Kisah Meriam Puntung (4)

1
251

Oleh: Denhas Sembiring Maha

 

 

mariam 7
Penulis (kanan) menghampiri tempat persemayaman Meriam Puntung di Sukanalu (Dataran Tinggi Karo)

Panglima Kerajaan Aceh pun meminta bantuan kembali ke Aceh agar mengirim pasukan dan persenjataan lebih lengkap untuk memerangi Kerajaan Haru. Bala bantuan besar pun datang. Senjata api dan meriam datang menggempur benteng Kerajaan Haru. Namun peluru senjata tak sedikitpun merusak benteng pertahanan Kerajaan Haru.

Akhirnya Sultan Aceh memerintahkan pasukannya untuk menembakkan meriam berisi perak ke arah Rakyat Haru agar rakyat mengambil perak-perak tersebut. Ratusan tembakan hingga ribuan keping perak telah diarahkan menuju arah Rakyat Haru. Namun kesetian rakyat lebih kuat dari kepingan perak-perak tersebut. Perjuangan mereka untuk mempertahankan Kerajaan Haru lebih kuat daripada mengambil perak yang ditembakkan. Sultan Aceh akhirnya kehabisan akal dan sempat berpikir mundur dan menarik pasukannya untuk kembali ke Aceh.

Suatu malam datanglah Peraten, sepupu dari Kegegehen yang merupakan anak dari paman pemimpin Kerajaan Haru yang telah meninggal. Karena menaruh rasa kecewa terhadap Seh Ngena yang diangkat menjadi pemimpin Kerajaan Haru, dia kemudian menawarkan bantuan kepada Sultan Aceh untuk menghancurkan Kerajaan Haru dan tentu dengan syarat bahwa dia nantinya akan diangkat menjadi orang penting di Kesultanan Aceh. Sultan Aceh pun akhirnya menyepakati permintaan dari Peraten.

“Aku akan mengatakan kepada rakyat dan pemimpin Kerajaan Haru bahwa pasukan Kerajaan Aceh mau berdamai dan menyerahkan semua senjata mereka kepada Kerajaan Haru sebagai bukti akan perdamaian itu,” tegasnya kepada Sultan Aceh, sembari memberitahukan rencana busuk lainnya.

“Ketika pada saat benteng Kerajaan Haru dibuka, maka pertahanan kerajaan akan lemah dan di situlah pasukan Kerajaan Aceh berkesempatan menyerang Kerajaan Haru,” tambahnya kepada Sultan Aceh.

Sultan Aceh pun mengiyakan ucapan Peraten dan akan mengikuti tanda yang akan diberikan Peraten kepada pasukannya. Lalu Peraten kembali ke Kerajaan Haru dan menemui Pemimpin Kerajaan Haru beserta Rakyat. Setibanya di Kerajaan Haru, Peraten berkata;

“Pasukan Kerajaan Aceh minta damai, Wahai Yang Mulia dan Rakyat Haru. Mereka akan menyerahkan seluruh sejata mereka kepada Kerajaan Haru sebagai bukti akan keinginan damai mereka,” ujarnya berkata dengan penuh menyakinkan.


[two_third]Aceh datang berdamai dan Benteng Kerajaan Haru pun dibuka[/two_third]

Rakyat pun sontak bergembira karena perang telah selesai. Akibat dari kegembiraan tersebut, Seh Ngena sebagai Pemimpin Kerajaan Haru pun menyuruh rakyatnya bersiap untuk melaksanakan pesta menyambut perang telah usai dan membuat penyambutan terhadap Pasukan Aceh. Rakyat dan Pasukan Kerajaan Haru kemudian mempersiapkan pesta tersebut dan hari tiba dimana pasukan Aceh datang berdamai dan Benteng Kerajaan Haru pun dibuka. Lalu, Peraten mengirim tanda agar Pasukan Aceh yang bersenjata telah dapat memasuki Kerajaan Haru.

Pemimpin kerajaan Seh Ngenana dan Panglima Kerajaan Kegegehen pun menunggu kedatangan Pasukan Aceh di istana bersamaan dengan Rakyat Kerajaan Haru.

Di saat Pasukan Kerajaan Aceh memasuki Benteng Kerajaan Haru, Pasukan Aceh menembakkan meriam ke arah Istana Kerajaan Haru. Rakyat Haru yang terlena dengan keadaan mulai kocar-kacir melihat gempuran. Ratusan nyawa hilang begitu saja ketika dentuman meriam terarah ke Rakyat Haru. Di saat itu panglima Kerajaan Haru, Kegegehen marah dan murka. Dengan kesaktiannya Kegegehen berubah menjadi meriam dan menembaki Pasukan Aceh secara terus menerus. Awalnya Pasukan Aceh terkejut dengan perlawanan dari Kerajaan Haru karena mereka meyakini tidak ada persiapan senjata apapun lagi dari kerjaan tersebut, akan tetapi nyatanya meriam masih ditembakkan ke arah mereka.

Ketidaksiapan Rakyat Haru dan hanya Panglima Kerajaan Haru, Kegegehen yang berubah menjadi meriam, akhirnya seluruh pasukan Aceh berhasil masuk ke dalam kerajaan. Panglima yang berubah menjadi meriam tak henti-hentinya menembak dan akhirnya meriam berubah warna menjadi merah akibat panas dari tembakan yang terus menerus.

Peraten yang menyesali perbuatannya karena telah berkhianat kepada saudaranya sendiri mencoba membantu. Tetapi apa daya ketika musuh sudah hampir menguasai Kerajaan Haru, dia yang berada di samping meriam jelmaan panglima kerajaan, Kegegehen membantu memerangi Pasukan Aceh, hingga tak tersadar olehnya ketika dia melihat meriam itu merah menyala dan dia mencoba menyirami meriam menggunakan air dengan maksud agar tidak panas dan merah menyala. Sebaliknya, atas siraman tersebut, membuat meriam menjadi melepuh dan hancur. Ini membuat perlawanan menjadi benar-benar tak berarti lagi.

Pasukan Aceh akhirnya berhasil menguasai Kerajaan Haru sekaligus menghancurkan kerajaan tersebut. Ratu kerajaan, Seh Ngenana  akhirnya dilarikan oleh si Sulung (kebeluhen) ke arah aliran Sungai Deli dan melihat kapal-kapal Kerajaan Haru yang ada di sana telah dibakar habis oleh pasukan Aceh. Si Sulung, Kebeluhen, akhirnya merubah dirinya menjadi Seekor Naga dan membawa si Bungsu, Seh Ngenana melewati Sungai Deli menuju Selat Malaka.

Sementara itu Meriam yang telah melepuh dan terbagi menjadi beberapa bagian akhirnya diambil oleh Peraten dan masing masing bagian tersebut dipisahkan karena ketakutan ketika bagian itu menyatu kembali akan menghidupakan Panglima Kerajaan Haru, Kegegehen. Salah satu bagian pecahan meriam dikirim ke Sicapah (sekarang Seberaya) sebagai tempat kelahiran dari Kegegehen.

Karena penduduk desa Sicapah tidak mengetahui bahwa bagian dari meriam tersebut adalah sosok Kegegehen anak dari Beru Barus yang lahir di gua di alur Lau Pirik, mereka tidak memperlakukan pecahan meriam itu selayak semestinya, dan akhirnya terlantar di kampung Sukanalu.

Di Kampung Sukanalu, Meriam itu diyakini datang dengan sendirinya dan bersemayam di tempat sekarang berada. Warga Sukanalu juga meyakini bahwa ruh (pertendin) dari Kegegehen berada di kampung Sukanalu.

Sementara itu bagian meriam lainnya ada di Istana Kesultanan Deli, yaitu kerajaan yang terbentuk pasca kehancuran Kerajaan Haru. Panglima Aceh yang bernama Gocah Pahlawan yang turut menyerang Kerajaan Haru tersebut dijadikan Sultan Deli pertama dan Peraten yang menyesal akan pengkhianatannya terhadap saudaranya itu akhirnya membuat tempat untuk bagian meriam lainnya sebagai tanda semangat dari perjuangan seorang panglima yang ada di Deli Tuah.

Peraten juga berencana akan mengembalikan pemimpin kerajaan dari keturunan Deli Tuah meskipun melakukan pembiaran terhadap Sultan Deli pertama yang bernama Tuanku Panglima Gocah Pahlawan (bukan keturunan Deli) memimpin Kerajaan Deli. Mungkin sebagai bukti dari rencana tersebut terlihat hingga saat ini bahwasannya makam Sultan Deli yang pertama tidak diketahui oleh siapapun bahkan oleh keturunan Sultan Deli sekalipun.

mariam 8
Tempat persemayaman Meriam Puntung di depan Istana Maimoon Medan (Dataran Rendah Karo)

Adapun kedua bagian mariam yang ada di Kampung Sukanalu dan di Istana Maimun saat sekarang ini belumlah lengkap dan utuh jika digabungkan. Diduga masih ada bagian lain yang belum diketahui dimana keberadaannya dan ada sebagian yang  mempercayai berada di Aceh, karena dibawa ke Kerajaan Aceh sebagai bukti tanda kemenangan Perang Kerajaan Aceh terhadap Kerajaan Haru. Dugaan lainnya bahwa pecahan tersebut sengaja disembuyikan karena pada masa ketika itu ada ketakutan masyarakat bahwa jika seluruh bagian itu digabungkan akan menghidupkan kembali meriam jelmaan Panglima Kerajaan Haru, Kegegehen.

Sedangkan Seh Ngenana dan Kebeluhen dipercaya masih hidup meskipun sudah menyatu dengan alam karena kesaktian yang mereka punyai dan keberadanya berada di sekitar meriam karena mereka adalah sebagai keberadaan situs meriam tersebut. Hingga kini Seh Ngenana dikenal dengan julukan Putri Hijau karena awal kelahirannya, ibunya Beru Barus, harus meminum air tualah ijo (salah satu jenis kelapa yang minyaknya sering menjadi bahan dasar minyak urut tradisional Karo dan daunnya untuk lidah musik tiup sarune).

Sementara itu, nama Kegegehen dan Kebeluhen yang menjelma menjadi meriam dan naga dikenal menjadi Nini Dua Nioga (Bahasa Karo) atau dalam sebutan Melayu Deli dikatakan Mambang Yazid dan Mambang Khayali. Wallahu ‘allam (Selesai).

Foto Cover: Sisa Benteng Putri Hijau di Delitua (Dataran Rendah Karo)

1 COMMENT

  1. Sangat menarik cerita ini dan erat hubungannya dengan sejarah keberadaan dan perjuangan kerajaan besar Haru. Istilah ‘haru’ sendiri pastilah berasal dari nama suku yang menjadi pemeran utama kerajaan itu yaitu orang Karo atau suku Karo.

    Orang Karo sudah ada sejak 7400 tahun lalu dibuktikan oleh penemuan arkeologi Ketut Wiradyana di dataran tinggi Gayo. Dalam bahasa Gayo istilah ‘karo’ artinya asing. Pertama kali gerup orang ‘karo’ ini pisah dengan Gayo dengan perpindahan mereka ke dataran tinggi ‘karo’ dan oleh orang Gayo disebut orang hijrah ini sebagai orang Karo. Orang Karo sendiri menyebut orang Gayo sebagai ‘gayo’ atau kepiting, karena tidak ingin perpindahan mereka dihalangi.

    Orang Karo dan orang Gayo sudah ada setidaknya sejak 7400 th lalu dan kemungkinan munculnya istilah ‘karo’ dan ‘gayo adalah ketika sebagian dari gerombolan manusia tua itu hijrah ke dataran tinggi Karo lantas saling bikin nama atau tuduhan si ‘kepiting’ (mengikat) dan si ‘karo’ yang ‘asing’ atau mengasingkan diri ke tempat lain (perpindahan orang ke dataran tinggi Karo dari dataran tinggi Gayo).

    Nama kerajaan ‘Haru’ berasal dari kata ‘karo’ dalam ucapan lidah berbagai suku lain bisa berbunyi lain pula. Orang Jawa GM bilang ‘haru’, ada yang bilang ‘aru’. Gajah Mada sebut itu dalam sumpah palapanya. Tetapi semuanya menunjukkan kata aslinya ‘karo’. Cita-cita besar seorang perkasa seperti GM untuk menaklukkan Haru dalam hidupnya, menandakan bagaiman besarnya Haru ketika itu. GM tak pernah berhasil menaklukkan Haru, tetapi kemudian ditaklukkan oleh pasukan dari Aceh bersama pasukan islam lainnya dari semenanjung Malakka dan juga dibantu pasukan asing Portugis dari laut.

    Kerajaan Haru kemungkinan bukanlah bentuk pertama kekuasaan besar Karo pada jaman lalu, karena sudah ada sebelumnya juga kekuasaan Karo di Aceh menurut tulisan berbagai ahli sejarah. Di Aceh besar ada suku Karee, istilah atau sebutan lain dari ‘karo’. Tetapi kelihatannya kerajaan Harulah yang merupakan puncak terbesar kekuasaan Karo pada jaman lalu itu.

    MUG

Leave a Reply