Kolom Juara R. Ginting: KEBENARAN

1
185

Seseorang menulis sebuah status di sebuah grup fb menanggapi kisruh KPK vs Polri yang sedang berlangsung. Dia berusaha meyakinkan orang-orang bahwa semua itu adalah bagian dari langkah-langkah Jokowi membersihkan lembaga-lembaga negara itu.

Statusnya yang hanya beberapa kata itu tak mungkin bisa membuktikan bahwa yang dikatakannya itu BENAR. Membuktikan sebuah KEBENARAN bukanlah tujuannya dengan status itu, tapi dia ingin menenangkan para pendukung Jokowi agar tidak cepat-cepat meragukan kepemimpinan Jokowi. Dengan kata lain, dia bukan menyuguhkan KEBENARAN tapi HARAPAN meskipun sebagian dari pembacanya akan menelannya bulat-bulat sebagai OBAT PENENANG.

Lalu, bagaimana kita bisa menemukan KEBENARAN tentang apa sesungguhnya yang terjadi?

Kita sebenarnya tidak akan pernah sampai kepada KEBENARAN yang sesungguhnya. Kita hanya bisa MENDEKATI. Pendekatan itu pun hanya bisa dilakukan melalui bagian-bagian tertentu dari KEBENARAN itu sehingga KEBENARAN yang kita dekati pun adalah KEBENARAN TERBATAS; a.l. benar secara hukum, benar secara politik, benar secara ilmiah, benar secara keyakinan religius, dlsb.

Meskipun masing-masing KEBENARAN itu harus dicapai melalui proses yang tidak mudah, pada akhirnya SANG PEMENANG lah yang memiliki KEBENARAN.

Oleh karena itu, Huisinga mengatakan dalam bukunya HOMO LUDENS bahwa hampir seluruh aspek kehidupan termasuk agama dapat didekati sebagai sebuah LUDIC (permainan/ game). Pemenang dari GAME itulah yang menjadi empunya KEBENARAN.

Sebagian besar “penonton” (baca: rakyat Indonesia) hanya mau tahu hasil akhirnya: “Siapa yang menang?”


[one_fourth]tidak begitu penting bagi sebagian besar rakyat Indonesia[/one_fourth]

[one_fourth]

Apakah kisruh itu adalah sesuatu yang diskenariokan atau telah diramalkan ataupun sesuatu yang muncul tiba-tiba tanpa disengaja (mungkin api dalam sekam atau karena “tersenggol” sesuatu sehingga timbul efek domino) tidak begitu penting bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Itu hanya penting bagi peminat ilmu pengetahuan, wartawan maupun para penulis kolum yang ingin menulis sebuah kisah menarik secara ilmiah akademik atau ilmiah populer, reportase mencekam, fiksi, dlsb. Untuk sebagian besar “penonton” yang penting adalah siapa pemenangnya.

Kebutuhan yang begitu tinggi terhadap siapa pemenang ini bisa berbahaya karena cenderung tidak lagi menghargai fair play. Itulah yang terjadi sekarang ini di perdebatan-perdebatan media sosial. Sama halnya dengan perdebatan tentang KBB (Karo Bukan Batak) yang bisa mengakibatkan kita terbentur pada keinginan “penonton” seperti itu sehingga kita melupakan bahwa perjuangan KBB bukanlah untuk sekarang, tapi untuk ANAK CUCU.


1 COMMENT

  1. Sering terpikir juga apakah kebenaran itu juga berjaman . . . terutama kalau dibandingkan dengan ‘masa lalu yang selalu berubah-ubah’.
    Tetapi dalam soal KBB perlu memang dicamkan kemenangan anak cucu, bukan kemenangan instan sekarang yang bikin kita puas sementara.
    Dan semakin mendalam juga pemikiran para penggerak KBB dalam menghadapi masa depan ini, termasuk dalam soal kebenaran yang memang selalu butuh jerih payah untuk bisa mencapainya.

    MUG

Leave a Reply