Dukun Patah Malumta

1
557

simon gintingmalumta 1SIMON GINTING. MEDAN. Kebiasaanku menelusuri setiap jalan yang asing bagiku. Kadang setiap jalan yang tak pernah kulalui akan kuusahakan melaluinya walau kadang terhimpit oleh jalan buntu. Tidak apa-apa, kataku dalam hati, meski harus memutar balik kereta tiger kesayanganku. Mataku selalu tajam melihat hal yang lucu, gaib atau bahkan unik bagiku.

Kali ini sasaranku terarah pada sebuah plakat kecil besi di pinggir jalan. Kutatap dan kuperhatikan: “Malumta”.

“Yah… obat, pengobatan tradisional Karo…” gumamku dalam hati.

Kuperlambat kendaraan untuk menelusuri sebuah gang kecil. Seakan pingin tahu siapa gerangan guru patah tulang tersebut. Kuperhatikan seorang sedikit tua siap menungguku.

“Ma’af pak, kam tau siapa yang punya dukun patah ini?” kataku.

“He, siapa yang sakit?” balasnya bertanya.

“Pak sitandaan lebe kita. Mergaku Ginting, aku perlu tambar tersiher, latih-latih ntah pe kemesengen,” kataku tanpa memikirkan apakah bapak itu orang Karo atau tidak. Hanya kata malumta yang aku pikir ejaan Karo. Malumta, Malemta.

“Maaf, pak. Kita tidak menjual obat dan biasanya yang sakit harus berobat di sini,” katanya.

Tak ada yang sakit, pak,” kataku dalam bahasa Indonesia karena bahasa Karo tak disahut dengan bahasa Karo.

“Obat yang pingin aku beli hanya untuk persiapan di rumah. Terkadang kita yang suka berolahraga ada yang terkilir, keseleo, atau kena api. Jadi, biasanya obat Karo seperti itu selalu ada di rumah. Tapi, kebetulan sekarang sudah habis,” kataku.

malumta 2“Tidak, pak,” katanya.

“Lagi pula, kita tidak jual obat,” lanjutnya sambil memejamkan mata dan mulutnya seakan berkomat-kamit.

“Menurut kata guru hatiku, kamu orang baik,” katanya.

“Kasih aja obat itu katanya dalam hatiku. Tapi obat ini jangan kam jual. obat ini cukup bagus. Obat patah tulang, terkilir, capek-capek, kena api atau digigit serangga, katanya seakan-akan menututku seperti tukang obat di Pasar Sambo yang sedang asyik dikerumuni pendengarnya.

“Tak apa-apa, siapa tau obatnya muzarab,” kataku dalam hati.

“Mari ke rumah kita dulu,” katanya.

Dengan mengikuti sang guru dari belakang kumasuk ke rumahnya.Wow, aku terkejut. Di dalam rumah kecil ternyata banyak pasien patah tulang yang sedang berobat inap sambil menunggu penyembuhan. 1, 2, 3, 4, 5, 6… mungkin lebih dari 6 orang yang sedang berobat.

“Wah, aku menemukan guru besar,” kataku dalam hati.

“Mari, di sini kam duduk,” kata sang guru sambil mempersilahkan padaku sebuah bangku.

“Kam jaga obat ini. Aku orang Pakpak tapi tahu bahasa Karo. Sebentar, sebentar dulu, biar kudoakan obat ini,” katanya lagi sambil memejamkan mata membaca mantra.

“Sudah. Pantanganya jangan dilangkahi. Lagi menggunakan obat jangan makan es dan daging babi. Tapi, kalau sudah sembuh sikat saja,” katanya.

“Ya, pak,” kataku.

1 COMMENT

Leave a Reply