Karnaval Mamre GBKP Keliling Kota Medan Semarak

1
167

alexander firdaustALEXANDER FIRDAUST. MEDAN. Karnaval Mamre GBKP keliling Kota Medan yang [Sabtu 20/12] berlangsung semarak. Sepuluhan mobil hias dengan nuansa kebudayaan Suku Karo turut ditampilkan pada pegelaran karnaval ini.

 

 

karnaval 1

Sejumlah tokoh juga tampak hadir dalam pelepasan mobil karnaval, diantaranya anggota DPRDSU Baskami Ginting, Ketua DPRD Kota Medan Hendry Jhon Hutagalung, mantan anggota DPRDSU Taufan Agung Ginting, dan sejumlah tokoh lainnya.

Pelepasan mobil karnval dilangsungkan di Kantor Klasis GBKP Medan Delitua Jl. Jamin Ginting Kompleks Pamen, Padangbulan (Medan Baru), sekitar 15.00 WIB. Sebelum acara pelepasan dilaksanakan, tampak juga diadakan kebaktian singkat dibarengi kata sambutan dari panitia.

Meski hujan sempat mengguyur sebelum acara pelapasan, hal itu tidak mengurangi antusiasme peserta yang masing-masing berasal dari berbagai Runggun dan Klasis se-GBKP. Sejumlah pemusik yang berada di atas truk yang dipersiapkan oleh pihak panitia juga tetap tampak semangat memainkan peralatan musiknya, meski keberadaan mereka harus ditutupi dengan tenda.

Dalam kesempatan yang sama, mantan anggota DPRDSU Taufan Agung Ginting yang sempat diminta tanggapannya oleh Sora Sirulo terkait acara karnaval Mamre GBKP mengatakan, kegiatan ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah yang dilaksanakan oleh Mamre GBKP. Bahkan, menurut Taufan Agung lagi, bukan cuma pihak GBKP, namun secara umum masyarakat Karo juga tidak pernah lagi melaksanakan acara seperti ini di Kota Medan dalam kurun puluhan tahun belakangan.

karnaval 3“Pada tahun 1960an masyarakat Karo memang kerap melakukan acara karnaval di Kota Medan. Saat itu para Aron Karo melaksanakan acara karnaval dengan cara menarik lige-lige. Lige-lige ini merupakan kenderaan kebesaran Karo tempo dulu yang berbentuk mirip rumah si empat ayo bertingkat-tingkat terbuat dari kayu, beratap ijuk dan dilengkapi dengan beberapa roda kayu,” ujarnya.

Dengan diadakannya kegiatan karnaval oleh Mamre GBKP ini, Taufan Agung juga meminta kepada seluruh elemen masyarakat Karo agar hal ini dapat dijadikan sebagai perenungan.

“Kegiatan ini tentu dapat dijadikan sebagai perenungan bagi kita masyarakat Karo di Kota Medan mengapa kegiatan yang demikian baru dapat terlaksana pada tahun 2014. Padahal, masyarakat Karo generasi sebelumnya kerap melaksanakan kegiatan yang demikian di tahun 1960-an,” ujarnya mempertanyakan.

Seperti diketahui, acara Karnaval Mamre GBKP ini merupakan kegiatan dalam rangka menyambut Natal Mamre Sinodal Se-Indonesia yang akan dilaksanakan di Pardede Hall Medan [Sabtu 27/12] mendatang. Adapun rute karnaval meliputi Kantor Klasis GBKP Medan Delitua KM 4,5 di Kompleks Pamen, Jln.Jamin Ginting – Jln. Mongonsidi – Jln, Juanda – Jln, B. Katamso – Lapangan Merdeka – Jln, Guru Patimpus – Jln, Gatot Subroto – Tomang Elok – Jln. Setia Budi – Simpang Selayang – Jln. Jamin Ginting – Kantor Klasis GBKP Medan Delitua di Komplek Pamen.Bovenkant formulier.

1 COMMENT

  1. Dalam karneval GBKP itu Taufan Agung bilang: “Kegiatan ini tentu dapat dijadikan sebagai perenungan bagi kita masyarakat Karo di Kota Medan mengapa kegiatan yang demikian baru dapat terlaksana pada tahun 2014. Padahal, masyarakat Karo generasi sebelumnya kerap melaksanakan kegiatan yang demikian di tahun 1960-an,” ujarnya mempertanyakan.

    ‘Perenungan bagi kita masyarakat Karo’ betul sekali ini jadi perenungan kita. Perenungan tentang kultur dan budaya Karo, yang berarti juga perenungan tentang survival kultur dan suku Karo bukan suku ‘Batak Karo’. Pada tahun 2014 ini sudah banyak peristiwa dan proses pencerahan identitas Karo sebagai satu suku dan kultur tersendiri sederajat dengan semua suku-suku lainnya di negeri ini, satu suku yang juga adalah bagian dari bhinneka tunggal ikta, dengan nama suku sendiri dan kultur sendiri, tanpa embel-embel ‘batak’. Orang Karo sudah menjelaskan ini secara terang benderang dengan semua argumentasi ilmiah seperti penemuan arkeologi di dataran tinggi Gayo oleh arkeolog ´Ketut Wiradyana dari USU tahun 2011-2012.

    Pada tah 2014 sudah banyak di Indonesia maupun di LN yang mengetahui bahwa suku Karo (dan juga Gayo) adalah suku tertua di Sumatera umur 7400 tahun menurut hasil penelitian DNA Karo dan Gayo dari fosil yang ditemukan.

    Orang Batak sendiri baru tiba di Sumatera menurut prof Bungaran Simanjuntak sekitar 2500 th lalu dari Taiwan dan Pilipina, walaupun menurut arkeolog Ketut Wiradyana kedatangan orang Batak ini baru sekitar 700-800 tahun lalu. Jadi orang Karo dan orang Gayo sudah berada duluan di Sumatera sekitar 6000 tah barulah kemudian datang orang Batak. Karena itu sangat tak masuk akal atau hanya bergurau kalau dibilang orang Karo bagian dari Batak. Antropolog orang Batak dari USU Amir Nadapdap malah bilang orang Gayo dan Alas juga adalah Batak. Penemuan-penemuan baru yang ilmiah ini pada th 2014 sudah menjadi pengetahuan umum bagi kebanyakan orang Karo dan orang Indonesia dan bahkan di LN.

    Betul Taufan Agung, marilah kita bikin renungan soal kegiatan kultur ini di Medan sambil merenungkan bahwa Medan juga dibangun oleh orang Karo Guru Patimpus lebih dari 400 th lalu (1 juli 1590).

    MUG

Leave a Reply