Suburnya KBB di Media Sosial

1
151

Oleh: Brandy Karo Sekali (Medan)

Lingga Gayo
Ilustrasi: Darul Kamal Lingga Gayo

Pada bulan Mei tahun 2003 (11 tahun silam), dimana saat itu bertepatan dengan HUT koran SIB, maka di koran yang identik dengan masyarakat Batak tersebut pernah dimuat sebuah judul yang sangat bombastis, yakni “Dimana Ada Masyarakat Karo di Situ Ada SIB”. Judul berita tersebut tentu saja ada benang merahnya dengan keberadaan masyarakat Karo yang selama beberapa dekade waktu itu selalu disuguhi dengan pemberitaan pro Batak dari Harian SIB.

Mengingat begitu lamanya sebuah koran yang memonopoli sumber pemberitaan di tengah-tengah masyarakat, maka hal ini juga tentu berpengaruh terhadap pola pikir orang Karo pada saat itu, dimana mereka akan tetap mengagap diri sebagai bagian dari Batak, sebab demikianlah informasi yang selalu disiarkan oleh media massa dan mereka baca.

Keadaan arus informasi pada saat itu tentu sangat berbeda dengan sekarang, dimana saat sekarang sumber informasi bukan hanya dimonopoli oleh surat kabar, tetapi arus informasi kian kaya dengan kehadiran internet, khususnya media sosial yang semakin populer belakangan ini.

Ketika kita membicarakan KBB (Karo Bukan Batak) saat sekarang, maka akan sering pula muncul pertanyaan dari kalangan yang kontra dengan gerakan ini. Mengapa dari dulu tidak ada orang Karo yang protes ketika mereka disebut sebagai bagian Batak? Orang Karo yang melakukan protes ketika Karo disebut sebagai Batak tentu saja sangat banyak, tetapi suara mereka tentu saja tidak akan ada yang mendengar, sebab arus informasi masih dikuasi oleh surat kabar yang orientasi komunikasinya masih searah ketika itu.


[two_third]telah ‘terdoktrin’ melalui media surat kabar[/two_third]

Dengan keberadaan arus informasi yang memungkinkan dilakukan dua arah melalui media sosial saat sekarang, maka semakin kelihatanlah protes-protes Karo bukan Batak itu semakin mengemuka. Selain itu, orang-orang yang sebelumnya telah ‘terdoktrin’ melalui media surat kabar, bahwa Karo adalah bagian Batak — juga semakin banyak belajar dari beragam informasi yang secara mudah bisa mereka temukan di media sosial. Dengan kenyataan ini, semakin hari, maka semakin sedikit pulalah masyarakat Karo yang menganggap diri mereka sebagai bagian Batak.

Spirit gerakan Karo bukan Batak (KBB) memang melalui media sosial yang memungkinkan komunikasi dua arah dan bukan melalui media searah, seperti halnya surat kabar, TV, dan juga radio. Jadi sangat wajar sekali bila keberadaan KBB itu sendiri sangat tumbuh subur di berbagai media sosial, seperti halnya Facebook, Twitter, Blog dan lain sebagainya.

1 COMMENT

  1. Betul sekali analisa BKS ini. Internet, media sosial, blog dsb telah menjadi tempat mencapai self-actualizatin bagi banyak orang dan bagi banyak suku.

    Pada era lalu surat kabar dan media besar offline telah menjadi acuan self-actualization bagi pemiliknya dan tak mungkin ketika itu terjadi bagi banyak orang biasa seperti dalam era internet. Contoh jelas ialah koran SIB itu telah banyak menanamkan kebatakan dikalangan banyak orang termasuk dikalangan orang Karo sendiri.

    Orang-orang Karo dari generasi lalu masih banyak yang belum bisa menanggalkan racun media era lalu itu. Tetapi sudah sangat berlainan dengan generasi era internet, terutama karena seperti dikatakan oleh BKS orang-orang berkomunikasi secara timbal balik artinya berdialog, tidak sepihak seperti media abad lalu. Karena itu juga kesuburan KBB dalam era internet memang tak diragukan lagi.

    Self-actualization suku Karo dalam gerakan KBB tak diragukan semakin nyata. Bukti-bukti ilmiah dari penemuan dan analisa akademik juga bertambah dan dibaca serta diketahui oleh jutaan orang. Imbas keilmiahan KBB tak bisa lagi dibendung oleh media manapun.

    Penemuan DNA Karo yang sudah berumur lebih dari 5000 th serta orang Batak yang baru berumur 700-800 th adalah bukti dan kenyataan tak terbantah bahwa Karo bukan Batak atau tak ada hubungan genetis/geneologis antara kedua suku.

    Dalam situasi sehari-hari terlihat jelas dari kultur dan way of thinking yang sangat jauh berlainan. Juga dari segi bahasa maupun dari segi typologi manusia kreasi psikolog besar Jung dalam soal introversi dan extraversi. Suku Karo introvert dibandingkan dengan suku Batak yang extravert.

    MUG

Leave a Reply