Cerpen: PINGGIRAN SURGA

0
138

Oleh: KempuRaja Lambing

 

“Demi cintaku aku Sudah banyak berkorban untuk kau, materi dari segala materiku, waktu dari segala waktuku, bahkan darah dari segala darahku sudah kuberikan padamu agar kau tau arti dalamnya cintaku padamu…”

“iya, aku tau…” jawabmu.

“Tapi mengapa kau ingin hubungan kita ini berakhir di sini? Bahkan baru saja kita bercumbu, berciuman, bergigitan, berjilatan dan tepat ketika kuingin menikam lukamu yang sudah menganga itu… tiba-tiba kau hentikan dan kau bilang STOP…”

‘iya, aku tau…” jawabmu.

“Tapi, mengapa kau ingin hubungan yang sudah kita bangun dengan penuh cinta selama tiga bulan ini berakhir di sini, sayang? Tiga bulan lalu, aku masih sangat menikmati hubungan ini walau hanya dengan menatap senyummu, menatap kau dan menyelidiki setiap lekuk tubuhmu ketika kau berjalan mendekat padaku bahkan aku menikmati keindahan tubuhmu dari belakang, menatap punggungmu, menatap bokongmu, menatap betismu. Bahkan aku menikmati rambutmu yang kau biarkan terurai dan bergoyang ke kiri dan ke kanan ketika kau berjalan menjauh meninggalkannku.”

“Iya, aku ingat…” jawabmu.

“Tapi, mengapa kau ingin hubungan penuh cinta yang sudah kita bangun dengan penuh asmara selama tiga bulan ini berakhir di sini, sayang? Dua bulan lalu, aku masih ingat ketika pertama kali aku memberanikan diri menyentuh jemarimu, mencoba merasakan sentuhan dari ujung jarimu yang seakan mengalirkan listrik tegangan kecil. Aku juga ingat saat pertama kali aku menggenggam tanganmu ketika kita berdua di bawah bulan yang tertutup awan menatap kosong ke lautan yang hanya hitam diiringi suara deburan ombak menepi dan merayap ke pasir pantai yang kau sebut kecupan laut pada bibir pantai  (entah apa indahnya saat itu tapi kau bilang kau suka…). Dan, aku masih ingat saat pertama kali aku memberanikan diri merangkul pundakmu ketika kali ke lima kita nonton bersama di bioskop yang pengunjungnya hanya beberapa saja, bahkan kadang hanya kita dan penjaga tiketnya. Saat itu kau sempat menatapku dan kita saling tatap agak lama. Aku sangat sadar betapa indah matamu bahkan di saat gelap di gedung bioskop itu aku bisa melihat bintang dan susunan tata surya. Bahkan jagat raya yang terdiri dari berjuta galaksi dan tatanan kosmik yang bahkan belum pernah ditemukan manusia bumi di matamu. Lalu, kau hanya bersandar di pundakku dan yakin kau tak melihat senyum bahagiaku saat itu.”

“Iya, aku ingat…” jawabmu.

“Tapi mengapa kau ingin hubungan penuh kasih yang sudah kita bangun dengan penuh kisah selama tiga bulan terakhir berujung di sini, sayang? Sebulan lalu, aku ingat hari dimana aku memakai sweeter coklat dan kau mengenakan kaos pink untuk pertama kali kau mengecup bibirku. Aku terkejut karena aku tak punya persiapan apa-apa saat itu. Aku hanya tau kalau rasanya seperti letusan kecil berjuta kembang api yang merambat dari ujung saraf bibirku dan mengalir ke pembuluh nadiku, mengguncang jantung di dadaku dan meledak bersamaan di kepalaku, meninggalkan rasa yang sampai saat ini masih kucari. Pencarian rasa itu yang membuatku ingin menngecup bibirmu sesering mungkin, berharap suatu saat di kecupan yang entah ke berapa aku dapat mengetahui rasa apa yang kurasakan dari kecupan bibirmu itu. Kau pernah bilang itu rasa coklat, tapi aku bilang itu rasa susu. Lalu, kau bilang kalau kau masih menyimpan yang rasa strawberry tapi kubilang aku tak suka. Lalu, kau tawarkan aku yang rasa cherry yang sampai saat ini membuatku tergila-gila. Rasa cherry dan susumu yang membuatku bersyukur telah pernah hadir di dunia ini. Kau pasti masih ingat saat aku mencoba mendesain kutang untukmu yang sesuai dengan ukuran tanganku.”

‘“Iya, aku ingat…” jawabmu.

“Tapi mengapa kau ingin hubungan jiwa kita yang sudah kita bangun dengan penuh nafsu selama tiga bulan terakhir berujung di sini, sayang? Aku pernah bilang kalau aku telah menemukan pasangan jiwaku di dalammu, dan kau juga mengamini itu. Kau bilang kau  tau bagaimana perasaanku karena kau juga merasakan apa yang aku rasakan saat itu. Dan, tiga hari lalu, kau bertanya apa aku ingin menyentuh pinggiran surga yang kujawab dengan anggukan lalu kau menutup mataku dengan selendang merah jambu yang wanginya seperti mawar itu. Lalu kau bilang kau telah membuka seluruh pakaianmu (tapi mana aku tau, mataku kau tutup pakai selendang merah jambu itu. Ya, aku tau itu wangi mawar. Tapi, apakah itu memang dari selendang itu atau dari aroma tubuhmu? Aku tak peduli lagi saat itu, karena aku buru-buru ingin menyentuh pinggiran surgamu itu. Kau kemudian menuntun tanganku, menyentuh bibirmu… Apakah itu pinggiran surga (?), tanyaku,  yang kau jawab ‘bukan’ sambil menempelkan bibirmu yang lembut itu menyentuh bibirku. Aliran listriknya langsung merambati ujung-ujung saraf bibirku. Kemudian kau kembali menuntun tanganku, menyentuh tengkukmu, lehermu lalu mengesernya sedikit lagi ke bawah. Apakah ini tepian surga itu tanyaku lagi, yang lagi-lagi kau jawab bukan. Lalu menempelkannya ke bibirku.  Seperti menyeruput secangkir coklat hangat, aku menikmatinya, ya awalnya aku tak setuju kalau itu rasa coklat, tapi itu rasa susu, tapi ketika kau menutup mataku dengan selendang merah jambu yang wanginya seperti mawar dari tubuhmu itu aku baru merasakan kalau itu rasa coklat dan… gigitan kecil strawberry…(ya aku tau awalnya aku bilang cherry…karena saat itu yang kurasakan hanya manisnya, tapi kali ini aku rasakan ada sedikit asam bercampur manis dan lebih basah dan berair dari cherry)… Ini benar rasa coklat strawberry kataku, sambil sekali lagi menyeruputnya seperti secangkir coklat hangat dengann gigitan kecil strawberry. (aku tau kau hanya senyum, walau mataku tertutup selendang merah jambu…  -kalian teruskan  sendirilah kelanjutan kalimatnya-). Lalu kau kembali menuntun tanganku, menyentuhkannya pada pinggulmu, lalu kau geser perlahan menyentuh pusarmu lalu kau gerakkan sedikit lebih ke bawah, dan aku terkejut… aku seperti menyentuh daguku yang belum dicukur selama tiga bulan. Aku masih diam dan hanya menggerakkan jariku sambil berharap kau akan menggerakkan tanganku lebih jauh lagi… Tapi, kau hanya diam saat itu. Kau kemudian mendekatkan wajahmu ke mukaku (aku tau kau mendekatkan wajahmu karena aku dapat merasakan hembusan nafasmu yang lebih hangat dari biasanya menyentuh pipiku). Itu baru pinggiran surga sedikit lagi bawahnya kau akan bertemu pintu surga katamu. Lalu aku mencoba menggerakkan tanganku lebih ke bawah, tapi kau menahannya lalu menempelkannya ke bibirmu sebelum kau kemudian menempelkan bibirmu ke bibirku, dadamu ke dadamu dan kakimu menginjak kakiku. Kau pasti tak tau kalau saat itu detak jantungku sudah tak beraturan dan aku sangat menikmati sentuhan bibirmu di bibirku dan dadamu di dadaku juga pijakan kakimu di kakiku yang menambah kuatnya gejolak rasa dan reaksi kimia di sekujur tubuhku. Kau pasti tak tau kalau semua adukan rasa itu bercampur menciptakan berjuta-juta warna rasa yang bahkan sebagian belum pernah kulihat dan kurasakan di dunia ini sebelumya. Dan, aku tau kau tak tau karena hanya aku yang kau tutup matanya dengan selendang merah jambu yang wanginya seperti mawar itu. Itu, apa kau masih ingat itu, sayangku”

“Iya, aku ingat…” jawabmu.

“Tapi mengapa kau ingin hubungan jiwa kita yang sudah kita bangun dengan penuh perjuangan selama tiga bulan terakhir berujung di sini, sayang? Atau kau sudah lupa empat bulan lalu, ketika kau kecelakaan di jalanan yang sepi itu. Aku mengangkatmu dan membawamu ke rumah sakit. Apa kau tau kalau di rumah sakit saat itu kau hampir kehilangan nyawamu karena terlalu banyak kehilangan darah. Aku satu-satunya orang yang memiliki golongan darah yang sama dengan golongan darahmu. Saat itu aku menyumbangkan setengah dari darah di tubuhku untukmu, untuk menyelamatkanmu dari kematian itu, sayang. Lalu sekarang setelah tiga bulan kita mulai menbangun hubungan ini kenapa tiba-tiba kau ingin akhiri?”


“Iya, aku tau itu semua, dan aku sangat banyak berhutang darah padamu, sayangku. Tapi, aku juga tak ingin hubungan cinta kita yang sudah kita bangun dengan penuh asmara, yang penuh dengan kisah dan penuh dengan nafsu serta  perjuangan selama tiga bulan ini terus berlanjut yang akhirnya menjadi hubungan cinta yang penuh siksa dan penyesalan. Karena, seminggu lebih awal dari pertemuan kita empat bulan lalu, seseorang telah merengut pintu surga yang kumiliki. Dan, aku tak ingin seorang laki-laki sebaik kamu memiliki pintu surga yang telah rusak dan ternoda. Dan, aku akan ingat dengan hutang darahku padamu, sayangku, akau akan membayar hutang darahku  dan setiap bulan mulai saat ini aku akan mencicil hutang darahku padamu, sayangku..” Lalu, kau meraih sebuah bungkusan plastik hitam yang memang sudah kau persiapkan dari awal dari dalam tasmu.

“Ini, ambil, ini cicilan darah pertamaku,” katamu sambil menuntun tanganku memegang bungkusan itu.

Aku hanya diam, sambil melihat kau mengenakan pakaian sehelai demi sehelai (aku juga masih menikmati memandang tubuhmu yang belum selesai kuselidiki itu sampai kini). Lalu kau beranjak meninggalkanku.

“Apa sebenarnya isi bungkusan yang kau sebut sebagai cicilan darah pertamamu ini?” tanyaku dalam hati sambil membuka bungkusan plastik yang aromanya seperti mawar di pinggir got. Setelah kubuka ternyata isinya sebuah Soft*X yang sudah dipakai…

Aku berlari mengejarmu menuju pintu, dan kau sudah berada di luar gerbangku…

“Aku akan menunggu cicilan selanjutnya, tapi dengan brand yang berbeda, ya” kataku yang kau balas dengan salam tiga jarimu…

“Hehehe….terimakasih untuk pinggiran surgamu, rasanya seperti jenggotku”

Leave a Reply