Mabuk Tuak, Ketua OKP Tewas Dibantai Ginting Bersaudara

1
295

Supir KPUM 23 Sukses Perawani Pacar di Malam Tahun Barulubang idoIMANUEL SITEPU. NAMORAMBE. Dipicu oleh mabuk tuak saat acara kibotan, Ketua PP Ranting Desa Rumah Mbacang (Kecamatan Namorambe), Benly Sembiring (38) tewas dibantai [Senin 28/12: sekira 04.00 wib] oleh tiga pemuda desa setempat masing-masing Candra Ginting (38), Jon Iskandar Ginting als Ondeng (25) dan Deni Ginting (25).

Informasi diperoleh Soras Sirulo di lokasi menyebutkan, kejadian berawal di acara guro-guro aron Rumah Mbacang. Sebelum menonton gendang kibot di acara itu, Benly Sembiring terlebih dahulu minum tuak di salah satu warung tuak di Desa Lubang Ido [Minggu 28/12: sekira 22.00 wib] yang terletak tidak jauh dari Rumah Mbacang.

Ondeng Ginting juga berada di warung yang samas sedang minum tuak. Tidak diketahui pasti apa motifnya, tiba-tiba Benly Sembiring terlibat cekcok mulut dengan Ondeng Ginting.

Tak lama setelah kejadian cekcok itu, usai minum tuak, Benly Sembiring memilih pulang ke rumahnya. Namun, Ondeng Ginting ternyata menyimpan dendam terhadap ayah beranak 3 ini meski warga di dalam warung telah melerainya. Ondeng kemudian memberitahu kepada saudaranya, Candra Ginting dan Deni Ginting.

Begitu menerima laporan Ondeng Ginting, dengan membawa pisau tumbuk lada, ketiganya pun mendatangi kediaman Benly Sembiring di Desa Rumah Mbacang. Rumah Benly langsung dikepung. Selanjutnya, Ondeng pun memanggil-manggil  nama Benly seraya menyuruhnya keluar untuk diajak berkelahi.


[two_third]istri Benly menyuruh korban keluar dari pintu belakang[/two_third]

Karena Benly tak kunjung keluar, Ondeng pun memecahi kaca nako rumah korban. Melihat Ondeng berbuat anarkis, istri Benly menyuruh korban keluar dari pintu belakang. Namun, usaha Benly untuk menyelamatkan diri sia-sia. Begitu Benly keluar, Candra Ginting yang sedari tadi menunggu di belakang rumah korban langsung menampungnya.

Tepat di samping kolam ikan lele milik korban, Candra langsung menikam ulu hati korban dengan pisau belati hingga bersimbah darah. Begitu melihat Benly roboh, ketiga pelaku langsung melarikan diri.

Istri korban yang pertama kali mengetahui kejadian tersebut langsung berteriak minta tolong sehingga mengundang perhatian warga sekitar. Akibatnya, acara guro-guro aron sempat terhenti sejenak. Tempat kejadian pun langsung dikerumuni warga.

Anggota Polsek Namorambe yang menerima informasi langsung meluncur ke TKP. Selanjutnya, korban Benly dibawa ke RSU H. Adam Malik, Medan. Namun, di perjalanan menuju rumsh sakit, Benly akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

1 COMMENT

  1. Orang mabukpun dibunuh. Apakah ini jadi pelajaran bagi orang mabuk atau bagi yang tak mabuk. Kalau soal mabuk sudah jadi tradisi seperti ‘drug culture’ maka bunuh membunuh ini otomatis juga jadi tradisi. Kalau dalam perang etnis saling bunuh-bunuhan adalah karena pertengkaran kultur artinya kultur berbeda jadi dendam sekarat yang tak bisa diselesaikan tanpa perang seperti di Kalteng dan Rwanda.

    ‘Drug culture’ adalah baru barangkali baru setengah abad umurnya, dan dalam perjalanan makin besar dan luas seluruh dunia dan pada segala macam kultur. Atau jadi kultur baru dalam semua kultur lama/ tradisional. ‘Drug Culture’ adalah kultur yang tumbuh dibawah larangan didalam semua kultur tradisional dan dalam tiap masyarakat yang ada sekarang. Kultur apa saja tidak seharusnya tumbuh dan berkembang dibawah larangan. Karena larangan itu banyak sekali korban jiwa dalam kultur ini, dan juga banyak sekali aliran uang dalam kultur ini disamping banyak sekali juga yang dipenjarakan. Banyak bank bank besar global hidup dari aliran duit kultur ini.

    Dua macam kematian dalam kultur ini. Pertama yang mati karena aliran duit tadi (dibunuh), dan kedua yang mati karena obat itu mematikan orang, sakit dan akhirnya mati atau bunuh diri tak kuat lagi hidup. Seorang mabuk bilang:“My goal in life wasn’t living . . . it was getting high. Over the years, I turned to cocaine, marijuana and alcohol under a false belief it would allow me to escape my problems. It just made things worse. I kept saying to myself, I’m going to stop permanently after using one last time. It never happened.” Satunya lagi bilang:“It started with the weed, then the pills (Ecstasy) and acid, making cocktails of all sorts of drugs, even overdosing to make the rushes last longer. I had voices in my head, had the shakes and couldn’t leave home for six months. I thought everyone was watching me. I couldn’t walk in public places. ”
    Jelaslah bagi orang ini sudah tak berbeda, membunuh orang atau dibunuh orang.

    Kalau memang ini satu kultur yang sedang berkembang, hilangkan saja larangan, biar kultur ini berkembang sebagaimana mestinya suatu kultur akan berkembang dan bermanfaat bagi kemanusiaan. Beberapa tempat sudah dibebaskan seperti di Belanda (narkotika ringan), atau di Colorado dll (marijuana).
    Pelajaran dalam satu kultur akan bermanfaat kalau tak ada larangan, karena akan berkembang menurut cita-cita dan spirit kemanusiaan yang manusiawi.

    MUG

Leave a Reply