Kolom M.U. Ginting: Pemerasan TKI

0
192

tki 2M.U. GintingSudah lama bandit-bandit TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ini merajalela, sejak pengiriman mereka dan juga ketika ketibaan mereka di Bandar udara. Kejadian ini sudah terjadi sejak semula pengiriman TKI dan PRT (Pembantu Rumah Tangga) ke luar negeri. Belasan tahun sudah lamanya.

Sayangnya, presiden-presiden sebelumnya tak ada perhatiannya ke situ atau tak menggubris sama sekali. Jokowi ingin mengubah suasana yang sangat menyedihkan dan juga memalukan ini. Bandit-bandit ini harus diberantas dan diselesaikan sampai ke akar-akarnya jangan ada lagi pemerasan TKI. Akar-akarnya tentu saja pegawai-pegawai negara pada tempat-tempat tertentu, terutama lapangan terbang dan penanganan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri.

Berita ini harus selalu disiarkan sampai nama-nama para banditnya diumumkan di internet. Tanpa menggunakan internet susah memberantas kejahatan apa sajapun, tak akan berhasil. Tetapi, dengan menggunakan internet dan mengumumkan seluas mungkin, akan makin sempit dunia kejahatan ini. Ruang geraknya akan sangat berkurang, semakin sempit. Mereka bisa memikirkan cara yang lebih tinggi, tetapi semakin banyak yang membuka, kalau jutaan rakyat yang membuka dan membelejeti tak mungkin ada bandit yang mengalahkan atau menguasai suasana demikian.

[two_third]banyak juga jumlah orang-orang tak waras[/two_third]

Internet mengubah semua kelakuan dan semua pikiran. Internet pendorong perubahan ke arah yang sudah pasti, dunia lebih adil dan manusia lebih waras. Walaupun juga harus disebutkan bahwa semakin banyak juga jumlah orang-orang tak waras karena pengaruh obat-obatan, pengaruh duit atau sex, yang mengakibatkan kejahatan pencurian, perampokan dan pembunuhan yang semakin bertambah terus di mana-mana. Sebaliknya keuntungan besar-besaran yang diperoleh dari industri obat-obatan ini telah membikin usaha-usaha dunia mengurangi pengaruh obat-obatan ini selalu kalah.

Jadi, kontradiksinya ialah KERUGIAN besar-besaran yang diakibatkan oleh industri ini dan KEUNTUNGAN besar-besaran yang dilahirkan dari situ. Penyelesaian suatu kontradiksi barulah mungkin kalau ditinjau dari segi-segi bertentangan yang terdapat di dalamnya. Dominasi kontradiksi ialah KEUNTJUNGAN BESAR. Jadi, soalnya ialah, bagaimana supaya keuntungan besar-besaran itu bisa lenyap.

Salah satu solusi yang menarik ialah industri ini dibebaskan berjalan tanpa larangan atau pembatasan. Tiap manusia dan tiap keluarga diberi kepercayaan menilai sendiri kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Tak perlu ada badan atau otoritas penasihat bagi seseorang atau suatu keluarga bahwa narkoba tak baik. Tiap manusia dilahirkan sama pandai dan sama otak untuk bisa hidup normal, terhormat dan berintegritas. Tiap orang mampu memilih agama atau memilih istri atau suami, tak mungkin tak mengerti atau tak mampu memilih narkoba atau tak memilihnya.

Dengan kebebasan ini pada mulanya akan banyak yang mati (korban) karena narkoba ini, tetapi narkoba semakin tak berharga (untung semakin kecil) dan industri ini akan lenyap berangsur dengan sendirinya. Pengalaman menunjukkan bahwa larangan-larangan itu telah memberikan keuntungan luar biasa bagi industri narkoba itu, atau mereka inilah yang menginginkan larangan terus bisa berlangsung karena keuntungan semakin banyak, harga semakin tinggi.

Pengalaman lama USA, larangan miras (minuman keras) bikin untung besar bagi pedagang miras. Lalu, larangan ditiadakan, tak ada untung besar lagi dan miras jadi ’normal’. Pembebasan narkoba ’ringan’ di Belanda merupakan usaha ke arah itu. Tetapi tak seberapa pengaruhnya karena keuntungan besar ialah dari narkoba ’berat’.

Bebaskan narkoba, dan sebarkan terus pencerahan bahaya yang diakibatkan narkoba serta penelitian kimia yang semakin tinggi atas bahan narkoba.

Leave a Reply