Cerpen: LITTLE KING

0
162

king 3“King, apa kau sudah menemukan ibumu?”

“Belum, bang. Sudah tiga hari aku cari ke semua tempat yang biasa didatangi ibu, tapi  gak nemu juga, bang.”

“Mungkin ibumu gak ke tempat yang biasa, King. Terahir kulihat dia jumat lalu pergi naik taksi. Katanya mau ketemu pelanggan baru. Waktu itu ibumu pakai baju baru yang ungu hadiah lomba dangdutan se-RT itu, King”

“Tapi setauku ibu sudah punya langganan tetap kalau di hari jumat, bang. Itu bang, orang partai yang sering muncul di iklan tv itu.”

“Ya sudah King, tidur sana. Besok kau cari lagi sembari mulung, mana tau ibumu dibooking seminggu full sama orang partai. Biar entar kalau pulang bawa uang banyak buat beli sepeda untukmu.’

“Iya bang..” sahut Ceking dengan tawa kecilnya kemudian membetulkankan posisi celananya yang nyamping lalu membereskan kardus-kardus di atas bale bambu  dan  kemudian membaringkan diri dengan selimut spesial dari kain bekas spanduk partai.

Sedang aku masih duduk dengan kepulan Gudang Garam Surya  dan secangkir kopi ABC yang tadi kuhangatkan di atas tungku batu tempat biasa kami memasak air minum atau membakar ikan asin.

“Bang, ini bang… ada gambar ibu di koran ini bang. Ini kan baju hadiah juara dangdutan se-RT itu bang.”

Ceking membangunkanku di sore yang mendung itu sambil menunjukkan secarik koran bekas yang didapatnya entah dari mana.

“Iya King, ini persis baju ungu hadiah lomba dangdutan se-RT yang dipakai ibumu seminggu lalu itu…” kataku sambil tetap memperhatikan gambar wanita setengah telanjang dengan tato mawar di dada kirinya di koran yang memberitakan tentang seorang wanita tanpa identitas ditemukan sudah tak bernyawa di kamar salah satu hotel di kota tempat kami biasa mencari barang bekas ini.

“Itu kan bang, kubilang seminggu bakal nemuin ibu kan bang… tuh buktinya,” ucap Ceking ringan membuyarkan konsentrasiku membaca berita tentang ibunya

Kutoleh ke arah  Ceking yang mencoba tak menunjukkan sedih, bahkan dia mencoba membendung airmata yang hampir tergelincir ke di pipinya yang berdebu dan berusaha tersenyun dengan dagu yang bergetar.  Walau Ceking hanya tetangga kecilku sekaligus rekan seprofesiku sesama pemulung, tapi kami tau, kami harus berusaha untuk tetap tegar dan tetap hidup sampai besok dan besoknya lagi. Hanya itu yang kami punya sekarang, hanya hidup saja.

KempuRajalambing- F# (111014)

Leave a Reply