KEYBOARD DAN KARO

0
536

(Tanggapan atas tulisan Plato Ginting’s : JASA TARIGAN & KEYBOARD KARO, dilihat dari perspektif lain)

solidaritas
Sanggar Seni Sirulo

 

Oleh: Bintara Silangit (Sukanalu Simbelang)

 

bintaraTidak dapat dimungkiri kehadiran keyboard di tengah-tengah masyarakat Karo telah memberikan sebuah pilihan alat musik yang lebih sederhana dalam penggunaannya. Keyboard, khususnya ‘keyboard Karo’ menjadi pilihan yang sangat efektif dan efisien bagi pemusik Karo. Selain tidak ribet, keyboard Karo mampu memenuhi hampir seluruh kebutuhan akan musik dalam budaya Karo, terutama patam-patam dan gendang.

Kehadiran alat musik impor tentunya tidak hanya memberikan efek yang positif, namun juga berdampak negatif. Dampak negatif kehadiran alat musik keyboard ini terutama terasa pada kreatifitas orang Karo. Terpinggirkannya alat musik tradisional seperti ‘gendang lima sendalanen’ dan ‘gendang telu sendalanen’ mengakibatkan semakin berkurangnya orang Karo yang ingin mempelajari alat musik tradisional.

Yang menjadi pertanyaan sekaligus ketakutan terbesar bagi saya adalah : siapa yang akan menjadi penerus para pemusik tradisional Karo itu?

Di kampung saya, Sukanalu Simbelang, sepengetahuan saya tidak ada anak muda yang mampu memainkan alat musik tradisional ‘gendang lima sendalanen’ ataupun ‘gendang telu sendalanen’, surdam, ataupun balobat. Saya berharap saya salah dalam mengatakan hal ini.

Baiklah, abaikan saja Sukanalu Simbelang, karena mungkin di desa lain masih ada dan bahkan mungkin banyak.

Namun, kita tidak dapat menutup mata atas ketertarikan kaum muda Karo terhadap alat musik tradisional Karo yang semakin menipis. Kalau dulu hampir di setiap pemuda Karo mampu meniup surdam, sekarang, dalam satu kecamatan, berapa orangkah pemuda yang mampu meniup surdam? Tidak ada yang tahu pasti, namun mewakili Kecamatan Barusjahe, Sukanalu Simbelang dengan jumlah penduduk terbanyak di kecamatan Barusjahe, absen.

Saya sangat tertarik dengan pemikiran Plato Ginting’s, yang lebih memilih untuk memikirkan solusi ataupun alternatif atas ketertinggalan alat musik tradisional ini dibandingkan mengkritisi kehadiran alat musik impor, keyboard itu.


[two_third]Djasa Tarigan lebih dikenal sebagai seorang pemain kulcapi[/two_third]

Namun, jangan lupa, ‘penceng’ takkan pernah ada dalam masyarakat Karo tanpa kehadiran keyboard. Itu murni produk gendang keyboard. Juga jangan lupa, Alm. Djasa Tarigan memberikan warna berbeda atas musik keyboard Karo yang dia kreasikan, yaitu dengan tetap menyematkan kesyahduan nada alat musik tradisional kulcapi pada setiap pementasannya. Sebagai pelopor, Djasa Tarigan lebih dikenal sebagai seorang pemain kulcapi (tradisional) dibandingkan dengan pemain keyboard (modern).

Solusi yang paling masuk akal bagi saya adalah memperbanyak sanggar seni Karo, terutama seni musik. Saya sangat mengapresiasi semua pegiat seni Karo, terutama seni musik. Walau jumlah pemusik tradisional jauh lebih sedikit dibandingkan pemusik keyboard, namun para pemusik tradisional Karo itu adalah pahlawan bagi saya, terutama bagi eksistensi alat musik tradisional Karo. Sedikit itu ada, jangan diabaikan.

Solusi paling keji atas ketakutan akan hilangnya alat musik tradisional Karo itu adalah mengumpulkan pengetua adat se-Kabupaten Karo, dan mengeluarkan ‘fatwa’; keyboard haram dalam setiap acara adat dan budaya Karo. Namun, itu hanya akan menjadikan ‘fatwa’ tersebut bak jargon salah satu acara komedi di televisi swasta, ‘mengatasi masalah tanpa solusi’.
Ya, abaikan saja solusi terakhir itu, anggap saja tidak pernah saya ungkapkan.

Madan, wari perpudi ibas tahun duaribusepuluempat.

Mejuah-juah.

Tulisan terkait:

Tidurlah Dengan Damai Bersama Lantunan Kulcapimu, Kawan Kami Djasa Tarigan

Jasa Tarigan dan Kibot Karo


 

Leave a Reply