Kisah Meriam Puntung (1)

0
260

Oleh: Denhas Sembiring Maha

 

mariam 1
Penulis sedang mengangkat Meriam Puntung di Sukanalu (Dataran Tinggi Karo)

Meriam Puntung telah banyak dikisahkan seturut popularnya kisah saudarinya, Puteri Hijau. Kisahnya bermula dari perjalanan seorang petapa India yang sakti berasal dari Malyala dengan istrinya ke daerah tinggi Karo dan menetap di Sicapah (sekarang Seberaya). Mereka yang berkulit hitam ini sampai di Sicapah menggelari diri mereka Meliala mengikuti pengucapan masyarakat setempat. Petapa sakti itu membawa serta dua anaknya yang juga memiliki kesaktian yang hampir sama dengan orang tuanya. Di akhir kehidupan Sang Petapa, cerita Meriam puntung baru bermula.

Anak bungsu Petapa yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi mencoba untuk mencari pengalaman hidup dengan berkelana seperti kehidupan orangtuanya. Si Bungsu pergi dari kampung Sicapah mengikuti alur sungai berbekal air yang dibawa di dalam tabu-tabu (tempat air dari kulit labu air) dan segenggam tanah. Air dan tanah ini menjadi acuan baginya untuk menemukan tempat hidup yang sama di daerah lain. Tibalah Si Bungsu di suatu tempat di pinggiran Sungai Deli yang air dan tanahnya mirip dengan yang dia bawa dari Sicapah. Di sinilah Si Bungsu kemudian hidup dan menikahi seorang perempuan dari daerah itu lalu beranak cucu.

Lain halnya si Sulung, yang menetap di Sicapah (sekarang Seberaya). Di sana dia menikah dengan seorang Beru Barus. Awal pernikahannya berjalan dengan baik dan hingga beberapa tahun kemudian dia meninggal dunia karena sakit yang berkepanjangan. Di akhir hayatnya, sang istri pada saat itu sedang mengandung anak dari Si Sulung.

Seiring berjalannya waktu, kehamilan istri si Sulung menjadi lebih besar dan membuat warga desa merasa terusik. Karena ada kepercayaan, bahwa ketika ada seorang wanita hamil tanpa ada suami maka dia dikatakan akan membawa kesialan bagi kampung tersebut. Hujat demi hujatan datang silih berganti kepada istri si Sulung dan penduduk kampung mendesak penghulu kampung agar Beru Barus  diusir dari kampung.

[two_third]Beru Barus  keluar dari kampung Sicapah (Seberaya)[/two_third]

Penghulu kampung akhirnya menyuruh Beru Barus  keluar dari kampung Sicapah (Seberaya) dan menempatkannya di sebuah gua di alur Lau Pirik. Karena sikap iba dan arif dari penghulu kampung, kemudian timbul niatnya untuk menyuruh penduduk kampung menyiapkan bahan kebutuhan untuk Beru Barus hingga dia melahirkan anaknya.

Waktu pun berlalu hingga hampir sampai di tahun kedua, kelahiran dari kehamilan dari Beru Barus tak kunjung tiba. Hingga Beru Barus bersedih dan lalu berdoa pada Yang Maha Kuasa agar diberi petunjuk untuk permasalahannya.

Dan. doanya pun terjawab. Di suatu malam yang gelap dan hening, dia  mendengar suara dari kilatan cahaya terang dan terdengar suara dari cahaya tersebut.

Awalnya dia takut. Namun, lambat laun, dia mendekati cahaya itu dan mendengar perkataan dari cahaya menyarankan dirinya meminum air dari dalam tumbuhan yang menjulang tinggi. Tumbuhan itu tak lain adalah tualah ijo (kelapa hijau).

Beru Barus bersedih. Dengan kehamilannya yang besar itu dirinya tidak akan mampu mendapatkan kelapa hijau itu karena dia sedang hamil dan bagaimana bisa memanjat pohon kelapa. Dia lalu menangis dan tangisannya tidak berhenti hingga pagi hari.

Tangisan Beru Barus akhirya terdengar oleh seorang Perlanja Sira (pemikul garam) yang melintas di dekat gua tempat Beru Barus berada. Perlanja Sira bertanya kepada Beru Barus:

“Apa yang terjadi pada dirimu, sehingga dirimu bersedih dan menangis?” tanyanya kepada Beru Barus.

Lalu Beru Barus menjawab;

“Aku merasa sedih karena bayi yang ada di kandunganku ini tidak akan pernah terlahir jika aku tidak meminum air kelapa ijo,” ucapnya kepada Perlanja Sira.

Mendengar perkataan Beru Barus, Perlanja Sira merasa iba dan berkata;

“Aku akan pergi untuk mengambil garam (sira) ke dataran rendah dan akan membawakan kelapa ijo untukmu,” ujarnya (Bersambung).

Leave a Reply