Keroncong TVRI dan KBB (2)

1
131

Oleh: Bastanta Permana Meliala (Medan)

mariam 7
Tempat persemayaman Meriam Puntung di Dataran Tinggi Karo

Teringat masa-masa di SD. Saya dulu sempat mendengar ada istilah Jawa, Jawa Sunda, Jawa Madura, Jawa Banten, Jawa Banjar, dlsb. Namun sekarang yang saya dengar hanya Jawa, Sunda, Madura, Banten, Banjar, dll. Itu tentunya berkat perjuangan gigih dari yang berkepentingan untuk menjelaskan apa sesungguhnya.

Saya ingat juga saat saya di SD, saya didoktrin oleh buku pelajaran bahwa Batak itu ada lima, yakni: Karo, Toba, Mandailing, Simalungun, dan Pakpak. Katanya, bahasa Batak itu juga ada lima, yakni bahasa masing-masing suku yang sebelumnya tadi disebutkan dan katanya bahasa itu hanya dibedakan oleh dialek. Katanya lagi, piso surit adalah senjata khas Sumatera Utara(?), dan piso surit lagu daerah asal Aceh. Belakangan beberapa suku di Nangro Aceh Darusalam(NAD) dan Nias juga dimasukkan Batak.

Untuk hal ini, saya lama berfikir, benarkan demikian? Sampailah tiba saatnya saya benar-benar mengerti dan berani katakan, tidak! Semua itu salah. Sebab sejak kecil saya orang Karo bukan Batak! Bahasa Karo sangat berbeda dengan yang anda-anda kenal sebagai bahasa Batak, dan secara linguistik(kosa-kata, dialek, aksen, dll) sangat berbeda jauh. Buktinya: saya pandai berbahasa Karo tetapi tidak bisa dan tidak mengerti berbahasa Batak! Aneh kan?


[two_third]Namun, kalau bukunya semua copy-paste yang salah, gimana?[/two_third]

Dan mengenai Piso Surit, dari yang saya tau, saya baca dan saya tanyakan kepada tokoh adat-budaya Karo, tidak ada piso surit dalam bentuk sebuah benda di dunia ini, apalagi dalam bentuk sebuah senjata (piso surit hanya kiasan). Selanjutnya, lagu dan syair Piso Surit adalah asli dari Karo, dalam bahasa Karo, dengan irama Karo, dan diciptakan oleh putera Karo, yakni: Djaga Depari. Aneh juga ya buku-buku pelajaran di negeri ini? Hehehe… Hal ini mengingatkan saya dengan perkatakan seorang pelukis asal Karo bermerga Karo-karo Barus, yang katanya, ‘untuk mencari kebenaran, tidak cukup kita membaca satu buku’. Namun, kalau bukunya semua copy-paste yang salah, gimana? Hm… (salah satu dilema negeri ini).

Pernah saya mengajar kesenian di salah satu sekolah di Provinsi Jambi. Banyak siswa/i saya orang dari Pulau Jawa, dimana mereka adalah anak-anak dari program transmigrasi. Saat mempersentasikan tugas akhir, salah seorang siswa saya menyanyikan lagu ‘Bubuy Bulan’ dan diakhir lagu dia memberi saya sebuah alat musik tiup dari bambu. Dia mengajari saya cara meniupnya, yakni saat ditiup tuasnya disodok untuk menimbulkan efek suara(seperti pitchband pada keyboard). Jujur, saya baru kali itu melihat dan memainkannya. Lalu saya bertanya, “Ini alat musik dari mama?”. Dia menjawab “Sunda”. Lalu saya tanya lagi, “Kamu bukannya orang Jawa?”, kemudian dia menjawab, “Tidak, pak. Saya orang Sunda asli’. Padahal selama ini mereka saya kenal sebagai orang Jawa.

Dulu, banyak saya temui orang perantau dari Pulau Jawa yang demikian, yakni: orang Sunda, Madura, dll hidup sebagai Jawa di Pulau Sumatera. Saya tidak tahu pasti mengapa demikian, tetapi, tentunya ada alasan tepat untuk itu. Namun, belakangan saya salut dengan orang-orang Sunda ini, mereka sangat percaya diri dengan identitas kesundaan mereka, yang kemudia membuat saya pun setiap berjumpa dengan perantau dari Pulau Jawa, selalu bertanya, “Bunten. Tétéh urang Sunda atau Jawa?”. Dan saat berkesempatan berkunjung ke Cimahi dan Bandung, kota dimana mayoritas orang Sunda, maka menjadi semakin jelas bagi saya beda antara Jawa dan Sunda.


[two_third]itu Batak beraksen Sunda[/two_third]

Sekarang, hampir semua stasiun televisi diisi orang-orang Sunda. Tentunya kita tahu mereka orang Sunda karena mereka mengaku Sunda dan bertutur kata dalam bahasa Sunda. Namun, akan jadi aneh jika seorang Karo bertutur kata dalam bahasa Karo namun mengaku Batak. Bagaimana nanti kata orang jika dia mengucapkan salam ‘mejuah-juah’ bukan ‘horas’, dan bernyanyi “O, Taneh Karo Simalem” dalam gendang Telu Sedalanen Lima Sada [se-] Perarihen? Tentulah banyak yang akan bingung karena salam khas Batak itu ‘horas’ bukan ‘mejuah-juah’, bahasa Batak bukan begitu dan gondang (musik) Batak juga tidak begitu. Tidak mungkin kan orang katakan, ‘itu Batak beraksen Sunda’. Pastilah yang paham dan mengerti, katakan “itu Karo bukan Batak’.

Berbeda tidak harus sama. Indah dipandang karena ada yang berbeda. Keindahan dalam perdamaian pun jika perdamaian itu diantara banyak ragam perbedaan, seperti semboyan kita ‘Bhineka Tunggal Ika’, dan Acara Musik keroncong TVRI menjadi bukti, bahwa perbedaan itu indah, dimana lagu Sunda, Jawa, Melayu pun dapat disatukan dalam lantunan irama keroncong dan menarik hati saya yang seorang Karo sekalipun. Salam KBB(Karo Bukan Batak/Kemerdekaan Bagi-budaya Bangsa). Mejuah-juah.

1 COMMENT

  1. Bagus sekali artikel ini sebagai pencerahan KBB.
    Semakin hari semakin jelas identitas Karo. Identitas atau Jatidiri Karo semakin nyata bagi banyak orang, di lingkungan Karo maupun dilingkungan diluar Karo. Dengan semakin kuatnya identitas Karo semakin kuat juga kita bertanding dalam ethnic competition. Di Sumut pertandingan etnis ini sangat jelas, terlihat juga dari komentar HS soal satu institusi dimana perempuan Karo dijadikan pesuruh.

    MUG

Leave a Reply