Awas Narkoba Bisa Mengenai Siapa Saja

0
301

Dr. Lahargo Kembaren, SpKJ (psikiater)

Ketua SMF Psikiatri R.S. Dr. H. Marzoeki Mahdi (Bogor)

 

 

lahargo 1.Dunia kampus kembali dikejutkan dengan munculnya berita seorang guru besar sebuah perguruan tinggi ternama di Makassar ditangkap karena diduga menggunakan narkoba. Hal ini jelas mencoreng nama dunia pendidikan dan terlebih lagi menyadarkan kita betapa berbahayanya narkoba yang bisa mengenai siapa saja.

Pikiran sederhana yang muncul dalam benak kita adalah bahwa seorang pendidik (baca: guru besar) yang seharusnya tahu keberbahayaan narkoba bisa terjerumus ke dalamnya apalagi masyarakat biasa.

Narkoba merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat/Bahan berbahaya. Dahulu kala masyarakat juga mengenal istilah madat sebagai sebutan untuk candu atau opium. Selain Narkoba, istilah lain yang diperkenalkan khususnya oleh Departemen Kesehatan RI adalah NAPZA yaitu singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat adiktif lainnya. Semua istilah ini sebenarnya mengacu pada sekelompok zat yang umumnya mempunyai risiko yang oleh masyarakat disebut berbahaya yaitu kecanduan (adiksi).

Narkoba atau NAPZA merupakan bahan/zat yang bila masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi tubuh terutama susunan syaraf pusat/otak sehingga, bilamana disalahgunakan, menyebabkan gangguan fisik, psikis/jiwa dan fungsi sosial. Karena itu, Pemerintah memberlakukan Undang-undang untuk penyalahgunaan narkoba yaitu UU No.5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan UU No.22 tahun 1997 tentang Narkotika.

Jenis narkotika  yang saat ini banyak beredar antara lain adalah : morfin, heroin (putauw), petidin, termasuk ganja atau kanabis, mariyuana, hashis dan kokain. Sedangkan jenis Psikotropika yang sering disalahgunakan adalah amfetamin, ekstasi, shabu, obat penenang seperti mogadon, rohypnol, dumolid, lexotan, pil koplo, BK, termasuk LSD, Mushroom.

Di kalangan remaja dan pelajar juga saat ini sedang banyak beredar penyalahgunaan dextrometorphan (DMP), Tramadol, dan Triheksifenidil (Trihex). BNN (Badan Narkotika Nasional) mencatat ada sekitar 4,2 juta orang penduduk Indonesia yang mengalami ketergantungan NAPZA dan sebagian besar adalah remaja.

[one_third]Paling berbahaya adalah penyakit hepatitis dan HIV/AIDS[/one_third]

Gangguan fisik dan psikis yang ditimbulkan tergantung dari jenis zat yang digunakan. Semua efek yang ditimbulkan adalah efek negatif dan membahayakan. Banyak penyakit fisik yang bisa ditimbulkan oleh pemakaian Narkoba/NAPZA ini. Paling berbahaya adalah penyakit hepatitis dan HIV/AIDS. Gangguan jiwa seperti depresi, cemas/ansietas dan psikotik (gangguan dalam menilai realitas, muncul halusinasi dan delusi) bisa terjadi pada penyalahgunaan zat ini.

Keluarga berperan penting dalam pencegahan terjadinya ketergantungan zat ini. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah :

  1. Membangun ikatan emosi yang baik antara orangtua dan anak, perbanyak aktivitas dan komunikasi dengan anak sehingga anak akan merasakan bahwa di keluarga dia mendapatkan ketenangan.
  2. Mulai dengan segera untuk berbicara dengan anak tentang bahaya Narkoba/NAPZA, jangan sampai anak mendapatkan informasi yang salah dari luar
  3. Tentukan batasan yang tegas bagi si anak dalam perilaku dan pergaulannya sehari-hari, isi waktu anak dengan aktivitas positif seperti musik dan olahraga
  4. Segera lakukan penanganan apabila anak menunjukkan gejala gejala penggunaan Narkoba seperti prestasi dan nilai yang menurun, perubahan sikap dan perilaku, sering berbohong, dll
  5. Memperlihatkan pada si anak secara langsung apa akibat dari Narkoba akan membantu anak membangun benteng mental yang lebih baik. Hal ini bisa dilakukan dengan melakukan kunjungan ke tempat rehabilitasi/rumah sakit yang merawat pasien dengan akibat dari penyalahgunaan narkoba.

Narkoba bisa mengenai siapa saja tanpa memandang latar belakangnya. Melakukan  pencegahan adalah tindakan yang lebih baik mengingat sulitnya melakukan rehabilitasi pada pasien ketergantungan Narkoba.

Salam sehat jiwa !

Leave a Reply