Kolom M.U. Ginting: Ahok Perlu Citra

0
125

M.U. GintingDalam rangka memperbaharui dan perbaikan pekerjaan Kota Jakarta, Ahok bikin perubahan, penggantian dalam Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Ini dia katakan di Balai Kota DKI Jakarta [Rabu 31/12].

”Soalnya saya mementingkan citra saya,” kata Ahok.

Ketika itu juga dia menambahkan, dirinya paranoid karena banyaknya pembangkangan kepadanya. Ini merupakan salah satu cara yang dilakukan SKPD untuk mengulur waktu, kata Ahok. Bahkan, Ahok menduga ada persengkokolan antar SKPD. (www.merdeka.com).

Dua masalah yang menarik dari penjelasan Ahok:

Pertama, sebagai orang dari kultur China, Ahok terus terang katakan apa yang ada di dalam hatinya, seperti hal perlunya cari citra untuk dirinya dalam perpolitikan. Jarang pernyataan begini dari seorang kultur Jawa, misalnya. Orang Jawa merasakan kalau ngomong begitu akan bikin soal. Tetapi Ahok tidak merasa itu ada soal. Itulah way of thinking dan kultur dalam perbedaan dan dalam praktek kehidupan sehari-hari.

Masalah ke dua ialah persekongkolan dalam SKPD bikin pembangkangan kepada Ahok sampai dia merasa dirinya paranoid. Persekongkolan ini pastilah masalah besar bagi Ahok karena susah menghilangkannya, kalaupun mungkin dihilangkan.

Ahok pasti bisa melihat perbedaan. Misalnya, kalau dia memimpin sebuat perusahaan besar China yang didominasi oleh orang China atau dari kultur China, pos-pos penting perusahaan hanya boleh dijabat oleh orang China. Banyak perusahaan China di Indonesia yang pos-pos pentingnya hanya dijabat orang China.

Orang Indonesia banyak yang tidak mengerti mengapa demikian, atau hanya menganggap orang China diskriminatif saja. Tetapi dari pelajaran Ahok ini jelas sebabnya, perbedaan kultur tadi bikin perusahaan China tak akan jalan, kalau pos-pos penting perusahaan diserahkan kepada orang Indonesia.

Orang China berbisnis seperti robot. Istilah ’robot’ ini hanya untuk bikin gampangnya saja, begitulah kultur bisnis China. Mungkin juga maksudnya supaya kita yang bukan orang China tak usah ikut-ikutan jadi robot begitu. Kita barangkali lebih senang atau lebih bahagia dengan ’mangan ora mangan asal ngumpul’. Orang China tak perlu ngumpul asalkan bisnis jalan.

Di Eropah, orang bilang mereka itu (orang China) bekerja 24 jam sehari seperti robot tadi, dan tak pernah mengerti apa itu liburan (liburan tahunan di Eropah setiap musim panas selama 5 minggu dan dapat gaji penuh). Orang China yang ke Eropah juga masih sama pengertiannya dalam soal bisnis apa saja, atau pekerjaan apa saja. Tetapi lain halnya kalau orang Afrika atau orang Indonesia ke Eropah, mereka mengerti dan senang sekali dengan liburan tahunan itu. Apalagi orang Indonesia yang di Indonesia liburan tahunannya sangat sedikit.

Ahok punya cita-cita untuk mencemerlangkan Jakarta dan penduduknya. Sekiranya gerombolan SKPD itu terdiri dari orang-orang China atau setidaknya pos-pos pentingnya dipegang oleh orang China, pastilah lain jalan ceritanya dan Ahok kemungkinan akan berhasil. Tetapi orang-orang SKPD terdiri dari orang-orang Indonesia, dan lebih celakanya lagi terdiri dari berbagai suku dengan berbagai kultur pula. Saling tak mempercayai semakin tinggi semakin banyak ragam sukunya kata Prof. Putnam.

Leave a Reply