Orang Rimbo dan KBB (Bagian 1)

0
170

Oleh: Bastanta Permana Meliala

 

bastantaOrang Rimbo, demikian mereka menyebut diri, menyatakan keberadaan, serta potensi dan sumber kehidupan mereka. Hidup secara alami di pedalaman hutan rimba, nomaden, dan tertutup dari dunia luar.

Kita menyebut mereka Orang Kubu, yang awalnya oleh orang Melayu merupakan ejekan/ hinaan terhadap mereka yang dianggap lebih rendah. Kubu secara umum dalam bahasa Melayu berarti berkumpul (mengubu) ataupun benteng pertahanan dari gundukan tanah, dsb. Namun, makna lain dari kubu, ialah kafir, liar, primitif, biadab, brutal, dlsb yang kemudian nama ‘kubu’ sendiri dikukuhkan melalui catatan-catatan penjelajah asing dan pemerintah, seperti-halnya kata ‘batak’ yang disematkan kepada suku-suku di pedalaman Sumatera Timur.

Tahun 1997, saat saya berkesempatan berkunjung ke Jambi, orang setempat katakan, “jika bertemu orang Kubu jangan meludah atau menutup hidung, karena itu akan menyinggung perasaan mereka”. Benar saran itu saya ikuti saat berpapasan dengan rombongan Orang Rimbo pencari labi-labi (sejenis penyu) dan biawak. Dengan ramah mereka menyapa: “Nak mano kisana?” Ada juga yang katakan: “Jangan tatap wajah atau matanya, karena jika mereka menyukaimu, kamu tidak akan lepas (dibawanya). Untuk hal ini saya tidak begitu berani berkomentar.

Banyak cerita lain tentang mereka. Ada yang katakan mereka sangat mahir berburu. Tentunya hal ini benar, karena bagaimana mungkin mereka dapat bertahan di ganasnya hutan rimba jika bukan pemburu yang handal. Cerita lain, mereka sangat mahir memainkan ilmu hitam (mistis). Untuk hal ini saya tidak begitu berani berkomentar. Ada juga mengatakan, mereka sangat brutal, sehingga kita harus berhati-hati. Namun, untuk hal ini, hingga sampai saat ini belum pernah saya dengar ada Orang Rimbo yang bersengketa dengan masyarakat umum sampai mengakibatkan kontak fisik, bahkan kita yang telah mengaku berperadaban inilah yang begitu berutal membuat mereka tersingkir.

Dalam penentuan garis keturunan, Orang Rimbo menganut system matrilinial. Beberapa tradisi yang ada, komunitas ini dipercaya berasal dari orang ‘Maalau Sesat’ yang kemudian dikenal dengan ‘Moyang Segayo’ di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi.


[one_fourth]Budak Jantan Lima Sedulur[/one_fourth]

Tradisi lainnya mengatakan kalau mereka adalah bekas serdadu Majapahit yang lari dan hidup di hutan. Yang lain, ada juga yang mengatakan kalau mereka sebenarnya rakyat Pagaruyung yang bermigrasi ke wilayah Jambi mencari kebebasan. Cerita setempat ‘Budak Jantan Lima Sedulur’ juga bercerita tentang nenek moyang suku-suku yang ada di Provinsi Jambi dari satu nenek moyang yang sama, namun sepertinya ini sebuah mitologi baru. Mengenai kebenaran akan hal ini tentunya masih membutuhkan penelitian dari ahli dan informasi dari orang yang kita katakan Kubu itu sendiri, tetapi semua tradisi itu mengisyaratkan akan kerinduan kepada kebebasan dan alam.

Penyebaran populasi suku Kubu cukup luas. Meliputi Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan. Namun, diperkirakan jumlah mereka saat ini hanya sekitar 200.000 jiwa saja dan terus berkurang setiap waktu. Hal ini tentunya dipengaruhi beberapa faktor dan bahkan modernisasi yang selama ini kita tawarkan adalah salah satunya.

Berkat peradaban modern yang kita ajarkan untuk mereka pahami dan ikuti, kini mereka terbagi dalam dua kelompok, yakni: ‘Anak Dalam’ dan ‘Anak Luar’, dan labelisasi ini juga tentunya diberikan oleh orang di luar mereka. Anak Dalam dimaksudkan kepada mereka yang masih primitif, hidup di hutan, nomaden, dsb. Sedangkan Anak Luar sebuatan bagi mereka yang sudah tersentuh modernisasi, hidup menetap, dan memiliki interaksi dengan dunia luar. Kelompok Anak Luar merupakan penghubung antara dunia luar dengan kelompok Anak Dalam dan demikian juga sebaliknya. Hubungan mereka saat ini sangat saling bergantung satu dengan lainnya, apalagi melihat kondisi hutan yang menjadi tempat hidup mereka kini semakin sempit. Namun, tidak jarang kepolosan mereka dimanfaatkan untuk kepentingan korporasi dan lainnya.

Dan juga, berkat peradaban yang kita perkenalkan, tanpa kita sadari kini juga mengancam populasi mereka sebagai sebuah komunitas asli yang mendiami Jambi dan Sumatera Selatan. Mengajari mereka baca, tulis, berhitung, mengenal uang dan memakaikan mereka baju dan peci: membuat mereka lupa siapa diri mereka dan kemudian mereka berbaur dengan kita dan mengaku Melayu, sebab memang kita juga akan memandang mereka sebagai seorang Melayu.

Hal ini memang menjadi dilema, bukan hanya bagi Orang Rimboitu sendiri, tetapi bagi seluruh bangsa ini. Kita dengan lantangnya berbicara HAM, kelayakan hidup, dlsb sehingga melupakan atau mungkin disengaja lupa, atau bahka kita kurang mengerti makna ‘orang rimbo’ itu? Masalah lainnya, lebelisasi dan generalisasi ditambah /belum adanya kesadaran sebagai seorang bagian dari masyarakat tertentu membuat pengkaburan dan pembodohan masih merajalela (Bersambung)


Leave a Reply