Kolom M.U. Ginting: TAWAR MENAWAR

2
191
tawar menawar
Sanggar Seni Sirulo dalam pembuatan film promosi wisata Kabupaten Deliserdang

M.U. GintingMasing-masing pimpinan tersisa (KPK) saat ini pun dilaporkan atas sebuah perkara di masa lalu. Bambang disangkakan mengarahkan saksi memberikan keterangan palsu dalam sidang sengketa Pilkada Kabupaten Kotawaringin Barat di Mahkamah Konstitusi. Adnan dilaporkan ke polisi merampas saham dan modal sebuah perusahaan di Kalimantan Timur. Sementara Zulkarnain disebut-sebut menerima sogok Rp 2,5 miliar saat masih menjabat Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Timur. Sedangkan Abraham Samad dilaporkan ke polisi lantaran diduga menyalahgunakan jabatan buat kepentingan politik. Menurut mantan Penasehat KPK sekaligus bekas panitia tim seleksi, Abdullah Hehamahua, keadaan menimpa para pimpinan KPK saat ini, yakni Abraham Samad, sudah disusun secara sistematis. Tujuannya adalah buat menghancurkan KPK (merdeka.com).

Bahwa siapa saja yang ada bersangkutpaut dengan uang korupsi, perorangan atau institusi tertentu, pastilah akan berusaha menghancurkan KPK. Tak perlu diragukan. Kebersihan polisi akan menertawakan kalau dibilang tak menertawakan atau kalau dibilang institusi bersih. Tetapi KPK juga bukan kebal kotoran. Di situ juga manusia yang bisa kena kotoran. Karena itu, juga terus disangkal orang kalau dibuat Perppu bikin imunitas pimpinan KPK. Tak ada yang imun kotoran, tak ada yang imun hukum. Itu yang betul.

Kotoran-kotoran ini sudah tua, 5-10 tahun umurnya. Dikeluarkan dan diperbarui lagi sekarang tepat momennya bagi kepentingan kedua institusi dan tetap masih hangat atau masih sama bauknya. Namanya juga kotoran.


[one_fourth]ada bukti hitam di atas putih
?[/one_fourth]

Kalau memang tadinya semua persoalan kotoran ini sudah selesai, mestinya tidak akan mempan lagi walaupun diungkit lagi sekarang dengan maksud menjatuhkan KPK atau menjatuhkan polisi. Tetapi penyelesaian dulu itu apakah betul-betul selesai dan ada bukti hitam di atas putih? Ini yang tak ada, atau memang disengaja disimpan sementara untuk dijadikan modal di kemudian hari bilamana perlu?

Fenomena inilah yang sangat menarik untuk diteliti dan dipelajari sekarang ini, setelah 5-10 tahun berlalu, sudah begitu lama kotoran tersimpan.

“Kasus mereka ini sudah lama sebelum jadi pimpinan KPK diungkap. Kenapa baru sekarang? Ini sengaja dijadikan bom waktu. Dijadikan semacam take and give satu lembaga hukum dengan lembaga hukum yang lain,” kata Abdullah kepada para pewarta di Gedung KPK, Jakarta [Senin 26/1].

Dijadikan ’take and give’ sebagai senjata tawar menawar. Untuk menawarkan apa? Supaya kotoran bisa dibersihkan?


[one_fourth]sudah mungkin memobilisasi kekuatan jutaan rakyat yang jujur[/one_fourth]

Fenomena ini sudah berumur 5-10 tahun. Fenomena ini sudah waktunya dihabisi nyawanya. Sekarang sudah mungkin, karena perubahan dan perkembangan yang sudah mungkin dan sudah memenuhi syarat, pengerahan jutaan kekuatan pikiran dan ide rakyat di internet dan media sosial, kekuatan dan energi besar jutaan rakyat bersinergi dalam satu front menentang mafia korupsi yang dalam hal ini sudah bercokol 5-10 tahun di berbagai institusi. Fenomena ini tak mungkin diselesaikan 5-10 tahun lalu. Syarat-syaratnya belum terpenuhi. Tetapi sekarang sudah mungkin, sudah mungkin memobilisasi kekuatan jutaan rakyat yang jujur dengan kecepatan elektronik.


2 COMMENTS

  1. “Saya juga heran kenapa orang-orang pemberi dan penyebar kotoran ini juga tidak dihukum sama beratnya seperti si penerima.”
    Betul mengherankan memang, yang memberi juga banyak dosanya, atau dialah yang memulai dosa ini. Sering si pemberi ini yang menggunakan untuk dapat lebih banyak atau supaya bebas sendiri. Teringat juga triliunan duit hilang dalam skandal BLBK. Yang mau dituntut Megawati yang kemungkinan tak menerima duitnya, tetapi yang dapat duit berlimpah malah enak-enak saja dan ongkang angking di LN. Pandai sekali orang-orang ini menipu uang rakyat dan menipu pemerintah yang ketika itu diwakili Megawati.
    “P.S. Saya juga pernah ditawarkan KOTORAN MBAU.”
    Kejadian seperti ini (5-10 th lalu) dibandingkan dengan kesedaran manusia sekarang kelihatannya sudah berkurang memang, karena perubahan tingkat kesedaran manusia. Seperti pengakuan BW (wk ketua KPK) jadi “lebih tahu diri”. Tak mungkinlah dia ngaku begitu 5-10 tahun yang lalu. Itulah barangkali perubahan berkat revolusi kontrol atas kekuasaan.

    MUG

  2. Saya percaya kotoran itu diciptakan agar kebebasan yang bersangkutan bisa di jegal di kemudian hari! Pertanyaannya siapakah yang berada dibelakang penyebaran kotoran ini? Kotoran ini disimpan sampai suatu hari diperlukan. Jadi semua orang Indonesia, Jangan mau terima uang yang bukan dari usaha sendiri! Saya juga heran kenapa orang-orang pemberi dan penyebar kotoran ini juga tidak dihukum sama beratnya seperti si penerima. Mejuah juah!

    P.S. Saya juga pernah ditawarkan KOTORAN MBAU.

Leave a Reply