Kolom M.U. Ginting: Karo dan Ethnic Competition

0
202
Lokasi sekitar tempat kelahiran Putri Hijau di tepi sungai Lau Biang (Seberaya, Dataran Tinggi Karo). Model: Averiana br Barus.

 

M.U. GintingDi Sumut  persaingan etnis sangat jelas terlihat seperti adanya bisik-bisik ’kita dipimpin oleh orang Jawa’ karena Gubsu orang Jawa. Lima orang Batak tempo hari kalah dalam Pilgubsu. Yang menang orang Jawa. Orang Mandailing selalu bercita-cita ’mengembalikan kekuasaan Sumut kembali ke orang Tapsel’ seperti di abad lalu dimana orang Mandailing turun temurun jadi Gubsu selama kemerdekaan sampai jatuhnya Orba dan munculnya era Reformasi.

Persaingan ini berlanjut dan semakin sengit sekarang, terlihat juga di laporan nyata dari lapangan di salah satu institusi di Medan, ditulis dalam komentar seorang pembaca di Tabloid Sora Sirulo:

”Sekarang merekalah yang menjadi bossnya. Baik boss yang di bawah boss besarnya dan boss yang menyuruh-nyuruh. Dan orang yang disuruh-suruh itu adalah perempuan Karo! Inilah situasi di lapangan. Kalau sekarangpun anak-anak di Tanah Karo banyak yang tidak pandai membaca akhirnya kebanyakan dari generasi muda sekarang ini akan mejadi pesuruh.”

Kalimat ini sangat tepat melukiskan kenyataan di lapangan. Tepat melukiskan bagaimana ethnic competition menyatakan diri dalam masyarakat, terutama di Sumut dimana persaingan etnis sangat ketat dalam proses kehidupan sehari-hari. Mana yang menang dan mana yang kalah terlihat jelas dan semakin jelas seperti ditulis di atas.

Dari kenyataan lapangan di atas terlihat juga bagaimana betulnya kesimpulan yang pernah ditulis oleh Kevin MacDonald (penulis Trilogi tentang persaingan etnis Yahudi) yang mengatakan bahwa An important point is that at the psychological level people did not evolve to be interested in the welfare of the society as a whole or the welfare of other members of the society (apart from relatives)”. Ini gambaran perjuangan kepentingan etnis sehari-hari dari level psikologi.

Struktur psikologi Karo kemungkinan tak bisa atau akan susah menerima formulasi ini, karena dasar kejujuran orang Karo terlalu sangat mendalam. Tetapi sudah jelas dalam praktek nyata di atas bahwa yang terpenting dalam ethnic competition ialah kepentingan langsung etnis itu dalam kehidupan sehari-hari, menguasai tiap institusi demi kepentingan etnis itu. Bukan tujuan jangka panjang kepentingan nation.

Bisa saja dimaksudkan bahwa menguasai dan mendominasi satu institusi oleh etnis dominan tertentu dikatakan demi kepentingan nation Indonesia, tetapi berapa orang yang percaya begitu kalau ditanyakan kepada seseorang dari etnis lain. Berapa orang yang akan menganggap soal itu adil. Bahkan kalau ditanyakan kepada orang Karo yang kejujurannya sangat mendalam tadipun pasti akan mikir-mikir dulu.

Kemenangan satu etnis ini banyak tergantung dari kesiapan tiap etnis dalam mengorganisasi diri dalam setiap persaingan. Ini ditentukan oleh tingkat kerasionalan cara berjuangnya atau seberapa jauh tiap etnis bisa memanfaatkan atau ’optimising competition by groups’.

Adanya kontrast atau perbedaan yang sangat jelas antara etnis-etnis bagaimana mereka (satu suku) mengorganisasi persaingannya dengan group lain akan menunjukkan kemenangan dan kekalahan satu etnis dalam menguasai dan mendominasi tiap situasi, tiap kesempatan dan tempat-tempat strategis (institusi, jabatan) dalam satu nation multi-etnis seperti Indonesia dan Sumut khususnya.

Orang Karo bisa melihat sendiri bagaimana orang-orang Batak di Karo melakukan perjuangan ini, seperti ketika 2x kedatangan presiden ke Karo. Pertama mereka mengorganisasi ’horas’, dan kedua kalinya bikin demo besar-besaran orang-orang Batak di Kabanjahe bahkan didatangkan dari Samosir untuk ikut berdemo. Mendukung Pilkada dengan memasukkan orang Batak ke wk salah satu calon. Mau ganti Tahura dengan nama ’singa’, Juma Tombak dan 9 desa Bangun Purba, dan terakhir di Doulu merendahkan kemampuan orang Karo yang katanya harus dibantu supaya bisa memajukan kehidupannya, dll, dsb. (Bersambung),

Leave a Reply