Karo Masa Lalu Oleh Siapa?

0
188

Oleh: Penatar Perangin-angin

 

Baiklah kita anggap “mereka” yang mengelompokan Karo sebagai bagian Batak karena pada masa itu boleh kita asumsikan mereka “siboto surat”.

Itu sudah lampau sekali, seratusan tahun yang lalu. Proses perjalanan hidup serta kemajuan teknologi informasi telah meningkat, dilatarbelakangi semakin antusiasnya kita memperoleh ilmu pendidikan demi pengetahuan.

Dasawarsa belakangan ini arus informasi pun semakin meningkat pula. Demikian juga terjadi peningkatan drastis di bidang ilmu pengetahuan, pertukaran budaya, dinamika sains dan pandangan kita mengenai alam semesta. Perkembangan terakhir bahkan melebihi ekspektasi manusia itu sendiri. Mmau tidak mau, diterima atau tidak diterima, pantas atau tidak pantas, kebenaran mengenai asal usul adat, budaya, bahasa, ras dan bahkan keberadaan Tuhan kini tergugat.

Siapapun tidak akan mampu menjamin bahwa sebuah produk yang diciptakan manusia tetap kita terima begitu saja di masa depan, walau pada awalnya kita sepakat dan sependapat. Apalagi kalau dasarnya memang sudah berangkat dari titik yang berbeda dan kebetulan hanya memiliki beberapa kesamaan yang awam. Bagaimana kemudian kita menganggapnya masih sebagai sebuah dasar yang sahih sebagai suatu pembenaran akan sebuah “karya” baik oleh kita (apa lagi ini karya orang lain)?

Pada akhirnya menuntut kita agar memikirkan dan mengkaji kembali kebenaran dan kesepakatan yang tidak mewakili generasi sebelumnya.

Ketika kita menolak membuka diri dalam hal penelusuran pelurusan identitas atau ketika kita membakukan yang sebenarnya bukan kapasitas dan wewenang kita terhadap identitas masa depan suatu suku bangsa, adalah layak kita sebut “genosida kebudayaan etnis” bila di kemudian hari terjadi pengkaburan kemurnian budaya tersebut. Bukan dalam artian ras manusianya, tapi budayanya..

Lalu, pantaskah kita dikatakan bertanggungjawab akan merga yang kita sandang dan menghormati leluhur kita?

Leave a Reply