Kolom M.U. Ginting: KPK DAERAH

1
171

M.U. GintingKekhawatiran JK bila KPK ada di daerah bisa memang masuk akal, melihat selama ini jika KPK di pusat maka orang-orang daerah yang sekiranya akan mampu mempengaruhi KPK tak berlaku di pusat. Tetapi, kalau KPK ada di daerah pastilah bagi orang-orang ’mampu’ ini akan sangat gampang bisa melaksanakan tugas ’bantuannya’ atau bisa melahirkan mafia hukum daerah seperti dikatakan JK.

Kita masih ingat juga bagaimana dulu ex Gubsu diproses dan diadili di pusat, ’pengikut-pengikutnya’ di daerah tak bisa berbuat apa-apa.

Ada banyak positifnya pasti kalau ada KPK di daerah. Antisipasi dan penangkapan koruptor lebih cepat dan juga penyelesaiannya lebih cepat. Tetapi, kalau KPK daerah ini satu waktu sudah berada di bawah kontrol mafia hukum daerah, KPK daerah ini sudah tak ada gunanya bagi pemberantasan korupsi. Jika ini yang terjadi maka KPK tetap lebih baik di pusat saja.

Masalah korupsi adalah masalah kemanusiaan yang sangat komplex, terutama harus jadi pemikiran KPK menghadapi daerah yang didominasi oleh extroversi dimana korupsi dan kekacauan sosial adalah stimulasi extern pendorong semangat hidup. Badan semacam KPK akan bisa survive di daerah introvert seperti di Karo, tetapi pasti hancur di daerah extrovert seperti di Taput dan juga Medan yang sudah terkontaminasi stimulasi extern extroversi.

Tetapi bahwa sekarang berlaku era introversi dunia, maka bukanlah tak mungkin kalau situasi ini juga bisa berubah atau sudah berubah dalam kondisi tertentu, artinya quiet revolution bisa sudah meresap bahkan ke daerah extroversi, walaupun ini masih jauh dari logika biasa.

Seorang professor bernama Tage Alalehto (Swedia) mengatakan dalam tulisannya ( 2003) bahwa ada 3 tipe white collar criminals, dimana salah satunya ialah ’positive extrovert’. Di era sekarang, koruptor termasuk bagian terbesar dari white collar criminal (WCC) ini. Selanjutnya dia tulis: ’Empirical evidence shows white collar criminlals to be extroverted, being described as particularly calculating. Extraversion is therefor expected to be associated with a higher propensity to commit WCC.’

Karena itu KPK harus pikir dua kali sebelum pindahkan KPK ke daerah dan terutama daerah extrovert.

1 COMMENT

  1. “Empirical evidence shows white collar criminals to be extroverted, being described as particularly calculating. Extraversion is therefore expected to be associated with a higher propensity to commit WCC.”

    Dari kutipan ini jelaslah bagaimana hubungan WCC dengan tipe manusia extrovert. Karena itu KPK harus pikir dua kali sebelum bikin KPK di daerah dan terutama didaerah yang didominasi oleh extroversi.

    Tetapi kalau ditinjau dari segi kontradiksi, artinya bahwa semua proses kontradiksi akan berkembang termasuk orang-orangnya yang terlibat dalam proses, maka bisa terjadi sebaliknya, artinya KPK daerah bersangkutan bisa jadi lebih kuat dan lebih maju dalam menghadapi WCC. Syarat pertama dan utama tentu adalah bahwa KPK mengerti dan memahami tipe manusia yang berdominasi di daerah tempat kerjanya. Dan lebih hebat lagi kalau pimpinan KPK setempat itu mengerti betul komposisi anggota timnya sendiri berapa yang introvert dan berapa orang yang extrovert.

    Kalau KPK mengenal dirinya dan juga bisa mengenal orang-orang diluar dirinya yang bakal dihadapi, pastilah akan lain jalan ceritanya. WCC tak akan berkutik. Tugas KPK bisa berhasil dan rakyat beruntung bisa berkembang dan maju tanpa uang hilang kedompet WCC. Uang rakyat bisa digunakan untuk membangun, untuk kesejahteraan rakyat. Jadi KPK bisa juga lebih maju di daerah extroversi, asalkan KPK paham dominasi psikologi dan kultur orang-orang dari daerah bersangkutan.

    MUG

Leave a Reply