Cerpen: Ma ….

0
170

Ma 2

 

Masih ada kata yang tersisa, belum terangkai sempurna. Karena itu aku masih di sini, sesekali sendiri, sesekali bersamamu sendiri, sampai suatu saat nanti kata terakhir terangkai sempurna, dan kau akan sendiri bersamanya, dan aku sendiri tanpa kau dan tanpa siapa-siapa.


[one_third]Berapa lama sisa waktu bagiku, sebelum hari esok berlalu dan layu, sampai tiada yang tersisa bagiku[/one_third]

Kerangka bangunnya sudah terikat, tetapi tungkai-tungkai penopangnya belum terakit. Tiga di bawah, dua di atas, lima segitiga lepas. Satu hilang tak berbekas, empat yang tersisa kurangkai satu-satu seperti yang pernah kukatakan padamu. Setelah itu aku akan sendiri, segitiga yang hilang, tak akan jadi bintang. Aku akan hilang seperti asap di udara, aku akan ada entah di mana, atau entah tak di mana-mana, atau mungkin di paru-parumu, di dadamu, diantara sel-sel darahmu, di sarapan pagimu, atau di sela-sela rambutmu yang berantakan saat kau bangun dari tidur lelapmu. Tapi aku akan berdiri sendiri, aku dan bayanganku, sendiri, tanpa kita, tanpa mereka, tanpa bintang dan tanpa siapa-siapa.

Bila kata terakhir sudah sempurna dirajahkan di tubuhku, maka aku hanya ingin dimandikan air matamu, dibelai lembut bibirmu, ditangisi senyummu yang duka tetapi bukan luka. Akhirnya, baringkan aku dalam hitam kusut rambutmu -sungai yang tak mengalir, tak berhulu hilir, yang menenggelamkan aku sampai akhir- yang pernah mengenalkan aku pada aroma surga.

 


[one_third]Aku membawa nyawa yang tak bernama, terkurung dalam tubuh yang fana, menanti untuk merdeka[/one_third]

Kata terakhir belum terangkai, saat ini baru dua yang terkait, namaku dan yang melahirkan aku juga yang kelak membentuk anak-anakku di dalam rahimnya. Ibu, asal dari darahku, usul dari nafasku dan asa dari hidupku.

“Ma, nyawaku, pernah berkeliaran di rahimmu. Membentuk bagian-bagian tubuh yang terus berkembang yang kelak kembali melebur di dalam rahim yang lain, di dalam perut yang lain. Lahirkan aku, kenalkan aku pada duniamu, pada dosa dan doa yang pernah diajarkan bumi padamu”.

“Ma, beratkah hatimu melepasku?”

“Ma, Aku ingin melamarmu, menjadikanmu mempelai wanita dalam pesta pernikahanku, menjadi ibu dari anak-anakku yang kau lahirkan lewat rahimmu yang suci itu. Memeras keringat untuk merawat mereka sampai mereka kuat dan tak melarat, sampai kita menjadi tua dan lupa, renta bersama di dalam gubuk yang kita anggap istana. Bersediakah kau menemaniku sebelum aku kembali ke tanah ibu, ke tanah asal nafasku?”

“Ma, bersediakah kau?”

 


[one_third]Jiwa yang terkurung sendiri tak lebih berarti dari mati, aku mau kau yang menemani jiwaku yang sepi ini, temani sampai nanti, sampai habis hariku di bumi[/one_third]

Tapi, rangkaian kata yang kutunggu belum juga sempurna walau aku bersamamu, Ma. Aku masih harus menunggu Ta atau Ti untuk meghampiriku. Ta atau Ti yang akan menyempurnakan sisa-sisa kata terakhir yang belum terangkai.

Ta, sebenarnya kau yang sangat kunantikan. Kuharap kau secepatnya datang, menghampiriku, sebelum Ti menjengukku dan merebutku darimu. Jika kau tiba, akan ada saat-saat yang indah untuk melihat dunia. Dan akan kubiarkan dunia melihat kita, aku Ma dan kau Ta. Aku ingin melihatmu telanjang dengan mata telanjangku, dan kau bercermin pada tubuhku yang tanpa sehelai benang. Ta, Berapa lama kita dapat melihat dunia ini memandang kita, telanjang tanpa apa, tanpa kaca, tanpa mengerjapkan mata. Ta, kuharap kau segera datang, sebelum senja, sebelum semua yang ingin kita lihat bersama kehilangan cahaya. Ta, aku tak dapat memberi banyak janji padamu, begitupun aku tak berharap banyak darimu. Karena kita takkan dapat berbuat banyak walau bersama. Hanya menatap langit yang beranjak senja serta mengucapkan doa-doa yang tak bersayap merangkak di cakrawala.

Ta, aku pernah berjanji mengajakmu melihat surga. Tapi itu tak mungkin, kau sendiri pernah meragukan itu. “Surga tak butuh mata” katamu ketika kita berdua di bawah langit yang jingga. Lalu kau memejamkam mata.

Kau masih ingat, saat jingga langit senja itu berubah menjadi jelaga, kau hanya terpejam, sedang aku tak dapat menerimanya.

“Kenapa harus protes, pejamkan saja matamu, kau akan melihat jingga langit senja di sana,” katamu coba menghiburku saat itu.

Tapi saat kupejamkan mata, aku hanya melihat hitam di cakrawala, karena cahaya yang kau sisakan saat terakhir kita bersama telah berubah menjadi jelaga. Ta, yang bercahaya bersama hari, yang menangis bersama air. Ijinkan aku bercermin, agar yang mengalir hangat di pipi dapat kuseka sekali lagi, agar senja yang jingga dapat kunikmati lagi, agar dapat kulihat tubuhku yang luka dan telanjang seperti saat aku dilahirkan dari rahim mama. Ta, apa kau melihat itu semua, apa kau juga merasakan itu semua? Ta, kumohon cepatlah kembali, sebelum keretaku berangkat, sebelum terlambat dan semua yang terjadi akan kusesali.

 


[one_third]Senja belum tiba, langit belum jingga, mimpi buruk mulai menjelma[/one_third]

Kurasakan angin dingin lembut meniup tengkukku. Betapa terkejutnya aku, saat kutoleh ternyata Ti sudah tersenyum di belakangku. Melangkah mendekat seperti matahari yang tenggelam merambatkan bayangan kelam.

“Apa kabar, Ma? Kamu pasti tak menyangka aku datang lebih cepat. Aku hanya ingin membuat kejutan buatmu. Apa kamu sudah siap? Sebentar lagi kereta kita akan tiba.”

Suara lembut Ti yang sangat merdu mendayu, terdengar menderu di telingaku. Badai menyerbu kepalaku, gerakku jadi kaku, sendi-sendi tulangku ngilu. Dingin yang isis menyelimutiku dari kaki sampai rambut kepalaku. Suasana alam mimpi yang penuh kabut kelabu memenuhi ruang dan waktuku. Aku terbelenggu, gagu, tak dapat lagi mengucap atau mengadu.

Ti, duduk di sebelahku, disibakkannya kerudung hitamnya, menampilkan rambutnya yang indah berkilau kelam. Matanya sendu merayu menatapku. Wajahnya yang ayu kemayu itu sebenarnya sangat menggodaku. Tapi aku belum siap untuk menerima Ti menemani kisahku, aku belum ingin berakhir di sini. Tapi, lagi-lagi, tak dapat kupungkiri, hanya Ti yang bisa menyempurnakan rangkaian kata terakhir yang kucari. Tapi seharusnya tak secepat ini, aku masih ingin mencari kata penggantimu Ti, aku masih ingin mengkhianatimu, pergi sejauh-jauhnya darimu, walau aku tahu cepat atau lambat kau pasti menemukanku.

Ti, kau memang mengejutkan. Seperti yang pernah dikatakan teman-temanku bahwa kau pasti datang dengan mengejutkan tanpa diundang, tanpa ada janji di depan, bahkan tak diduga tanpa aba-aba kau sudah meraba-raba. Sepertinya kau memang benar-benar tak mau tahu siapa yang sedang menunggu, siapa yang ingin kau jenguk dan kau jemput untuk pergi bersamamu. Kau tak pernah mau tau mereka sedang menunggu siapa, kau tak pernah peduli mereka siap atau tidak. Di satu sisi aku mengagumimu, karena ketidakacuhanmu itu. Tapi di lain sisi aku merasa kau terlalu egois, kau hanya lakukan yang kau mau, tanpa mau tau apa yang orang lain inginkan. Ah… tak apalah, kau memang harus begitu, cepat atau lambat, berlari atau berjingkat kau pasti akan datang dan mengikat.

Kulirik Ti yang memandangku dengan senyumnya yang lebih manis dari madu, lebih memabukkan dari anggur atau arak manapun. Separuh nyawaku terpukau bibirnya yang bergaris halus. Apalagi kalau aku sampai dikecup bibirnya yang merah darah itu, pasti mati aku. Dan aku tau kelak itu pasti terjadi. Ti mendekatkan wajahnya ke pipiku, aku ingin menjauh tapi Ti menahanku.

“Kereta kita akan segera tiba, bersiaplah sebentar lagi kita akan pergi,“ bisiknya bagai membelai telingaku, memukauku yang terbenam dalam dekapannya. Aku hanya ingin merdeka, walau bagaimanapun caranya. Mungkin Ti adalah jawabannya.

 


[one_third]Kumemandang langit yang lelah menatapku, kualihkan mata ke laut yang merayu, kuterpejam di atas tanah yang memelukku[/one_third]

Seperti suara ombak menampar pantai, kereta itu menderu mendekat. Suara peluit menjerit tiga kali, suara menderit dari besi yang terjepit, suara helaan nafas, dan kereta itu berhenti persis di depanku dan Ti. Dia sepertinya senang sekali, kulihat matanya berbinar indah.

Pintu peron terbuka, pintu yang kira-kira dua kali satu meter itu berwarna hitam. Aku melihat kereta yang hanya memiliki satu peron itu, aku enggan memasukinya. Ti menarik tanganku lembut, menarikku memasuki peron itu. Panas dan sejuk bersatu menyerbu masuk ke tubuhku. Aku berusaha menolak tarikan tangan Ti, tapi tak ada lagi tenaga yang tersisa walau hanya untuk sekedar bertahan.

“ Ma…sebentar lagi kita akan bersatu,” Ti berbisik lembut padaku ketika kami memasuki kereta itu. Aku bisu.

Hanya aku dan Ti di dalam kereta itu. Lampu-lampu padam, gelap gulita membungkus kami. Kereta senja yang gelap itu mulai menderu, tak ada suara lain selain itu. Sunyi sekali di dalam, bahkan suaraku pun tenggelam. Aku hanya diam terpejam, sampai Ti mengecupku. Bibirnya yang dingin menyentuh pipiku, lalu merambat ke leher dan berakhir di bibirku. Kami bersatu di kereta senja itu, tanpa cahaya, tanpa bahasa, tanpa suara, tanpa apa. Hanya desah kereta yang menderu, menderu tanpa henti, tanpa perhentian.

“Ma…” Ti membisikkan keheningan dan memelukku, mendekapku erat sekali. Dengan bibirnya yang dingin dan berbisa itu dia mengecupku lagi. Itu kecupan terakhir yang kurasakan, karena setelah itu aku tak merasakan apa-apa di bibirku, dari bibirku kebekuan merambat pelan ke leherku, ke dadaku, ke perut bahkan mengalir ke kaki dan tanganku. Beku dan gelap bersatu membalut seluruh tubuhku, memadamkan cahaya api mataku. “Ma,” Ti mendesahkan rayu di telingaku yang tak dapat kujawab, karena memang tak bisa lagi menjawab, sebab sudah terjawab.

Sebenarnya masih ada harapanku yang tersisa sebelum kata terakhir ini selesai terangkai. Aku ingin kau mau duduk diam sebentar bersamaku membawakan selembar waktu untuk kita warnai dengan kata, sampai lelah, sampai mataku berair, sampai hatimu mencair dan kita saling mencari lagi dalam pertemuan kita di hari-hari yang kisah. Sampai cerita kita berakhir bersama garis keriput tua yang sama-sama mengukir wajah kita dengan waktu yang malas berlalu. Kuharap kau mengerti maksudku, sebelum aku kembali ke asalku.

“Ti…”

 

KempuRajalambing – F# ( april ’04 )

Leave a Reply