Orang Rimbo dan KBB (Bagian 2)

2
239

Oleh: Bastanta Permana Meliala

 

 

bastantabastanta 3Begitu mudahnya kita menciptakan Kubu, Anak Dalam, Anak Luar, dan kini kita pun begitu mudahnya mengatakan mereka Melayu oleh karena pakaian dan peci yang mereka kenakan. Kondisi seperti ini bukanlah hal yang baru. Apakah itu tidak kita sadari, disengaja karena kepentingan kompetisi antar etnis, politik, atau kemauan mereka sendiri, dlsb.

Di beberapa belahan dunia, bahkan di Indonesia, beberapa suku-suku yang merasa terancam kini bangkit melawan, apalagi di era keterbukaan informasi dan komunikasi yang didukung dengan perkembangan teknologi internet yang membuat suku-suku yang terdesak (umumnya kaum introvert) berani lantang, karena memang dimediasi dengan baik oleh perkembangan teknologi itu. Tidak dapat dipungkiri dan bahkan apa yang sering dikemukakan M. U. Ginting tentang akan runtuhnya dominasi extrovert (kaum mulut besar) akan segera terjadi. Salah satunya seperti yang sekarang kaum muda Suku Karo lakukan dengan gencar di dunia maya dan kemudian merambah ke dunia nyata menyuarakan KBB (Karo Bukan Batak).

Setelah sekian lama Karo diam membisu terhadap labelisasi orang asing (Batak Karo), kini bangkit untuk berbicara tentang dirinya sendiri bukan oleh karena ‘kata orang!’ Seperti abad lalu. Namun, bagaimana cerita tentang Orang Rimbo yang belum mengenal/tersentuh oleh teknologi imformasi dan komunikasi itu? Bahayanya lagi, mereka yang telah merasakan/mengerti akan itu malah terbuai dan kemudian lupa diri dan malah mencari aman dengan mengaku Melayu (orang Karo juga mungkin masih ada yang demikian).

[one_fourth]politik pembodohan terhadap suku-suku[/one_fourth]

Saya jadi ingat komentar Ita Apulina Tarigan yang mengomentari berita tentang penarikan Staf Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia berkaitan dengan hukuman mati terpidana narkoba beberapa waktu lalu, ‘apakah mereka (Netherland-red) saat membuat bangsa ini kecanduan […]’. Kata “kecanduan” perlu diberi penilaian khusus, berkaitan dengan politik pembodohan terhadap suku-suku yang dilakukan Belanda di masa penjajahan, seperti halnya Orang Rimbo yang kecanduan modernisasi hingga lupa diri.

Jadi, siapa pembela  (juru bicara) mereka? Untuk itu perlu kiranya kesadaran bagi kita manusia yang telah mengaku beradab untuk menghargai yang kita anggap primitif, biadab, kafir, dll, karena bukankah demikian prinsip dasar dari pelestarian? Mempertahankan seperti sesungguhnya, bukan menjadikannya seperti yang kita inginkan atau yang dipesan oleh pihak penguasa.

Mejuah-juah.

2 COMMENTS

  1. Mantap tulisan ini BPM. Pengalaman satu daerah di Jambi yang masih diambang pintu kepunahan serta perbandingannya dengan Karo.

    “Setelah sekian lama Karo diam membisu terhadap labelisasi orang asing (Batak Karo), kini bangkit untuk berbicara tentang dirinya sendiri bukan oleh karena ‘kata orang!’ “.

    Saya teringat kata-kata Dalai Lama ketika berkunjung ke Swedia pada akhir abad lalu, dia bilang soal membisunya orang Tibet dibawah tekanan orang China:“Tibet’stragedy we are experiencing now, Tibet’s own long periods of indifference and ignorance ofevents in the outside world. I realize the seriousness of the situation, the fact that the Tibetans’survival as a people with unique cultural heritage is threatened, I can feel the value of the minimum contribution I can make to the Tibetan people’s survival.”

    Dalai Lama berjasa dalam membangunkan Tibet untuk menjaga kepunahannya, seperti juga pemuda dan genarasi muda Karo sekarang berusaha keras bikin trobosan apa saja demi survival Karo dan kulturnya, serta daerahnya.

    MUG

    • Soal hasil akhir yang sering dituntut oleh anti-KBB dan para kaum ‘mulut besar’ lainnya, tidak masalah bagi kita. Adi nina cakap alay’na, “gak kuukuri pon”. Hehehe…
      Yang penting, proses menuju Karo yang merdeka secara budaya sudah berani kita menyuarakenna. Ia(anti-KBB) kai ka kin nge enggo ibahanna?

      Mejuah-juah.
      @Basatanta_PS366

Leave a Reply