Seminar Mitos dan Sejarah Batak di Unimed

7
516
mitos batak 1
Ketut Wiradnyana

alexander firdaustALEXANDER FIRDAUST. MEDAN. Seminar dengan thema ‘Telaah Mitos dan Sejarah Dalam Asal Usul Orang Batak’ yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Negeri Medan (Unimed) telah berlangsung di Ruang Sidang FIS Unimed [Jumat 9/1]. Seminar ini menghadirkan 3 narasumber, yakni Prof. Dr. Uli Kozok dari University of Hawai, Prof. Dr. Bungaran Simanjuntak dari Universitas Negeri Medan, dan drs. Ketut Wiradynyana MA dari Balai Arkeologi Medan.

Bungaran Simanjuntak yang tampil sebagai pembicara pertama membawakan makalah dengan judul ‘Korelasi Causal Antara Mitos dan Sejarah Dalam Mengembangkan Sejarah’. Sedangkan Ketut Wiradyanyana yang tampil sebagai pembicara ke dua membawakan makalah dengan judul ‘Identifikasi dan Penelusuran Jejak Peradaban Batak Toba di Pulau Samosir’. Adapun Uli Kozok mambawakan makalah dengan judul ‘Memahami Fakta di Dalam Mitologi Si Raja Batak’.

Meski sebagian peserta menduga seminar ini membahas tentang sejarah asal-usul orang Batak yang dianggap terdiri dari beberapa sub suku bangsa Batak seperti Pakpak, Karo, Simalungun dan Mandailingh, ternyata Batak yang dimaksud dalam seminar terbatas pada apa yang kadang-kadang disebut juga Batak Toba. Adapun Karo, Mandailing, Simalungun, dan Pakpak yang selama ini dianggap juga oleh sebagian orang sebagai bagian Batak ternyata bukanlah Batak yang dimaksud di dalam seminar ini.

mitos batak 2
Uli Kozok

Terkait dengan itu, salah seorang peserta seminar yang kebetulan orang Karo merasa senang sekali ternyata seminar ini menganggap Karo bukan bagian Batak.

Semua materi seminar yang dibahas sejak Pukul 14.00 WIB ini melulu menyangkut Batak yang terbatas pada apa yang kadang disebut juga Batak Toba, sementara pembahasan tentang Karo tak ada sama sekali.

“Seminar ini berthema tentang telaah mitos dan sejarah dalam asal-usul orang Batak, namun yang dibahas tak sedikitpun menyangkut tentang Karo. Dengan demikian maka sudah jelaslah bahwa Karo memang bukan Batak,” ujarnya dengan nada tegas dan puas.

Hal menarik yang perlu dicermati dalam seminar ini, yakni dari pemaparan materi yang dibawakan oleh Ketut Wiradnyana. Menurut Ketut, berdasarkan Ilmu Geoglogi, setelah terjadinya kaldera Toba 75.000 tahun lalu, Pulau Samosir kemudian baru muncul ke permukaan setelah 30.000 tahun belakangan. Hal ini kemudian disusul Tuktuk yang muncul ke permukaan setelah 5.000 tahun yang lalu.

“Berdasarkan Ilmu Geologi ini, maka kita mempertanyakan sejak kapankah Pulau Samosir mulai dihuni oleh Manusia? Berdasarkan penggalian yang saya lakukan di Sianjur Mula-mula, maka hasilnya didapatkan sekitar 600 tahun yang lalu,” ujarnya.

Begitupula menurut Ketut, bila dikaji berdasarkan tarombo Si Raja Batak, maka akan didapatkan hasil kehidupan awal orang Batak yang masih sangat muda, yaitu sekitar 700-800 tahun yang lalu.


[two_third]kehidupan awal orang Batak juga tergolong masih muda[/two_third]

“Berdasarkan tarombo dari Si Raja Batak, kehidupan orang Batak hingga sekarang terdiri dari 28 sampai 32 generasi. Adapun perkiraan untuk masing-masing generasi terdiri dari 25 tahun. Dengan demikian, maka kehidupan awal orang Batak juga tergolong masih muda, yakni antara 700 hingga 800 tahun,” ujarnya.

Keberadaan kehidupan awal orang Batak ini kemudian diperbandingkan Ketut dengan hasil penggalian yang dia lakukan di Loyang Mandale, Loang Ujung Karang, Aceh Tengah beberapa tahun lalu. Dari penggalian tersebut ditemukan kerangka manusia purba yang diperkirakan telah berusia 5000 tahun.

“Berdasarkan hasil serangkaian tes yang dilakukan, DNA kerangka manusia purba yang ditemukan tersebut identik dengan DNA orang Gayo dan Karo,” paparnya.

Tidak jauh berbeda dengan pendapat Ketut, Uli Kozok juga berpendapat hampir sama bahwa keberadaan orang Batak memang masih muda sekitar 600 tahunan. Pendapat ini juga kemudian dikuatkan oleh Dr. Ichwan Azhari saat memberikan komentar pada sesi tanya jawab.


7 COMMENTS

  1. Batak yang dimaksud dlm seminar ini jelaslah mereka yang sapaannya Horas, nyanyiannya lagu Batak, sebagian bergereja di HKBP, menarinya tortor, tanah leluhurnya Tano Batak dengan sebutan geografis Tapanuli. Jelaslah hsl seminar ini secara telak dan tuntas menolak pendapat sementara kalangan yg menggambarkan adanya hubungan geneakologis (DNA) antara Karo dan Batak, termasuk pendapat dari mereka yg mengatakan Batak lbh tua dari Karo.

  2. DNA Karo dan Gayo sudah berumur 5000 tahun dari keterangan arkeolog Ketut Wiradyana dalam seminar mitos sejarah Batak di Unimed. Anyaman dan kerangka/fosil yang ditemukan sudah berumur 7400 tahun dalam keterangan lalu dari penemuan arkeologis USU dibawah Ketut. Sedangkan grup manusia yang dinamakan orang Batak baru berumur 700-800 tahun menurut hasil galian arkeolog Ketut. Jadi sudah tak mungkinlah pembicara utama seminar ini ngomong lagi soal Karo sebagai bagian dari Batak.

    Apakah dengan begitu pencerahan KBB sudah tak diperlukan lagi?

    Masih sangat banyak orang Karo maupun orang Batak dan orang-orang Indonesia lainnya maupun orang LN yang belum pernah baca atau dengar soal penemuan dan keterangan ahli-ahli akademik ini. Karena itu masih harus diteruskan pencerahan KBB. Lihatlah misalnya gereja Karo GBKP yang masih jauh dari info ini. Bukan karena mereka malu atau tak mau, tetapi belum pernah baca dan belum pernah dengar perkembangan terakhir soal ilmu pengetahuan, adalah alasan yang lebih masuk akal.
    Uli Kozok sendiri masih belum memperbaiki pengaburan aksara Karo yang dia sebut ‘aksara Batak’. Terutama dalam pembagiannya ada 5 aksara Batak, disitu termasuk akara ‘Batak Karo’ katanya. Padahal jelas bahwa aksarra itu aslinya adalah aksara Karo, terlihat dari huruf-huruf yang hanya bisa diucapkan oleh orang Karo.

    Disamping itu tak mungkin 5 suku (Toba, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun) bersamaan waktu menemukan atau menciptakan huruf-huruf yang sama atau hampir sama (kecuali 3 huruf yang hanya bisa diucapkan orang Karo). Harus ada yang mencipta dan yang lain menirukan. Jadi dalam soal aksara ini harus ada yang menciptakan lebih dulu dan Batak-batak lain menirukan saja. Menjiplak yang mereka bisa ucapkan dan meninggalkan yang tak masuk dalam ucapan lidah mereka. Kozok tidak menjelaskan persoalan ini, terutama karena dia juga bukan orang Karo, tak bisa mengucapkan bunyi huruf itu dalam bahasa Karo.

    Selain itu KBB adalah bagian dari fenomena sejarah dalam ethnic competition Indonesia dan dunia, dalam ethnic//cultural revival dunia. Dan juga adalah pencerahan penting dalam cultural revival Karo, dalam revolusi keadilan bagi semua kultur terutama kultur etnis-etnis minoritas dunia. KBB adalah fenomena sejarah ethnic revival Karo dan Karo renesans. KBB adalah gerakan pencerahan dan perjuangan keadilan bagi semua kultur.

    MUG

Leave a Reply