Kolom M.U. Ginting: Karo dan Ethnic Competition (Sambungan)

0
182

M.U. Gintingbaca 1Dari fakta lapangan yang dilaporkan di atas, terlihat bagaimana rapinya etnis itu mengatur atau mengorganisasi persaingannya sehingga berhasil menguasai secara struktural tiap instansi, bahkan tak lupa pula mereka memakai perempuan-perempuan Karo sebagai pesuruhnya.

Perempuan Karo sudah ditetapkan di situ tempatnya. Dari segi pandangan umum, tentu karena perempuan-perempuan Karo itu tak berpendidikan. Tetapi cara ini adalah taktik psikologis dalam persaingan etnis, karena banyak sekali juga perempuan Karo yang berpendidikan. Orang Karo tidak kalah dalam soal akademisi pengetahuan dalam perbandingan dengan etnis-etnis lain, apalagi kalau dilihat dari jumlah orang Karo yang lebih minoritas, tetapi tak kalah dalam soal akademik.

Orang Karo jarang atau bisa dikatakan sangat enggan melihat situasi kenyataan dari segi ethnic competition. Ini membikin analisa yang tidak lengkap atau tidak menyeluruh dalam analisa suatu masalah sosial oleh seorang Karo, seperti masih bersemangat mengkumandangkan ’persatuan dan kesatuan’ ala Orba. Kalau melupakan atau tak melihat atau pura-pura tak melihat kenyataan hidup walaupun pahit seperti ethnic competition yang semakin sengit seperti contoh di atas, walaupun tak mengikutkan lagi cara perang etnis seperti abad lalu, analisanya akan pincang. Atau, seperti orang Eropah bilang, hanya berkisar mengitari bubur panas tanpa berani memakannya, takut kepanasan.

Mengapa ethnic competition semakin sengit, ialah karena sekarang adalah era ethnic/cultural revival dunia, era persaingan hidup-mati berbagai kultur, atau hidup-mati satu nation seperti yang diperjuangkan oleh ’the new right’ di Eropah, the clash of civilization  (Huntington), the clash of culture/emotion (Moisi) ditambah lagi denga banyaknya ahli-ahli sosial dunia yang terjun ke lapangan dan telah menulis tentang kompetisi etnis dunia itu secara sangat terperinci dan mendetail tak pernah ada taranya dalam sejarah dunia.


[two_third]Huntington telah berhasil dan berani menggambarkan perubahan[/two_third]

Berkebalikan denga anjuran Huntington dalam bukunya tentang perlunya penyelesaian dengan perang antara civilisasi atau kultur ini, yang terjadi sekarang ialah penyelesaian persaingan ini sudah mungkin dilakukan dengan jalan damai. Syarat dan kondisi perkembangan dunia telah memungkinkan penyelesaian dengan DIALOG, KETERBUKAAN, Diskusi dan Debat ilmiah mengikutkan jutaan manusia lewat internet. Kemungkinan inilah yang belum dilihat dan belum dipahami tadinya oleh Huntington ketika menuliskan tesisnya. Alm. Huntington belum sempat perbaiki tulisannya. Tetapi Huntington telah berhasil dan berani menggambarkan perubahan penting dunia secara dini.

KBB adalah salah satu pernyataan ethnic competition. Sebaliknya gejala penentangan terhdap KBB juga adalah fenomena ethnic competion. Adalah salah besar kalau tak melihat kepentingan Karo dan bahkan juga kepentingan nation dengan melupakan kompetisi etnis. Kesalahan mana telah bikin banyak etnis yang punah atau dalam perjalanan akan punah dengan meleburkan diri ke dalam etnis lain. Membatakkan Karo atau Pakpak termasuk dalam taktik dan strategi bikin punah satu etnis dengan meleburkannya ke dalam kesatuan etnis lain secara kultur dan dan juga secara daerah. Kalau satu etnis secara kultur dan daerahnya sudah lebur, etnis itu sudah tak ada atau sudah kayak ’belo la ertangke’, tak masuk hitungan lagi.

KBB memperjelas persoalan etnis, soal persaingannya yang tak terhindarkan, dan menganjurkan kepada semua etnis dan kultur untuk bersama-sama bangkit mengontrol proses persaingan etnis supaya berjalan secara damai dan adil sehingga persainagan bermanfaat bagi semua.

Kontradiksi akan berfungsi sebagai motor perubahan. Dari segi ini, KBB berjuang untuk kepentingan perubahan dan perkembangan serta kemajuan nation negeri ini.

Baca bagian sebelumnya

Leave a Reply