Menyatakan Jati Diri

1
239

plato 3Oleh: Plato Ginting (Yogyakarta)

 

 

Sebenarnya kalau kita mau lihat sekeliling kita, semangat seperti KBB (Karo Bukan Batak) ini bukanlah hal baru apalagi dibilang kurang dahin.

Aku punya seorang teman dekat ketika kuliah orang Padang. Kami memang ada beberapa teman kompak. Ada yang Jawa, Tionghoa, Tegal dan aku sendiri Karo. Dari dulu mereka selalu menyebut aku orang Batak, bahkan mereka memanggil aku bang karena mereka pikir sama mas dengan bang. Padahal kami seumuran. Ditambah lagi karena kami semua jurusan musik dan kebetulan instumenku adalah vocal.

Karena memiliki suara yang lumayan tinggi, mereka sering mengatakan suaraku kayak Judika. Orang-orng Batak memang suaranya tinggi-tinggi ya kata mereka selalu. Di mata mereka, aku itu sangat Batak. Waktu itu aku masih Semester 6 dan sikit-sikit membaca tentang KBB.

Suatu waktu, ketika kami sedang nongkrong seperti biasa, aku berbicara kepada mereka mengatakan ada yang mau kusampaikan. Mereka semua mendengarkan. Pada saat itu, kami berbicara serius, karena memang teman-temnku ini orang yang suka membahas apa aja sampai ke alien-alien pun kami bahas.


[two_third]Barulah mereka paham[/two_third]

Saat itulah aku bilang bahwa sebenarnya aku bukan orang Batak. Mereka pun kaget. “Kog bisa?” tanya mereka. Aku jelaskanlah seluk beluk tentang Karo dan Batak sebagaimana aku dapatkan infonya di grup facebook Jamburta Merga Silima (JMS) dan dari yang aku pelajari sendiri juga. Barulah mereka paham. Sejak itu, mereka teman-teman dekatku ini tidak pernah lagi memanggil aku Batak. Malahan beberapa temanku memanggil aku Pal.

Kembali ke temanku yang orang Padang. Dia termasuk yang paling serius ketika mendengarkan penjelasanku tentang KBB. Setelah aku menjelaskan baru kemudian dia angkat bicara.

“Sebenarnya, aku juga bukan orang Padang,” katanya.

Waduh, kali ini aku yang bingung. Padahal kami semua tahu dia orang Padang. Baru dia bilang: “Aku ini orang Minang.”

Banyak orang berpikir semua orang Minang itu orang Padang. Padahal, Padang itu adalah nama sebuah kota di Sumatera Barat. Hal itu jugalah yang membuat orang Sumatera Barat merasa kurang srek ketika dibilang orang Padang. Bahkan sampai warung makan pun jadi warung makan Padang semua tulisannya.

“Orang Minang asli yang bukan dari Kota Padang akan menuliskan Warung Makan Minang saja di warungnya,” katanya.

“Nah, jadi kami selalu disebut orang Padang, padahal kami bukan orang Padang. Hanya orang yang tinggal di Kota Padang lah bisa disebut orang Padang. Tapi, karena malas menjelaskan panjang lebar jadi kami diam aja,” urainya.

Sekian dulu ceritaku. Nanti kalau kujelaskan lagi cerita temanku orang Tegal yang sering disebut orang Jawa juga terlalu panjang nanti tulisan ini.

1 COMMENT

  1. Menarik sekali penjelasannya Plato Ginting.
    Dan juga sangat aktual memang.
    Ingin juga tahu orang Tegal dan mengapa Warteg ya?

    Salam
    MUG

Leave a Reply