Bapak Pembangunan GBKP

0
152

Oleh: Robert Sinuhaji SE

robert 3Gambar ini mengingatkan saya pada kata-kata terkenal dalam fotografi: “A picture is worth a thousand words”. Sebuah gambar sama dengan seribu kata. Atau mungkin saja bisa menjadi ribuan kata kalau kenangan kita tentang sosok yang ada dalam gambar pernah menjadi idola.

robert 4

Ya, sosok dalam foto ini adalah pendeta Dr Anggapen Ginting Suka, pernah menjadi idola saya, dan saya percaya bahwa dia tentu saja menjadi kekaguman banyak orang mengingat apa-apa saja yang sudah dia lakukan sebagai garam dan terang dalam kehidupan ini, khususnya bagi gereja kita tersayang, GBKP.

Lihat saja foto itu, dalam masa usia senja (lahir di Deli Tua, 21 Mei 1932), dia masih saja tekun membaca. Menurut dokter Sri Diana Ginting Suka (anak ke tiga dari empat bersaudara), kalau AGS berkunjung ke tempat kediaman puterinya itu ke Jakarta, maka ruang ini adalah tempat kesukaannya. Di sini dia selalu membaca. Waktu baginya benar-benar merupakan suatu berkat berharga dari Tuhan yang tak disia-siakan.

Sepintas saya teringat sebelum saya bawa ceramah saat memperingati 500 tahun Calvinisme pada 2010 di Sentrum GBKP, Kabanjahe, AGS memberikan komentar kritis terhadap tulisan saya yang dimuat dalam harian Sinar Indonesia Baru bertajuk “Denominasi-denominasi Gereja, Kutuk atau Berkat?”. Dia menyampaikan kata-katanya dengan santun dan rendah hati. Saya tidak menyangka, dalam usianya yang sudah lanjut ternyata dia masih semangat mengikuti pemikiran-pemikiran orang muda tentang gereja.

Saya begitu semakin hormat padanya. Saya pikir, sosok yang bicara di hadapan saya adalah bukan orang sembarangan. Kita lihat saja sepintas biodatanya, antara lain: Ketua Moderamen GBKP (1966-1989); Ketua Umum DGI Wilayah Sumatera (1965-1973), Ketua Umum DGI Wilayah Sumatera-Aceh (1977-1981); salah seorang pendiri dan Ketua Pertama Yayasan Pendidikan Pekerja Gereja, yang merupakan cikal bakal Yayasan Abdi yang sekarang mengasuh sekolah teologia, STT Abdi Sabda, Medan; Rektor STT Abdi Sabda (1996-1998).

Dari berbagai sumber, khususnya dari putera sulungnya, Pertua Kolonel Dr. Alexander K. Ginting Suka yang pada saat ini sebagai Ketua Runggun GBKP Depok Lenteng Agung (2014 – 2019) mengatakan bahwa pelayanan AGS diawali dengan prakarsa membuat Kebaktian Minggu orang Karo di Jakarta sewaktu dia masih mahasiswa STT Jakarta (lihat buku Jubileum GBKP Sumur Batu Jakarta/ Klasis Jawa).

AGS juga aktif berperan pada periode pertumbuhan gereja di era Demokrasi Terpimpin/Orde Lama dan masuk ke era Orde Baru (lihat buku Frank L Cooley pada serie Benih Yang Tumbuh). Pada masa krisis tersebut, terasa sekali dampak penumpasan secara masif terhadap mereka yang dituduh G30S PKI.

Pertumbuhan GBKP pada masa Orde Baru dengan politik mayoritas tunggal di mana Pekabaran Injil dan semangat pembangunan gereja-gereja berlangsung dibentuk tenaga detaser, Parpem, dan relasi gereja dan masyarakat diimplementasikan.

Peranan AGS, seperti disebut dalam majalah teologia GBKP, Beras Piher, menyangkut program PPWG (Pusat Pembinaan Warga Gereja), PRT (Perkunjungan Rumah Tangga), pelayanan pekan-pekan dalam rangka konsolidasi jemaat dan pembinaan spiritual jemaat khususnya untuk jemaat pedesaan dan daerah setengah kota. Disebut juga, peranannya tentang penganugerahan gelar Pertua Diaken Emeritus di GBKP agar gereja melahirkan tokoh-tokoh informal gereja dan masyarakat sehingga secara perlahan identitas masyarakat Karo yang Kristiani dan Orang Kristen Karo menjadi sinergi dalam rangka menyampaikan Kabar Baik di masyarakat Karo.

Selanjutnya, untuk membangun jemaat yang missioner yang sejalan dengan Pancasila sebagai satu-satunya azas dalam berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, maka dibentuk program Parpem, panti asuhan Gelora Kasih, YKPC (Yayasan Kesejahteraan Penyandang Cacat), percetakan Abdi Karya, dan STT Abdi Sabda.

AGS juga ikut berperan membentuk kerja sama dengan gereja-gereja melalui CCA (Christian Conference Asia/ Persekutuan Gereja-gereja Asia), VEM/UEM (Vereinte Evangelische Mission/ United Evangelical Mission) Jerman, NZG (Nederlands Zenedeling Genootschap/ Pekabaran Injil Belanda), NCC (National Council of Churches) AS dan Australia dalam hal pertukaran tenaga gereja, bantuan sosial, pekabaran injil, dan beasiswa.

AGS juga menekankan betapa penting untuk mempertahankan tradisi Tata Gereja GBKP, yakni Calvinist, Presbyterial Sinodal, Alkitab adalah Firman Tuhan, dan inkulturisasi adat karo, tentu saja dengan melibatkan serayan-serayan (emeritus) sebagai orang-orang yang berdiri pada garis depan dalam hal menjunjung adat dan gereja.


[one_third]sebagai dosen, panutan, senior, dan tokoh ekumenis[/one_third]

“Bapak Pdt. Dr. A. Ginting Suka adalah “aset” gereja-gereja, khususnya gereja yang ada di Sumatera Utara. Pergaulan ekumenis beliau tidak diragukan lagi, termasuk partisipasinya dalam pergaulan antaragama di daerah ini. Suka duka dan dinamika kehidupan gereja di Sumatera Utara selama ini tidak terlepas dari peran beliau sebagai sosok yang kita hormati sebagai dosen, panutan, senior, dan tokoh ekumenis,” tulis Pdt. WTP Simarmata, Ketua Umum PGI Sumatera Utara dalam buku Memelihara Harta yang Indah (2006) yang merupakan kumpulan tulisan sebagai bentuk penghargaan dari sejumlah orang yang menaruh hormat kepada AGS.

Kalau kita melihat waktu lebih ke belakang, AGS adalah alumnus Sekolah Tinggi Teologia Jakarta (1958), mengikuti program magister di Yale University, Amerika Serikat (1962-1964), dan mengikuti program Doktor of Pastoral Studies, South East Asia Graduate School of Theology (1984-1990) dan meraih gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan.

Bagaimana peran AGS dalam keluarga? Secara ringkas bisa kita baca dari penuturan putera sulungnya, Pt. Alexander Ginting Suka.

“Beliau adalah ayah yang baik, toleran, pendidik, yang selalu menanamkan bahwa sekolah adalah investasi utama dan yang akan menjadi bekal dalam memasuki dunia nyata. Pemikiran ini yang mendorong beliau membuat GBKP memerogramkan beasiswa untuk mahasiswa non STT pada era tahun 60-80 an yang telah banyak menghasilkan kaum intelek,” ujarnya.

Tiada terasa, empat tahun berlalu sejak kami berbincang-bincang dengan AGS, hingga tiba pada 15 Mei 2014 (enam hari sebelum ultahnya yang ke-82), saya membaca tulisan di Facebook yang memberitakan bahwa AGS, bapak gereja yang kita hormati telah dipanggil Tuhan. Ya, Tuhan sudah memberikan waktu berlimpah kepada AGS hingga mencapai usia lanjut (82) dan tak pernah sakit-sakitan, tapi kepergiannya tetap saja membuat banyak orang terkejut dan seperti tak percaya.

“Saya seperti sulit menerima kepergian Bapak,” tulis dokter Sri Diana Ginting Suka via email menjawab beberapa pertanyaan saya.

“Pada waktu itu Bapak singgah ke Jakarta karena bapak mau jalan-jalan ke Hong Kong. Dan kami lihat Bapak sehat-sehat saja….”

Lalu, apa kata dokter yang merawatnya?

“Ada infeksi paru geriatri dan diabetes, yang membuat keadaannya semakin sulit untuk ditolong karena faktor usia,” jelas Sri Diana.

Pendeta Dr. Anggapen Ginting Suka meninggalkan seorang isteri, Rehulina br Barus, dan empat anak, yakni Pt Kolonel Dr Alexander K Ginting Suka, SpP, FCCP, Dr Rasmita Ulina Ginting Suka, Sp.A, Dr Sri Diana Ginting Suka, MARS, dan Ir. Abdi Dharma Ginting Suka.

Alkitab menyatakan: “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” (Ibrani 13:7). Dan bukankah ada juga kalimat terkenal yang menyatakan bahwa “bangsa yang besar adalah bangsa yang mengingat jasa-jasa pahlawannya”?

Kita sebagai warga gereja yang berdomisili di Sumatera Utara, dan GBKP khususnya, tentu saja tak akan melupakan jasa-jasa orang yang telah membangun gereja kita. Tak perlu diragukan lagi, seperti kata Pdt WTP Simarmata (sekarang Ephorus HKBP) bahwa Pdt Dr Anggapen Ginting Suka adalah “aset gereja” yang telah berjasa besar bagi gereja. Pada saat jemaat-jemaat menyampaikan kata-kata sambutan dan penghiburan kepada keluarga di rumah duka dan gereja, banyak orang yang menyebut Pdt AGS sebagai bapak pembangunan GBKP. Suatu momentum yang tepat sekiranya pada Sidang Sinode April 2015 mendatang kita memberi penghormatan yang layak kepada AGS berupa gelar Bapak Pembangunan GBKP.

 

Leave a Reply