Kolom M.U. Ginting: Bila Ahok Dikepung 10 Harimau

0
247

M.U. GintingAhok menggambarkan situasi birokrasi Jakarta seperti dikepung 10 harimau. Memang sudah sangat gawat situasi bangsa ini, terutama di tempat-tempat yang banyak ragam sukunya seperti di Jakarta.

Makin banyak sukunya makin tak ada saling percaya dalam masyarakat itu, kata Prof Putnam. Modal sosial yang akan jadi tulang punggung pembangunan sangat minimal. Modal sosial dasarnya ialah saling percaya antara semua anggota masyarakat.

Perjuangan Ahok membangun Jakarta dan terutama karena dia sendiri juga dianggap ’suku lain’ butuh energi sangat tinggi. Sangat jauh bedanya sekiranya Ahok memimpin satu perusahaan besar orang China dimana semua jabatan penting perusahaan dipegang orang China. Orang–orang Eropah Barat sudah mulai mengerti sifat orang China ini dan banyak pakai tenaga kerja China dalam semua tingkat perusahaan.


[two_third]karena banyaknya ragam suku[/two_third]

Tetapi, biar susahpun maju terus, Pak Ahok. Orang-orang jujur pasti mendukung, Orang-orang jujur ini kemungkinan sangat minim di lingkungan Ahok. Tak mungkin semua jabatan dari lingkungan keluarga/ famili sendiri. Tak juga mungkin dibikin dari mayoritas orang China. Jakarta adalah Indonesia dan banyak ragam sukunya. Soal minimnya rasa saling percaya, karena banyaknya ragam suku, masih belum dipahami juga oleh pengurus bangsa ini. Mungkin itulah persoalan pertama lebih dahulu dipahami sebelum memikirkan solusi ke tingkat lain.

Membangun negeri ini dari daerah, sering kita bilang. Di daerah masih ada yang bernama potensi lokal dari kultur tertentu. Di situ modal sosial tinggi atau pasti lebih tinggi karena satu kultur seperti Karo. Di daerah banyak kulturnya persoalannya sama dengan Ahok di Jakarta. Karena itu, perhatian besar harus ke daerah kultur dimana modal sosial pembangunan tinggi. Di Karo banyak juga ’pegawai mumpung’ yang pegang kekuasaan. Pejabat mumpung ini sangat merusak modal sosial Karo dan penghalang utama pembangunan daerah atas dasar MODAL SOSIAL.

Leave a Reply