Cerpen: Sudah Sampai Mana ?

0
182

Oleh: Fernando T.A. Sembiring (Jakarta)

 

Dua jam sejak watsap terakhir untuk kekasihnya. Dia masih menunggu di kamar itu di atas tempat tidur salah satu kamar VIP rumah sakit ternama di Jakarta. Sambil membuka menu dan aplikasi chat juga sosmed miliknya. Sambil tiduran dengan jarum dan selang infusan di tangan kirinya, ia menunggu balasan chat dan kedatangan kekasihnya. Kabar terakhir dari kekasihnya, dia sedang di halte menunggu angkot untuk datang menjenguk dirinya.

Rasa kangen setelah 2 minggu tak bertemu sejak ia jatuh di kamar mandi karena mendadak terkena serangan jantung dan saat sadar sudah berada di rumah sakit itu dibawa oleh pembantunya. Akhirnya kekasihnya sempatkan waktu untuk datang menjenguknya.

Dua minggu bukanlah waktu yang sebentar untuk seseorang yang baru saja berpacaran kembali setelah bertahun-tahun memilih sendiri akibat patah hati ditinggalkan seorang diri oleh calon istrinya yang tak pernah kembali setelah pergi berlibur ke luar negeri.

Jantungnya berdebar kencang, mirip ketika malam saat ia menyatakan cintanya di sebuah restoran di hadapan wajah kekasihnya yang bersinar karena sebuah sinar lilin dari meja makan mereka dan seteguk wine tahun 1956. Malam itu makan malam yang sangat romantis.

Masih dengan gelisahnya dan rasa khawatir akan apa yang terjadi pada kekasihnya dia menunggu. Seharusnya tak selama ini, karen jarak dari halte tempat dia menunggu angkot itu hanya 5 kilometer dan itu hanya butuh waktu satu jam kalau macet paling lama.

Akhirnya dia putuskan untuk kembali me-watsap kekasihnya “sudah sampai mana, Sayang?”.

Namun, masih juga tak dibalas.

Rasa resah, gelisah, penasaran, kangen dan yang lainnya sudah tercampuraduk dan membuatnya tak karuan. Sampai begitunya dia menunggu balasan watsap dan kedatangan kekasihnya itu.

Kembali diwatsap kekasihnya itu, “Sayang, kamu sudah sampai mana sih?”

………

Masih juga belum dibalas. Akhirnya ia memutuskan untuk pasrah menunggu saja.

Menunggu memang hal yang sangat membosankan dan mungkin dibenci banyak orang.

Namun, menunggu kekasih pujaan datang sangatlah berbeda. Rasanya sangat nikmat, penasaran, bergairah sangat bernafsu.

Kalau kamu tak jadi datang hari ini gapapa, mungkin kamu ada pekerjaan mendadak dari bosmu yang sialan hehehe.

Kalau kamu tak bisa memberi kabar mungkin hapemu mati atau dicopet orang saat mau naik angkot.

“Aku masih tunggu kamu, Sayang.”

Itu isi watsap terakhir yang dibaca kekasihnya setelah 2 jam dia menunggu dengan gelisah, khawatir, penasaran dan rindu yang telah bercampuraduk di dalam hatinya yang mengakibatkan jantungnya kembali terasa sakit dan membuatnya jatuh dan kepalanya terbentur keras di lantai.

Membaca pesan terakhir itu, kekasihnya menyesal. Pesan itu dibaca tepat ketika ia ada di depan kamar VIP di mana kekasihnya sudah tak ada di sana.

 

21012015

Leave a Reply