Acara Kuliner TVRI Nasional Sadar KBB

1
406

tvriBRANDY KARO SEKALI. MEDAN. Pagi menjelang siang hari ini [Selasa 2/12: 10.30 – 11.00 WIB], TVRI Nasional menayangkan Acara Kuliner dengan berbagai ulasan mengenai makanan tradisional Karo yang diantaranya adalah Umbut Ayam Kampung dan Jong Labar.

Umbut Ayam Kampung disajikan dalam pesta-pesta adat Karo. Menurut pembawa acara, masakan ini terasa entabeh atau ‘sangat enak sekali’ dalam bahasa Indonesia.

Adapun pada ulasan mengenai Jong Labar, pembawa acara menyebutnya sebagai “kue khas asal Tanah Karo yang berbahan dasar jagung muda”.


[two_third]memahami mana lagu-lagu Karo dan mana pula yang bukan lagu-lagu Karo[/two_third]

Yang paling menarik di acara tersebut, backsoundnya diiringi oleh lagu-lagu Karo yang salah satunya adalah Odak-odak. Ini menandakan bahwa media-media nasional sudah mulai memahami mana lagu-lagu Karo dan mana pula yang bukan lagu-lagu Karo. Sebagaimana sering kita temukan tayangan-tayang di televise nasional menggambarkan orang Karo atau wilayah Karo tapi lagu backsoundnya ternyata lagu-lagu Batak. Demikian juga di media-media cetak maupun media online yang memberitakan tentang sebuah peristiwa yang terjadi di Karo tapi menuliskan bahasa lokal dalam bahasa Batak seperti halnya kata boru untuk yang seharusnya beru atau ulos untuk yang seharusnya uis atau uis gara.

“Terserah bila seseorang memandang bahwa Karo itu bagian dari Batak atau tidak, tapi perlulah disadari ada yang lagu Karo dan ada yang bukan lagu Karo entah apapun namanya. Demikian juga kata beru dengan boru ya jelas bedalah. Satu mendandakan dia orang Karo dan satunya lagi menandakan dia bukan orang Karo entah orang apapun dia. Coba bayangkan kalau seseorang dinamai Reh Malem boru Karo Sekali. Mengapa tidak ditulis dengan beru saja?” papar Pa Sukat yang tinggal di Medan ketika Sora Sirulo menanyakan pendapatnya tentang seringnya salah kaprah penulisan tentang Karo di media.

Lain lagi halnya dengan Unjuk beru Ginting di Jakarta ketika dihubungi oleh Sora Sirulo lewat facebook.

“Pernah ada sebuah televisi nasional menyiarkan tentang wisata Taneh Karo. Saya sudah senang melihat pemandangan kuta kemulihen. Eh, tak taunya muncul lagu Batak Inang sebagai backsoundnya. Lngsung tak soor lagi aku melihat gambar-gambar Taneh Karo. Orang memang bukan itu lagunya,” tutur Unjuk.

1 COMMENT

  1. “Coba bayangkan kalau seseorang dinamai Reh Malem boru Karo Sekali. Mengapa tidak ditulis dengan beru saja?”

    Ngomong soal Karo atau tanah karo patutnya memang ngomong yang betul Karo, lagunya maupun bahasanya. Apalagi kalau ngomong soal kuliner Karo tapi lagunya lagu Batak, atau beru Karo dibilang boru Karo sangat tak nyaman rasanya.

    Kalau Putnam bilang saling tak percaya kalau banyak etnis, dalam soal ini adalah soal tak nyaman. Putnam tak bilang soal ini (soal tak nyaman sesama etnis) tetapi soal kenyamanan ini ada dan patut jadi perhatian semua pencinta kultur. Jangan kuliner karo atau adat karo dengan lagu lain bukan lagu Karo.
    Tak nyaman kalau begitu.

    Kesadaran soal KBB semakin meningkat, betul seperti dianalisa BKS. Semua hasil peningkatan ini jelas adalah karena jerih payah orang Karo sendiri yang selama ini telah dengan giat menggunakan dan memanfaatkan INTERNET sebagai saluran pencerahan ke jutaan orang.

    Banyak orang diluar Karo sudah mengerti pencerahan ini, dan banyak bukti kita lihat sendiri, tak sembarangan lagi orang bilang kalau kita orang Batak. Orang Batak sendiri semakin banyak yang mengerti dan sungkan bilang kalau kita orang Batak atau termasuk Batak. Tetapi mereka masih lancang ngomong sama orang Karo yang masih ragu jadi Karo 100%. Terutama kalau pakai alasan klasik bahwa orang Karo masih tetap memakai istilah ‘batak’ digerejanya. Itu katanya sebagai bukti bahwa orang Karo adalah Batak atau orang Karo masih tergantung atau tak terpisahkan dari rumpun Batak. Padahal orang Karo sudah ada di Sumatra sejak 7400 th lalu sedangkan orang Batak baru datang 2500 th lalu menurut Bungaran Simanjuntak walupun menurut erkeolog Ketut Wiradyana orang Batak baru datang ke Sumatra sekitar 700-800 th lalu.

    MUG

Leave a Reply