Lau Simalem Terisolir: Anak-anak Belajar Hanya dengan Lampu Teplok

0
124
lau simalem terisolir 3
Seorang bapak memperhatikan anak-anaknya belajar dengan menggunakan lampu teplok.

Supir KPUM 23 Sukses Perawani Pacar di Malam Tahun BaruIMANUEL SITEPU. SIBOLANGIT. Di saat Pemkab Deliserdang menggaungkan pembangunan di segala bidang, ternyata masih banyak warga yang terkucilkan. Seperti halnya yang dialami warga Dusun Lau Simalem, Desa Ujung Deleng (Kecamatan Sibolangit) yang  bermukim di bagian hulu Deliserdang ini. Mereka mengeluh karena sarana jalan, layanan kesehatan dan pendidikan yang tidak memadai.

Bukan itu saja, hingga saat ini, ternyata warga desa ini belum pernah merasakan penerangan listrik. 69 tahun lamanya Indonesia bebas dari belenggu penjajah, tapi warga dusun yang berada di sebelah Barat Kecamatan Sibolangit ini sama sekali belum merasakan arti merdeka.

Seorang putra Dusun Lau Simalem, Serasi Sinulingga (38), didampingi beberapa warga lainnya menyambut gembira begitu melihat kehadiran Sora Sirulo ke desa mereka [Senin 1/12: Siang]. Mirisnya, saat Sora Sirulo melakukan wawancara, mereka mengaku tidak pernah mengetahui informasi apapun di luar lingkungan tempat tinggal mereka karena tidak adanya media seperti TV dan koran masuk ke kampung yang terisolir ini. Akibat belum masuknya listrik ke tempat mereka, pada malam hari keadaan pemukiman lumayang menyeramkan.

“Hanya satu dua rumah yang memakai mesin genset untuk pembangkit listrik yang dihidupkan pada malam hari. Kebanyakan rumah lainnya gelap gulita di malam hari,” tutur Serasi Sinulingga kepada Sora Sirulo.

Akibat belum adanya listrik, setiap malam Lau Simalem layaknya dusun mati. Tak ada kegiatan bisa dijalankan karena tak adanya penerangan yang memadai. Untuk mengantisipasi binatang buas masuk ke dalam rumah pada malam hari, warga pun lebih memilih membangun rumah panggung (rumah berkolong).

Lebih riskan lagi, ketika anak-anak sekolah di dusun itu perlu belajar pada malam hari. Sangat menyedihkan melihat mereka duduk di lantai rumah sambil belajar dengan alat penerangan lampu teplok. Beruntung bagi warga yang memiliki genset sebagai pembangkit tenaga listrik. Dengan menggunakan genset tentu penerangan lebih memadai walau menambah besar pengeluaran membeli bahan bakar minyak. Bagaimana dengan kebanyakan keluarga yang tidak memiliki genset?

“Dengan lampu teplok sebagai alat penerangan satu-satunya, kami sangat kasihan melihat anak-anak kami belajar di malam hari. Siang hari mereka sudah letih ke sekolah berjalan kaki cukup jauh. Malam hari mereka belajar lagi dengan penerangan seadanya,” ujar Sinulingga sedih.


[two_third]pencaharian rata-rata bertani serta sebagian pengerajin gula aren, pembuat gambir dan keranjang[/two_third]

Sebelumnya, Lau Simalem merupakan satu desa dengan pimpinan kepala desa. Namun, sekitar tahun 1990, terjadi penciutan desa-desa di Kecamatan Sibolangit dan Dusun Lau Simalem berubah menjadi Dusun II Lau Simalem, Desa Ujung Deleng.  Penghuni dusun ini ada sekitar 32 KK dengan mata pencaharian rata-rata bertani serta sebagian pengerajin gula aren, pembuat gambir dan keranjang. Selain itu, hasil pertanian beragam seperti coklat, salak, pisang dan lainnya.

Martin Ginting (45) mantan kepala desa di dusun itu sebelum penciutan, kepada Sora Sirulo mengatakan, sangat prihatin melihat kondisi Dusun II Lau Simalem dengan keterbatasan alat-alat dengan tenaga listrik yang semakin banyak saat ini digunakan oleh masyarakat luas. Untuk memasak nasi, sayuran dan merebus air hanya dapat dilakukan dengan menggunakan kayu bakar di samping menggunakan kompor gas yang juga terkadang sulit untuk mendapatkan bahan bakar gas karena sulitnya memasok ke dusun itu. Padahal, listrik sudah sangat perlu menjangkau Dusun II Lau Simalem guna menambah memenuhi kebutuhan masyarakat setempat.

Warga berharap kepada Pemkab Deliserdang agar segera memberi perhatian kusus terhadap tempat tinggal mereka. Bagaimanapun juga, tanpa prasarana yang memadai, akan menghambat kemajuan dan perkembangan dusun itu.

Foto cover: Serasi Sinulingga bersama beberapa warga Lau Simalem.

Leave a Reply