Kisah Meriam Puntung (2)

0
211

Oleh: Denhas Sembiring Maha

 

 

mariam 3
Penulis di tempat persemayaman Meriam Puntung di Sukanalu (Dataran Tinggi Karo)

Hari silih berganti, di suatu pagi hari, tepatnya di hari Cekura Dudu (Hari ke 13 dalam penanggalan Karo), datanglah Perlanja Sira membawakan kelapa ijo untuk Beru Barus dan kemudian langsung pergi meninggalkan tempat tersebut. Beru Barus bergembira karena kelapa ijo sudah di depan mataa. Dia mandi menyucikan dirinya di Lau Pirik. Setelah membersihkan diri lalu Beru Barus kembali ke gua dan meminum air kelapa ijo.

Malam harinya, pada saat itu bulan purnama penuh, perut Beru Barus bergejolak dan ditandai dengan bumi bergetar. Lahirlah seorang bayi laki-laki yang wujudnya berbeda dengan bayi laki-laki pada umumnya. Di kepalanya tumbuh tanduk menyerupai mahkota. Selang beberapa menit kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki lainnya yang menangis keras dan wajahnya berwarna merah seperti api. Teriakkannya sampai ke Kampung Sicapah (Sekarang Seberaya). Teriakannya yang keras membangunkan seluruh penduduk kampung Sicapah.

Beru Barus pun meletakkan kedua bayinya didedaunan yang diambilnya tak jauh dari gua. Cahaya bulan purnama penuh yang pada saat itu menyinari tubuh Beru Barus, membuat dirinya merasakan sesuatu yang merasuk ke dalam jiwanya dan dia tertatih masuk ke dalam gua. Perutnya kembali bergerak dan merasakan ada sesuatu yang akan keluar dari perutnya, seorang bayi perempuan yang bersinar menyinari seisi gua dan berparas cantik akhirnya menyusul terlahir.

Akibat dari suara teriakan dari anak ke dua Beru Barus, pada pagi harinya penduduk desa yang merupakan kerabat dari Beru Barus pun  datang dan melihat tiga orang anak telah lahir di samping Beru Barus. Mereka membujuk dan membawa Beru Barus  kembali ke kampung Sicapah dan membangun tempat tinggal buat Beru Barus beserta nak-anaknya di sekitar pohon beringin karena di sekitar pohon tersebut jarak antara rumah kerabatnya cukup dekat.

Ketiga anak tersebut kemudian tumbuh menjadi dewasa, anak Sulung dari Beru Barus tersebut menjadi pria yang pintar tetapi pendiam, sedangkan anak yang kedua tumbuh menjadi pria dewasa dan mempunyai tubuh yang kuat. Sedangkan yang perempuan, tumbuh menjadi wanita yang cantik, baik dan disenangi oleh banyak lelaki yang sebayanya.

Ketiga anak Beru Barus menjadi anak yang sangat disenangi penduduk. Selain berbakti kepada Beru Barus, mereka juga suka membantu penduduk desa. Si bungsu yang kuat selalu membantu penduduk desa menggambil kayu ke hutan dan memperbaiki rumah-rumah penduduk desa yang rusak.


[two_third]Ketiga anaknya turut bersedih sepeninggalan ibu mereka[/two_third]

Waktu seakan singkat ketika Beru Barus meninggal. Ketiga anaknya turut bersedih sepeninggalan ibu mereka. Tak hentinya penduduk desa menghibur mereka termasuk kerabat dari Beru Barus yang tinggal di desa tersebut. Lalu, kerabat dari Beru Barus bercerita kepada ketiga anak tersebut jika mereka mempunyai paman, adik dari bapak mereka yang tinggal di dataran rendah di sekitar Sungai Petani.

Mereka lalu pergi meninggalkan desa dan berjalan mengikuti aliran sungai. Menurut informasi yang mereka dengar, paman mereka bermukin di aliran sungai yang ada di dataran rendah, yaitu Sungai Petani.

Beberapa minggu mereka berjalan dan mengikuti aliran sungai dan setiap mereka bertemu orang lain, mereka bertanya apa mereka mengenal paman mereka? Hingga pada  akhirnya mereka tiba di aliran sungai di dataran rendah. Mereka jatuh sakit dan pingsan di aliran sungai tersebut karena tidak mempunyai bekal makanan yang cukup untuk mengintari aliran sungai selama mencari paman mereka. Penduduk desa yang menemukan mereka dan membawa ketiga orang tersebut ke penghulu kampung.

Mereka kemudian diberi makanan dan tempat untuk beristirahat. Setelah mereka sadar dan kembali segar bugar, penghulu kampung memanggil mereka dan menanyakan asal dan tujuan mereka hingga akhirnya berada di tempat yang bernama Deli Tuah.

Sang penghulu bertanya kepada mereka;

“Wahai pengembara, apa gerangan yang membawa kalian bertiga sampai ke tempat ini dan hendak ke mana?

Lalu Si Sulung menjawab;

“Maaf penghulu, kami bertiga berasal dari Sicapah dan hendak mencari paman kami. Menurut cerita yang kami dengar dia berada di aliran sungai ini,” ujar si sulung.

Sang penghulu terkejut  mendengar nama Sicapah dan bertanya kembali:

“Siapakah nama paman kalian tersebut?“

Si bungsu lalu menjawab pertanyaan penghulu kampung:

“Meliala panggilan dari paman kami, penghulu,” ujar si Bungsu sambil tersenyum.

Penghulu pun menangis dan memanggil ketiga anak Beru Barus lalu memeluk mereka sambil berkata:

“Kalian itu anak-anak dari abangku dan akulah paman yang kalian cari,” ujarnya.

Mereka bertiga lalu tinggal dengan paman mereka, yang merupakan penghulu kampung yang sangat arif bijaksana dan dihormati oleh penduduk yang ada di Deli Tuah (Bersambung),

Lihat Kisah Bagian 1

Leave a Reply