Sesat Logika KBB

2
182

Oleh: Boby Rahman Ginting

Kata manuk merujuk kepada burung/ayam hampir dikenal di seluruh Indonesia kecuali rumpun bahasa Polinesia (Papua). Tentu tidak ada yang akan mengatakan berarti cuma ada satu suku di Indonesia.

Beberapa kata atau adat istiadat yang sama tidak menandakan bahwa semua pasti sama. Kita merayakan persamaan dalam beberapa hal, namun kita banyak merayakan perbedaan juga.

Pengusung anti KBB mengatakan sesat logika pertama: Kalau beberapa sama, maka yang Karo adalah Batak. Karena kita punya banyak hal kesamaan dengan Batak, layak Karo menjadi bagian Batak, kata mereka.

Kalau mencari tahu tanpa prasangka, maka harus bertanya. Bisa ditanya kenapa bisa sama? Faktor wilayah yang dekat bisa jadi alasan mereka bergaul dan saling menukar perbendaharaan kata. Kedekatan membuat banyak perbendaharaan kata menjadi mirip. Tapi tetap saja tak sama. Antara Batak dan Karo tetap tak mampu saling berkomunikasi dengan bahasa masing-masing ketika bertemu.

Semakin menarik ketika bahasa Karo terlihat mirip sekali dengan bahasa suku Gayo. Lalu, mengapa Suku Gayo tidak dianggap Batak? Apakah karena daerah mereka terletak di Aceh dan sudah pasti beragama Islam? Kalau sudah begitu, Batak dan non-Batak mau dimainkan berdasarkan agama? Meski lebih dekat secara bahasa, ternyata tidak ada klaim Karo Gayo atau Gayo Karo. Keduanya sejajar.

Logika sesat lainnya: Jika Karo bukan Batak, maka dianggap membuat perpecahan. Ini salah karena Karo dan Batak sejak dahulu tidak pernah bersatu secara budaya. Sesuatu yang tidak pernah bersatu, bagaimana bisa terjadi perpecahan/perceraian?

Tidak pernah ada persatuan suku sepanjang Bukit Barisan apalagi mengangkat bendera Batak, mengaku berbahasa Batak satu, mengaku tanah air Batak. Bahasa paling gaul di Asia Tenggara ini adalah adalah bahasa Melayu. Tapi, toh tidak serta merta semua orang jadi Suku Melayu. Ada pula yang mengatakan, begitu banyak berserak tulisan orang Eropa menulis Batak Karo, jadi pastilah benar Batak Karo. Jadi, karena telah dikatakan oleh orang Eropa sudah pasti benar?

Adi la banci ipehulindu, icedai gia ula.

2 COMMENTS

  1. Karo is special Identity for Karo People. We are Karo we are not batak, we may small part of this big world but we fill the world with our special Karo culture, Karo language and Karo custom and all our “Kinikaro’n”. We proud to tell the World that we are proud to be Karo people, we are not batak !. Mejuah Mejuah,bless from Karo land!
    FYI (Karo Is Not batak or other… we are different, so whats the problem?)…

  2. Jarang memang kita dengar kalau Gayo (dan juga Alas) dikatakan sebagai Batak. Tetapi ada seorang antropolog orang Batak namanya Amir Nadapdap memasukkan Gayo dan Alas juga ebagai Batak. Kedua suku ini juga jadi Batak Gayo dan Batak Alas. Orang Aceh mengatakan Aceh Gayo dan Aceh Alas. Disini jadi ‘rebutan’ antara orang Aceh dan orang Batak.

    Sekarang dan sudah dimulai dengan era reformasi, orang Gayo dan orang Alas tak mau lagi disebut sebagai sub-etnis Aceh, mereka tak mau disebut suku Aceh-Gayo atau suku Aceh-Alas. Apalagi dikatakan suku Batak-Gayo atau Batak-Alas.

    Orang Gayo dan Alas begitu juga orang Singkil ingin pisah dari Aceh bikin propinsi sendiri bernama ALA. Begitu juga di daerah barat ingin bikin propinsi sendiri bernama ABAS. Ketika GAM berkuasa, daerah-daerah ini tak berani bergerak karena diancam dengan senjata oleh GAM.

    Dalam perjanjian Helsinki ada pasal yang dimasukkan oleh GAM yang sangat merugikan pemekaran ini, yaitu Aceh tak boleh dimekarkan. Pusat tertipu kektika itu, karena pusat tak mengerti kalau di Aceh ada banyak suku-suku yang tak mau bergabung dengan GAM dan orang Aceh. Sampai sekarang mereka mengancam pusat dengan MoU Helsinki itu kalau ada yang mau mekar pisah dari Aceh dan GAM.

    Orang Gayo menentang keras pengibaran bendera GAM didaerahnhya dan tetap ingin bikin propinsi sendiri. Tetapi pusat sudah terjebak dengan MoU Helsinki, karena kebodohan pusat soal daerah-daerah berbagai kultur. GAM memanfaatkan kebodohan pusat soal suku-suku asli di Aceh, pusat taunya hanya ada suku Aceh di NAD.

    MoU helsinki ditanda tangani tanpa pemberi tahuan atau persetejuan suku-suku lain selain suku Aceh. Padahal lebih dari 70% daerah NAD dimiliki oleh suku-suku asli ini yang bukan suku Aceh seperti Gayo, Alas, Singkil, Tamiang, Semelue, ABAS dan sebagian orang Karo di Aceh Tenggara.

    MUG

Leave a Reply