Memprihatinkan, Murid-murid Kelas 3 SD Belum Bisa Baca

3
207

Oleh: Herlina Surbakti (Medan)

baca 2

 

 

 

herlina 3Seperti biasanya setiap hari minggu, saya pergi ke Desa Doulu mengajar Bahasa Inggris. Kemarin saya menemukan sesuatu tentang murid bahasa Inggris yang saya ajar. Selama ini pembelajaran di kelas hanya kegiatan mendengar dan berbicara saja. Kemarin saya mulai dengan pelajaran membaca dan menulis. Saya menemukan sesuatu yang tidak lazim bagi anak-anak yang ada di kota seperti halnya di Jakarta.

Anak anak kelihatan stress dan sedih. Saya bertanya: “Mengapa kalian kelihatan bersedih dan tidak bersemangat?”

Jawabannya sangat mengejutkan: “Kami belum bisa membaca, miss?”

Kelas piga kin kena?” tanya saya.

“Kelas tiga, Miss Karo,” jawab mereka.

Semua yang hadir kemarin cuma seorang anak kelas dua yang sudah membaca dengan lancar. Anak-anak ini sudah menyadari bahwa hanya dengan pendidikan mereka baru akan bisa mengubah nasib mereka.

Kemudian saya tanya apakah orangtua mereka bisa membaca? Mereka jawab: “Ya”.

“Kalau begitu nanti malam kalian minta diajari membaca sama orangtua kalian, ya.”

Jawabannya juga mengejutkan saya!

baca 1“Kami tidak punya buku, miss. Bu guru hanya memberi satu buku untuk enam orang dan kami tidak pernah mendapat giliran untuk membawa buku itu pulang, Miss.” Kata mereka.

Mereka kelihatan sangat sedih. Apakah situasi ini mewakili situasi anak-anak yang bersekolah di desa-desa Tanah Karo atau desa desa di seluruh Indonesia? Minggu depan saya akan mulai mengajari mereka membaca.

Di lain kesempatan, saya bertemu dengan seorang guru dari Kabanjahe. Dia menceritakan bagaimana nasib guru-guru di sana. Menurut keterangan Bapak Guru ini mereka diundang untuk menghadiri pelatihan guru di Stabat (Langkat). Dalam hati saya bertanya, mengapa di Stabat dan bukan di Medan? Mereka di Stabat selama satu minggu dan diberi uang saku sebanyak Rp 600.000.

Menurut keterangan bapak ini, pelatihnya datang dari Medan. Kemudian si pelatih menyerahkan bahan-bahan pelatihan kepad guru yang ada di Stabat. Demikianlah pelatihan pun dilakukan oleh sesama guru tentu hasilnya pun minimal. Kemudian saya mendengar pula bahwa pelatihan guru-guru yang dari Medan selalu diadakan di Berastagi. Kalau ini semuanya benar maka guru-guru Kabupaten Karo akan berada di bawah standard guru-guru dari Medan.

Pertanyaan saya:

  1. Apakah ada diantra kita yang bersedia menyumbangkan buku-buku bacaan bekas untuk anak-anak saya ini?
  2. Apakah mungkin di setiap desa bisa digerakkan anak anak yang sudah tamat dari SMA dan tinggal di desa untuk mengajar membaca anak-anak SD yang tidak bisa membaca?

3 COMMENTS

  1. Terima kasih Pak MUG

    FYI: Inilah gambaran situasi di Medan sekarang ini.
    Saya selesai kuliah di USU pada tahun 1979. Ketika itu disekitar rumah saya yang dekat dengan USU semua mahasiswa yang kost disekitar rumah saya adalah orang orang dari Tanah Karo. Banyak diantara mereka yang kuliah di Fakultas Teknik, Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, FIPIA. Tiga puluh lima tahun kemudian suasana sudah sangat berubah. Hampir semua yang kost di sekitar rumah saya adalah orang Batak (Toba ataupun Mandailing dan orang Nias) Saya bertanya-tanya dalam hati kemana semuanya generasi muda Karo? Kejutan lagi buat saya ketika saya mengunjungi perpustakaan sebuah Fakultas di USU kemarin. Sayapun menjadi sedih. Kalau dulu orang yang jadi pesuruh adalah orang-orang dari masyarakan Jawa (Deli) sekarang merekalah yang menjadi bossnya. Baik boss yang dibawah boss besarnya dan boss yang menyuruh-nyuruh. Dan orang yang disuruh-suruh itu adalah perempuan Karo! Inilah situasi di lapangan. kalau sekarangpun anak-anak di tanah karo banyak yang tidak pandai membaca akhirnya kebanyakan dari generasi muda sekarang ini akan mejadi pesuruh. KITA HARUS BANGKIT BERSAMA!

    N.B.
    Saya sudah bertemu dengan pejabat Aqua dari Jakarta dan mereka tidak menjanjikan apa-apa tetapi mereka mengusulkan agar saya menemui CSR Aqua. Kalaupun mereka bisa membantu mereka baru bisa tahun depan. Jadi kalau memang ada diantara kita yang membelikan buku-buku untuk anak anak ini saya bisa membelikannya. Atau kalau ada yang tinggal di medan mempunyai buku-buku bekas tolong hubungi saya melalui message Facebook. Mejuah-juah.

    • “Baik boss yang dibawah boss besarnya dan boss yang menyuruh-nyuruh. Dan orang yang disuruh-suruh itu adalah perempuan Karo! Inilah situasi di lapangan”

      Wk presiden JK sebut kebanyakan konflik didasari oleh ketidakadilan

      Begitu demokrasi ‘the winner takes all’, maka langsung tidak harmoni,” imbuhnya.

      https://groups.yahoo.com/neo/groups/tanahkaro/conversations/messages/39543

      Dari logika itu berarti demokrasi telah melahirkan ketidakadilan, karena the winner dalam demokrasi ‘takes all’, dari jabatan boss besar,boss kecil sampai boss yang menyuruh pesuruh. Dan pesuruh orang perempuan Karo. Itulah kenyataan demokrasi lapangan.

      Perlukah menyelesaikan soal ketidakadilan demokrasi ini dengan jalan perang seperti di Poso, Maluku Kalteng dsb atau sudah bisa diselesaikan dengan jalan dialog, diskusi dan debat ilmiah?

      Satu yang pasti ialah ‘jika diam saja tak akan ada perubahan’ dan ketidakadilan semakin menjadi-jadi saja menanam bom waktu yang semakin semakin membengkak.

      MUG

  2. Gejala tak bisa baca ini bisa berpengaruh sangat negatif terhadap perkembangan dan masa depan Karo. Usul beru Surbakti ini bagus dijalankan oleh tamatan SMA atau mahasiswa yang ada di kampung bisa membantu semampunya. Buku-buku yang mendesak sekarang mungkin lebih cepat kalau kita bikin patungan untunk beli cepat.

    Paling tak dimengerti tentu kewajiban pemda/bupati Karo tak patut kalau tak tahu atau melantarkan anak-anak dalam keadaan seperti itu apapun alasannya.

    Situasi ini harus didengungkan disemua media sosial Karo supaya beritanhya semakin luas ke seluruh Karo dan juga perlu ke seluruh Indonesia. Keadaan anak-anak sekolah seperti ini disatu daerah tertentu sangat perlu diketahui oleh pusat juga, terutama kementerian pendidikan.

    MUG

Leave a Reply