Begu dalam Kebudayaan Karo

1
402

Oleh: Bintara Tarigan Silangit (Medan)

bintaraSaya tertarik pada sebuah diskusi beberapa hari lalu dengan kak Ita Apulina Silangit, terkait pengertian begu. Dalam diskusi itu, kami menurut pemikiran kami masing-masing mengartikan kata ‘begu’ itu telah mengalami penyempitan/pendangkalan makna, peyorasi.

Setiap kali mendengar kata ‘begu’, seseorang dan terutama orang Karo biasanya langsung mengartikannya secara negatif. Begu diartikan sebagai setan yang menjadikan penyakit atas orang lain, atau menjauhkan rejeki dari orang lain.

Saya lupa persisnya dimana saya baca dan siapa pengarang bukunya, bahwa manusia dalam kepercayaan masyarakat Karo terdiri dari tiga bagian, yaitu: 1. Tendi (jiwa),
2. Begu (roh orang yang sudah meninggal, hantu), 3. Daging (tubuh). Jadi, begu itu disebut roh dalam bahasa Indonesia.

Dalam kamus Karo – Indonesia, roh berarti; kesah; tendi: — yang melindungi beraspati; — jahat bala gege; setan; angin-angin; si Gunja; begu; — di atas loteng nini para; —yang menolong dukun jungjungen; — yang menyebabkan celaka sangkar; — hutan simada kerangen; — pelindung seseorang jinujung; dia mengajak tujuh — lebih jahat daripada dia ibuatna pitu jinujung latlaten asang ia; jenujung; sudara; — pelindung kampung bahuta kuta; —yandg melindungi rumah beraspati rumah; —”guru sibaso” yang bertindak sebagai pembantunya untuk mengambil “begu” ke rumah perkentas; dihinggapi — jahat begun; — kudus Kesah Sibadia; kemasukan — jahat setanen; orang yang kemasukan — jahat si setanen; hilang —ku bene rumatku; sebangsa~ jahat berwajah jelek yang menakutkan jin; nama — wanita sidang bela; dulu keadaan sakit disebabkan — itu sidang belan; nama — di tempat persembahan suatu kampung berangsang; sej — begu lumayang; sej — halus abut-abut (DP); nama — perempuan yg menerinta rob org yg meninggal di kuburan ame ngagah; ame agah (DP); sej — yang menelan bulan (se¬waktu gerhana bulan) rahu.

Menurut kamus tersebut, dapat diartikan bahwa begu (roh) ternyata memiliki makna yang luas, tidak negatif.

Orang Karo juga memercayai bahwa setiap orang memiliki roh penjaga yang sering disebut begu jabu. Begu jabu ini dipercayai akan menjaga keturunannya dari mara, memberikan rejeki, memberi peringatan akan sebuah bencana, dan juga (dalam beberapa kasus khusus) memberikan tawar (obat) atas penyakit yang sedang diderita oleh salah satu anggota keluarga.

Mengingat hal tersebut, akan terkesan keterlaluan bila dikatakan seorang ‘guru’, dukun Karo yang memiliki jinujung (roh pelindung) dikatakan perbegu. Penyebutan perbegu itu boleh saja dibenarkan mengingat semua orang berdasarkan kepercayaan orang Karo memiliki begu jabu. Namun karena begu dan perbegu ini telah mengalami penyempitan/ pendangkalan makna ke arah negatif, maka penyebutan itu menjadi tidak adil. Bukankah mereka (dukun Karo) tugasnya adalah menyembuhkan dan memberikan obat atas penyakit orang lain?

Sebutlah pengasuh begu latlat (roh jahat, roh yang menjadikan penyakit atas orang) sebagai perbegu, bukan saya, anda dan yang lain yang hanya tahu bahwa aku, kita, masing-masing memiliki begu jabu.

Itu menurutku. Jika ada perbedaan dengan pendapat umum, mohon masukannya.

1 COMMENT

  1. Menarik diskusi ini, soal ‘begu’ yang tak bisa dipisahkan dari budaya Karo, dalam kehidupan kepercayaan maupun pengaruhnya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Siapa orang Karo yang tak pernah dengar istilah ‘begu’. Banyak juga yang takut sama begu atau tak takut.

    Berbagai pengertian dalam istilah ‘begu’, negatif dan positif. Tetapi kelihatannya seperti penulis bayangkan memang negatifnya terlalu berdominasi pada era sekarang ini. Ketakutan akan dicelakakan oleh begu, seperti begu ganjang misalnya. Ada atau tidak tetapi orang takut saja. Banyak yang jadi korban kroyokan masa karena dituduh memiliki begu ganjang. Ada juga begu juma atau begu juman dan juga begu latlat itu. Ada begu rumah, sepertinya malaikat pengawal kalau dalam agama katolik atau kristen.

    Perubahan dan perkembangan didepan kita sekarang ialah soal apapun yang menyangkut kehidupan selalu bisa dan menarik disiskusikan oleh banya orang atau diperdebatkan sehingga berangsur-angsur pengertian sesuatu hal seperti ‘begu’ ini berangsur berubah atau akan menjadi satu diskusi berguna bagi perkembangan sosial dalam masyarakat terutama masyarakat Karo.

    Banyak istilah atau pengertian yang menjalani perubahan dan perkembangan positif dalam era INTERNET terutama dengan mengikutkan jutaan orang dalam diskusi dengan bantuan media sosial. Contoh konkret bagi kita dalam soal lain ialah istilah ‘batak’ dalam KBB yang dengan bantuan penemuan baru dalam soal arkeologi telah menjadi patokan dalam menilai Karo dan suku Karo yang terbukti tak ada hubungan langsung dengan suku Batak dari segi DNA, umur dan kultur. Perkembangan diskusi dan debat dalam soal ini terutama dalam membantah definisi kolonial Belanda tentang istilah ‘Batak’ yang jelas hanya berkepentingan memperkuat kekuasaan kolonialnya di Indonesia, dengan taktik membagi-bagi dan memecah belah negeri kita dari segi kultur dan daerahnya.

    Istilah-istilah Karo, Batak, dan Begu sedang dalam proses perkembangan. Karo, Batak dan Begu in motion dalam proses perkembangan dunia.

    MUG

Leave a Reply