sebagai puncak perayaan ulang tahun Gramedia yang ke 40. Kumpulan tulisan-tulisan itu diberi judul, Bukuku Kakiku.

Dan, sayapun senang, bukan karena banyak yang mengaminkannya, tapi karena Billy hidup di dalam pernyataan saya itu. Kalau saya dengan buku, tak usahlah diceritakan, tapi kalau Billy? Dia memang pernah berkata: “Mama, tolong jangan bawa pulang buku lagi ke rumah.” Itu dikatakannya karena rumah kami isinya hanya buku. Kalau ada kursi itupun karena malu hati jika tamu dating. Mau ditaruh dimana?

Mudah mudahan nanti ada rejeki, jika rumhnya besar, ada ruangan sendiri untuk menempatkan buku-buku itu. Cuma saja, kalau kami ke Gramedia atau Karsa Murni, Billy lupa apa yang dikatakannya. Lalu, ya, ia beli buku juga.

Semalam, sepulang Billy dari sekolah ia berkata, “Ma, Perpus sekolah sudah dibuka. Adek sudah bisa minjam buku.”

Setelah ganti baju, ia makan sambil menikmati buku bacaannya. Mamanya yang rindu berbicara tidak diopeni karena dia sibuk dengan bacaannya. Mamanya pun capek. Mamanya malah tertidur dan, ketika bangun, Billy sudah mandi dan masih terus baca. Walah, bagaimana caranya agar Mama bisa bicara?

“Dek, mama mau mandi. Setelah itu, kita keluar beli minuman dan snack untuk kita bisas santai nanti malam, ya,” mamanya berkata.

Di situlah Mamanya dapat cerita tentang olimpic fisika, kimia, sepuluh besar yang akan dipindahkan ke kelas A1.

“Adek kasih Mama buku fisika dan Kimianya biar kita belajar sama.”

“Besok saja, Ma, malam ini kita santai dulu.”

Ha ha, itu artinya nonton bersama sambil minum dan makan santai. Billy dan saya suka baca dan nonton.

“Ma, nanti beli film Lucynya itu. Dia bisa menggunakan brainnya seratus persen kan karena zat kimia.”

“Ya ya,:  saya bilang.

“But, you know, kita adalah anak roh dan kita adalah roh. Kita bisa menggunakan seratus persen otak kita tanpa zat kimia tapi pelatihan spiritualitas, dari roh kembali ke roh. Masih ingat Adek film yg kita tonton bersama rohnya keluar dari badannya dan berjalan, dan rohnya melihat badannya berbaring.”

Sepulang dari Amerika beberapa tahun lalu, saya membawa booklet dan dvd tentang ini. Di Manhattan (New York) ada institute tentang ini. Cuma, waktu itu saya harus pulang, Jadi, tidal sempat berdialog dengan Doktor-doktorny.

“Ya, iya, Ma.. nantilah jika sempat Adek tonton lagi DVD itu.”  Nach…

Sebenarnya tidak susah membuat anak suka membaca, suka belajar, suka berdoa, kalau dia selalu melihat Mamanya atau orang di dekatnya juga selalu membaca, selalu belajar dan selalu berdoa. Tidak percaya? Cobalah……

3 COMMENTS

  1. Pada dasarnya budaya Indonesia bukanlah budaya tertulis. Jadi kalau menulis memang tidak dibiasakan bagaimana kita bisa menjadi terbiasa dengan membacq? Apalagi di desa-desa di tanah Karo yang saya ketahui. Pada enam bulan terakhir ini saya mengajar anak-anak desa setiap hari minggu dikantor kepala desa. Saya melihat berkarung-karung buku-buku bacaan sumbangan dari PEMPROVSU semuanya “brand new” tak pernah ada yang menyentuhnya. Anak-anakpun tidak tertarik untuk membacanya. Saya sangat sedih melihat kenyataan ini. Kemudian saya menjelaskan keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki oleh anak-anak kalau ingin sukses dalam hidupnya. Salah satu diantaranya adalah orang yang “resourceful”. Lalu saya jelaskan bahwa salah satu sumber untuk menjadi orang yang resourceful adalah orang yang suka membaca. Pada akir kelas saya membuka satu karung buku yang ada di sudut ruangan lalu saya dan team saya membantu mereka memilihkan satu buku satu orang. Ada yang membaca tentang kehidupan Kucing, cara-cara untuk membuat bakso, dll. Pada hari minggu berikutnya setiap anak menerangkan tentang buku yang dibacanya. Hari itu kami cuma dapat membahas tentang dua buku. Ternyata anak-anak belajar banyak dari dua buku tersebut dan mereka melihat sipembaca menjadi sangat piawai untuk menjawab setiap pertanyaan dari teman-temannya. Dengan pengalaman ini mungkin guru-guru sekolah di desa dapat membantu memfasilitasi siswasiswa supaya mereka sadar dan mengerti mengapa mereka harus membaca. Sekarang tanpa saya suruhpun mereka sudah dengan inisitif sendiri membaca walaupun mereka tidak mempunyai access lagi kepada buku-buku yang ada di kantor kepala desa karena tidak ada yang mengelola dan tidak adanya rak buku.

  2. Pengaruh gelombang besar perkembangan dunia dalam soal mainan anak-anak sampai mainan orang dewasa (digital) bukan main dahsyatnya. Begitu dahsyatnya sehingga susah dicari terutama dikalan anak-anak yang kebal terhadap gelombang main ini. Bahkan HP juga digunakan, dan anak-anak hampir tak ada waktunya untuk yang lain selain sibuk dengan data mainannya.

    Di barat memang sengajaa diberikan ‘mainan’ biasanya untuk orang tua supaya lebih banyak waktunya untuk dirinya sendiri, tanpa gangguan anak. Jadi anak didik yang lebih suka membaca daripada main (digital, elektronik), sudah sangat jarang ditemui atau hampir tak ada lagi bisa dikatakan. Kecuali mungkin didesa-desa negeri berkembang yang masih belum mengenal perkembangan ini. Disini masih ada pergaulan sosial atau bermain bersama seperti masa lalu. Sangat jarang atau tak ada lagi dikota-kota.

    Ada satu usaha penguasa mengatasi hal ini, yaitu emenggiatkan kegiatan olah raga. Tetapi ini sering terbentur dengan biaya, dan sering hanya dalam cita-cita. Bahkan lapangan bola milik pemda setempat untuk kegiatan anak-anak banyak yang dialihkan dan dijual jadi perumahan yang mahal. Alternatif terdekat bagi anak-anak dan orang tuanya ialah ‘main’ yang murahan, atau berkeliaran dijalanan bikin onar atau copet. Ini jelas perusakan generasi muda. Dan untuk masa depan yang siap ialah orang tua yang memahami persoalan ini dan berani dan mampu berusaha menyiapkan anak-anaknya memilih jalan yang benar. Mereka ini nanti akan jadi elite dalam generasi mainan ini.

    Mungkinkah gelombang besar mainan ini ada positifnya?

    MUG

  3. Sangat menginspirasi melihat masih ada generasi penerus bangsa yang suka pada buku dimana diantara berjuta anak di Indonesia sudah mulai lupa dengan buku dan membaca dan lebih menyukai games baik yg console maupun yang online. padahal untuk membaca pada masa kini sudah banyak sekali kemudahan, mulai dari perpustakaan umum, toko2 buku sampai buku digital (digibook) yang aplikasinya bisa di download dan digunakan di smartphone maupun di laptop maupun di gadget lainnya yang mempeermudah kita untuk memperoleh dan membaca berbagai macan jenis buku (sayangnya kegiatan membaca dan menulis belum menjadi prioritas para pendidik dan pemerhati pendidikan di Tanah Karo sehingga kegiatan membaca dan menulis masih kurang akrab bagi kebanyakan anak dan remaja bahkan orang tua di Tanah Karo) mudah2an kisah Billy dapat menjadi inspirasi buat kita semua, terutama bagi para tenaga pendidik di Tanah karo khususnya… salut buat billy, u give us inspiration, tetap ‘suka’ membaca buku ya!… Mejuah-juah!

Leave a Reply