Kolom M.U. Ginting: Kebebasan Berpendapat

0
102

M.U. Ginting“Pemutaran film merupakan bagian dari kebebasan berkumpul dan berserikat yang sudah dilindungi haknya oleh undang-undang. Jika ada yang membubarkan paksa berarti tidak patuh undang-undang,” kata Gus Sholah adik presiden ke 4 Gus Dur dalam mengecam  tindakan pembubaran paksa nobar film Senyap The Look of Silence karya Josua Oppenheimer.

Film ini adalah bagian kedua setelah yang pertama The Act of Killing menceritakan kejadian tahun 1965 pembunuhan massal yang dilakukan oleh Orba Soeharto. Masih sangat banyak dari generasi muda bangsa Indonesia yang sama sekali tidak mengetahui peristiwa sejarah yang menyedihkan ini, atau mengetahui hanya sebagian dan dipelentir pula. Karena itu film ini menunjukkan fakta dari pihak yang melakukan sendiri, maka film ini banyak objektifnya dibandingkan dengan analisa politik semata-mata. Cukup melihatnya saja dan tiap orang bisa bikin analisa dan kesimpulan sendiri.


[two_third]hak untuk berkumpul dan menyatakan pendapat jelas dilanggar[/two_third]

Kebebasan untuk melihat film itu adalah hak tiap orang, begitu juga hak untuk berkumpul dan menyatakan pendapat jelas dilanggar kalau nobar dibubarkan atau pertunjukan dilarang. Kebebasan bukan untuk melarang yang lain nonton atau berikan pendapat. Di US ada kebebasan berpendapat dan juga ada perlindungan bagi orang yang kasih pendapat sekiranya pendapatnya tak disukai. Ini tidak jelas di Indonesia, sehingga Joshua pembikin film  tak berani ikut nobar di Indonesia.

Penjaga keamanan di berbagai tempat mestinya mengerti tugasnya siapa yang harus dilindungi dari sikap memaksakan kehendak oleh grup tertentu yang lebih memaksakan ’haknya’ melarang kebebasan orang lain yang sesuai dengan Undang-undang 1945.

Kebebasan memberi pendapat adalah syarat penting untuk menciptakan situasi mendorong lancarnya proses pertukaran pikiran di dalam satu masyarakat, meningkatkan semangat tiap orang untuk memperkenalkan ide-ide dan kreasinya yang dianggap berguna bagi perubahan dan kemajuan masyarakat. Tak mungkin ada pembaruan dan inovasi sosial kalau tak ada kebebasan, atau ada golongan tertentu mencoba memaksakan kehendaknya  menyetop orang lain berkumpul atau nonton film seperti yang disinyalir Gus Sholah.

Leave a Reply