Kolom M.U. Ginting: Hamzah, PLN dan Negeri Ini

2
138

M.U. GintingMengangkat orang yang diragukan seperti Chandra M. Hamzah jadi pejabat penting di  PLN merupakan soal penting dan fatal  bagi kelanjutan hidup perusahaan negara itu. Perusahaan negara di mana saja umumnya berjalan tanpa dirasakan oleh rakyat banyak (publik). Yang cepat dirasakan dan disedari ialah kalau tak jalan, seperti ’giliran mati lampu’. Tetapi apakah ada kaitannya dengan penggelapan duit oleh macam-macam pejabat di berbagai segala tingkat biasanya tak diketahui oleh publik.

Seperti contoh Hamzah ini, tak banyak yang tahu latar belakangnya atau masih tersangkut persoalan korupsi. Kemungkinan juga ada kalau Jokowi tidak tahu atau belum dapat infonya. Apalagi ini terjadi di era SBY dan sekarang mestinya diperjelas bukan malah pura-pura tak tahu dan ditanam begitu saja persoalannya.

Kalau publik tidak merasakan apa yang terjadi dan berjalan tiap harinya di PLN maka sebaliknya orang-orang berkuasa di PLN melihat, merasakan dan mengerjakan tiap hari proses yang terjadi, termasuk sangat memperhatikan celah-celah yang ’bermanfaat’ bagi pribadi tiap pejabat.


[two_third]kebiasaan publik yang tidak merasakan apa yang terjadi di PLN[/two_third]

Ini hanya naluri alamiah manusia, terutama bagi orang yang memang sudah punya masalah tadinya. Menggunakan tiap kesempatan yang ’bermanfaat’ juga naluri alamiah manusia. Kesempatan ini terbantu juga oleh kebiasaan publik yang tidak merasakan apa yang terjadi di PLN kecuali giliran gelapnya. Tetapi, inipun sudah menjadi kebiasaan saja, atau rakyat sudah jadi apatis saja. Bedanya sekarang ialah di era internet ini semua kejadian itu bisa disiarkan dan bisa dibaca banyak orang sehingga ’keamanan’ pihak pelaku tak begitu terjamin lagi seperti era lalu tanpa internet apalagi di bawah pemerintahan diktator kayak Soeharto.

Soal Hamzah memang harus diselesaikan lebih dahulu dan baiknya memang demikian sebelum dia diangkat jadi pejabat yang akan menentukan perkembangan PLN.

Salah satu persoalan abadi PLN yang diketahui oleh publik ialah giliran gelapnya, sudah begitu sejak era kemerdekaan, bahkan giliran gelap ini tak ada di era kolonial. Begitu juga kalau mau pasang listrik bukan main rumitnya, sepertinya dengan sengaja dibikin rumit. Karena naluri duit tadi?

Apa yang diperlukan sekarang ialah supaya berita dan info soal-soal PLN, pejabatnya dan penggelapan/korupsi di situ harus selalu disebarluaskan supaya semua orang tahu dan kasih pendapat. Persoalan pembodohan rakyat di PLN  jadi diskusi umum, dialog dan debat ilmiah yang sangat bermanfaat bagi perkembangan PLN dan nation negeri ini secara umum.

Jika diam saja tak akan ada perubahan.

2 COMMENTS

  1. Bujur untuk tulisan bengkila yang menggugah ini.

    Dari pertanyaan soal latar belakang beliau, aku pribadi justru melihat kehadiran beliau sebagai harapan akan lebih baiknya pengelolaan (prosedur) di PLN. Kasus yang dulu pernah didengungkan oleh seorang Jenderal, sehingga membuat heboh Cicak VS Buaya, tak sekalipun memberikan hasil yang dapat dipakai sebagai acuan hukum, bahwa beliau dinyatakan bersalah. Hanya saja kita bersama juga tahu, bahwa pemilihan anggota pimpinan KPK bukan semata masalah kemampuan, namun juga politis.

    Bersama beberapa teman, sebetulnya kita juga terlibat dalam mesukseskan seorang sahabat yang sangat cakap soal permasalahan kelistrikan untuk menjadi pimpinan PLN yang baru, namun gagal karena tidak punya “gerbong politik” yang cukup kuat. Pada akhirnya yang terjadi bukan soal calon mana yang terbaik, melainkan “dalang” mana yang paling kuat. Tak satupun nama yang semula ikut fit & proper test lolos menjadi pimpinan, malah bankir yang tidak punya pengalaman di isu tersebut yang terpilih. Tentu saja ini berkat kekuatan sang “dalang”.

    Pada titik ini, memang menjadi relevan pertanyaan Bengkila mengenai track record dan kekhawatiran mengenai seperti apa kedepannya. Tapi aku pribadi justru melihat, terlepas dari jagoanku kalah, bahwa kehadiran beliau sebagai Komisaris Utama akan membawa perubahan (positif) bagi PLN. Tapi tentu saja kita tak boleh lengah, dan harus tetap kritis mengawasi. Meski ada kalak karo dalam jajaran pimpinan PLN yang baru, sikap kritis tentu harus dijadikan sebagai tanda sayang.

    Maaf kalau kurang berkenan, Bengkila.
    Tedeh ate nge ndai man bandu.
    Enggo ndekah kepe kita la erkomunikasi.
    Sehat-sehat kam Bengkila, dibata simasu-masu.

    • Cocok kuakap analisa situliskendu enda Rudy. Analisa ‘dalang’ enda pe payo kuakap. Maka bas soal kaipe lit rusur pro-kontra. Pendapat-pendapat bertentangan terus bermunculan, ertina kontradiksi (tenaga penggerak perubahan). Pendapat enda terus iuji bas dialog, diskusi, terus ku debat ilmiah, seh kari ku kebenaran si lanai lit bukti kebalikenna. Jenda kari kontradiksi enggo dung, mulai ka simbaru. ‘seh sura-sura tangkel sinanggel’ nina dialektika Karo kuno, ‘tes-antites-syntesis’ Karo.

      Bagi sikatakendu, “Tapi tentu saja kita tak boleh lengah, dan harus tetap kritis mengawasi. “. Setuju, enda me pedoman penting man banta kerina ikut ngawasi perdalanen bangsa enda, ertina pejabat-pejabat utama negara enda. Janah enda enggo mungkin perbahan internet, kerina enggo mungkin ikut ngawasi, ngomong janah nulis asa pemetehna sendiri bagepe pengalamen sendiri si niidah langsung atau tak langsung. tapi tak boleh diam saja, karena ‘jika diam saja tak akan ada perubhahan. Semua diuji diatas meja keterbukaan, yang sembunyi atau disembunyikan berarti itulah yang tak benar. Tetapi kalau belum bisa memberikan alasan yang bisa meyakinkan, bukan juga berarti tak benar. Alasan dan argumentasi ilmiah sering butuh waktu dan dalam proses.

      Salam ate tedeh man bandu Rudy. Ngarapken kam ras keluarga rusur sehat janah bahagia.

      MUG

Leave a Reply