Rekonstruksi Mitos Siraja Batak

3
436

steven 3steven 1STEVEN AMOR TARIGAN. MEDAN. Prof. Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak yang dikenal oleh para mahasiswanya dengan julukan BAS adalah salah satu diantara 3 narasumber di seminar mengenai ‘Telaah Mitos dan Sejarah Dalam Asal Usul Orang Batak’ yang dilaksanakan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah dan UNIMED Pers di Ruang Sidang FIS UNIMED Medan [Jumat 9/1]. Adapun makalahnya berjudul   “Penyebaran Manusia Korelasi Causal Antara Mitos dan Sejarah Dalam Mengembangkan Ilmu Sejarah”.

Dalam pemaparannya, BAS menyatakan mitos adalah semacam cerita yang diciptakan turun menurun dari jaman nenek moyang kepada keturunannya dan tetap dipercayai oleh keturunannya. Mitos diciptakan oleh manusia untuk tujuan tertentu baik untuk bangsanya maupun untuk melindungi dirinya dari serangan bangsa lain. Mitos yang ada pada orang Batak salah satunya tentang nenek moyang orang Batak yang turun dari langit ke atas Gunung Pusuk Buhit dan menetap di Sianjur Mula-Mula. Di beberapa tempat seperti Jawa juga ada mitos yang sangat luar biasa seperti Jayabaya, memiliki pohon silsilah raja Jayabaya yang dibagi menjadi tiga golongan seperti : 1. Sejarah silsilah manusia, 2. Sejarah silsilah banu jan, 3. Sejarah silsilah campuran manusia dan banu jan.

Menurutnya, dalam rangka penelusuran sejarah orang Batak khususnya orang Toba, selain telah memiliki mitos atau legenda yang dipercayai keturunan Batak Toba itu adalah bagian dari sejarah mereka. Namun, jika dikaji menurut nalar normal manusia, tidak mungkin dipercaya atas kebenaran mitologi tersebut, tapi yang perlu kita pikirkan apa yang melatarbelakangi nenek moyang melahirkan mitos yang sedemikian hebat.

Menurut penelusuran beliau, dari mana asal usul nenek moyang orang Batak, walau masih premature namun jalurnya sudah semakin konkrit dan dibutuhkan pembuktian arkeologi, diikuti rekonstruksi penelusuran dimulai dari Tanah Batak terus ke Asia Selatan, ke Tibet lalu ke negeri Tiongkok.

bangsa Toba Tartar pernah menaklukkan tentara Cina

Masih menurut BAS dalam pemaparannya, beliau pernah membaca data dokumen, maka nenek moyang bangso Batak berhubungan dengan keberadaan dengan bangsa Toba Tartar di Asia Utara (Utara Tiongkok). Pada masanya, bangsa Toba Tartar pernah menaklukkan tentara Cina, dan untuk tanda perdamian Kaisar Cina Kao Tsu menghadiahkan putrinya sebagai isterinya kepada Panglima Tartar. Sejak saat itu, bangsa Toba Tartar banyak belajar terhadap bangsa Cina untuk hidup beradab dan tidak tinggal di tenda-tenda di padang gurun, menjarah, berperang dan selalu di atas kuda.

Bangsa berambut hitam, yang selalu naik kuda itulah sebenarnya yang menjadi bapaknya orang Batak secara geneologis, sementara putri Kaisar Cina Kao Tsu menjadi ibu moyangnya orang Batak. Untuk ini perlu pendalaman dengan riset yang terus menerus dengan metode pembacaan dokumen asal Cina, Mongol, Toba Tartar, Jepang, Tibet, Muangthai, dll. Metode penggalian arkeologi pun perlu dilakukan, baik di Tanah Batak, Asia Selatan, Tibet dan Tiongkok, terutama di sebelah Utara sekitar Kota Loyang di sebelah selatan Peking yang sekarang.

“Ada dugaan saya, di Loyang itulah bermukim pertama sekali leluhur orang Batak sesudah perkawinan dengan putri Cina dan Panglima Toba Tartar. Perlu pembuktian metodologi antropologi fisik, arkeologi, sastra dan cerita rakyat untuk keberhasilan menulis sejarah asal usul orang Batak terutama Toba,” tuturnya.

Selanjutnya, BAS menganjurkan untuk mengetahui sejarah Bangsa Batak secara lengkap, sebaiknya dilakukan penelitian dan penulisan sebagai rencana grand design sebagai berikut : 1. Penelitian tentang Perang Bangsa Tartar melawan Cina, pemberian upeti putri kaisar, 2. Perang Cina dan Tartar melawan Mongol, 3. Toba Tartar mengadopsi budaya dan karakter bangsa Cina, 4. Toba Tartar di Tibet, 5. Migrasi dari Tibet ke Selatan, 6. Burma Utara (Bangsa Karen), 7. Muangthai (Bangsa Kacin), 8. Migrasi dari Khmer ke Indo Cina terus menyeberang laut menuju Sumatera (Suku Komering), Sulawesi (Toraja), Taiwan, Philipina, Gayo, dan Danau Toba.

Di penghujung pemaparannya beliau mengatakan mitos bagi orang Batak adalah sangat fungsional dalam mendukung migrasi yang dilakukan nenek moyang dan untuk menyembunyikan diri, menghilangkan jejak dari musuhnya bangsa barbar dan Mongol, maka nenek moyang “mungkin” menciptakan mitos untuk melindungi diri dan menjaga keselamatan. Oleh karena itu, pendidikan sejarah dan antropologi sangat erat kaitannya satu sama lain terutama bagi ilmuan antropologi sangat membutuhkan pendekatan sejarah untuk mendukung penelitiannya.

“Sebaliknya, orang sejarah perlu meningkatkan kapasitas dan kualitas penelitian ilmu sosial untuk mendukung kegiatan yang sifatnya berbasis sejarah,” katanya mengakhiri.


3 COMMENTS

  1. Sayang pembuat web tidak menyebutkan dokumen yang dibaca BAS sebagai narasumber.
    Apakah ada kemungkinan memotong cerita mitos dan menafsirkannya sehingga lebih mudah memahaminya? Misalnya: mitologi Batak Toba mengatakan bahwa yang pertama turun ke dunia tengah adalah Si Boru Deak(ng) Parujar. Mungkinkah ini mengandaikan bahwa orang Batak pertama kali ikut marga ibu? Sebab beberapa marga Batak juga lebih menonjolkan ibu seperti: Naimbaton, Naipospos, Naimarata sebagai simbol kesatuan marga? Sebutan Si Boru Deak Parujar juga menunjukkan ciri yang disebut terakhir.

  2. Prof BAS ini melukiskan kehidupan Batak itu dari mitos ke mitos, tidak ada satupun fakta ataupun paparan yg mengarah ke bukti konkrit. Tapi itu urusan orang Batak-lah dengan Professor-nya, asal jangan mitosnya itu menyerempet2 Karo gak masalah buat kita.

  3. Professor ini banyak mitosnya daripada ilmunya (ilmiahnya). Sejarah kemanusiaan adalah ilmu dan iimiah. Sejarah mitos adalah mitos bukan ilmu yang ilmiah.

    “Sebaliknya, orang sejarah perlu meningkatkan kapasitas dan kualitas penelitian ilmu sosial untuk mendukung kegiatan yang sifatnya berbasis sejarah,” katanya mengakhiri.

    Ada betulnya pernyataan ini, tetapi lebih betul lagi kalau dibilang orang sejarah perlu belajar disiplin apa saja yang lain untuk mendukung ‘kegiatan yang sifatnya sejarah’ artinya bukan hanya ilmu sosial. Juga sangat perlu misalnya antropologi,, etnologi, ekonomi dan juga tak kalah pentingnya atau mungkin yang paling penting ialah dibidang politik tiap periode sejarah itu.

    MUG

Leave a Reply