Character Building Pemuda Karo Medan Lanjut Hari Ini

1
173

alexander firdaustpkm 1ALEXANDER FIRDAUST. MEDAN Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, Pelatihan Karakter Pemuda Karo Medan diadakan Convension Hall UMA Medan berlangsung selama 2 hari sejak kemarin [Jumat 30/1] hingga hari ini [Sabtu 31/1].

Hari ini, pemuda dan mahasiswa dilatih dengan berbagai macam materi, terutama yang berkaitan dengan bagaimana mengembangkan diri. Self Awereness yang akan diajarkan pada pelatihan hari ke dua tampaknya akan menjadi daya tarik dan minat tersendiri bagi mahasiswa yang menjadi peserta.


[one_fourth]sangat komunikatif dan mampu membimbing[/one_fourth]

Adapun sebagai pelatih tunggal dalam kegiatan ini adalah dra. Herlina Surbakti MA yang telah berpengalaman menjadi seorang pendidik di dalam dan luar negeri. Sebagaimana terlihat oleh Sora Sirulo di acara hari pertama, Herlina terlihat sangat komunikatif dan mampu membimbing pemuda dan mahasiswa secara interaktif. Beru Surbakti yang dipanggil dengan julukan bibi oleh para peserta pelatihan terlibat secara langsung dan ikut serta di dalam games yang dirancangnya sehingga kegiatan pelatihan tidak monoton dan terkesan menggairahkan.

Dalam pelatihan ini, mahasiswa juga dibekali dengan materi bagaimana mengembangkan karakter di tengah suasana masa kini, belajar aktif, dan efektif hingga pada cara mengenali dan mengelola konflik.

Mahasiswa dilatih dengan menggunakan strategi belajar aktif melalui diskusi, bermain peran, games, sampai dengan lembar kerja dan penugasan. Peserta pelatihan dibekali oleh Tim Pengembang Karakter Universitas Negeri Makassar.

“Bagi peserta yang sudah hadir di hari pertama, jangan lupa untuk tetap hadir di hari ke dua. Ajak juga teman-teman lain yang belum sempat hadir pada pelatihan hari pertama. Pembagian sertifikat akan dilakukan di hari ke dua. Tidak kalah menarik pada acara penutupan hari ini akan ditampilkan music, tari dan vocal Sanggar Seni Sirulo,” ujar Averiana beru Barus, salah satu panitia acara pelatihan karakter yang diselenggarakan oleh komunitas Pemuda Karo Medan (PKM) ini.

Berita Terkait: Pelatihan Karakter Pemuda Karo Medan Telah Dimulai



1 COMMENT

  1. ”Self Awereness, bagaimana mengembangkan diri, bagaimana mengembangkan karakter di tengah suasana masa kini, belajar aktif, dan efektif hingga pada cara mengenali dan mengelola konflik.”

    Kalimat diatas ini semua saya kutib dari artikel ”Character Building Pemuda Karo Medan Lanjut Hari Ini” oleh Alexander Firdaus di Sorasirulo.

    Saya tebalkan yang saya anggp perlu ditekankan seperti kata ”belajar aktif”.
    Belajar jadi orang aktif pastilah sudah jadi kunci penting bagi Karo untuk mengkedepankan dirinya. Kurang aktif ini adalah sifat umum bagi orang Karo yang sudah tertanam dalam dan lama. Penyakit kurang aktif sangat terlihat dikalangan orang Karo termasuk pemuda, juga senior-seniornya. Aktif disini terutama dalam kekaroan dan usrvival Karo, menjaga kelanjutan kultur dan daerahnya.

    Ada kesamaan dengan Tibet dalam soal kepasifan ini. Dalai Lama bikin kesimpulan dalam menilai rakyat Tibet yang tidak aktif melempem lebih dari setengah abad dalam menghadapai pencinaan Tibet oleh ’pengasak’ China, (pencinaan bisa dibandingkan dengan pembatakan bagi orang Karo). Dalai Lama pada akhir abad lalu dalam kunjungannya ke Swedia bilang:

    “Tibet’s tragedy we are experiencing now, Tibet’s own long periods of indifference and ignorance of events in the outside world. I realize the seriousness of the situation, the fact that the Tibetans’ survival as a people with unique cultural heritage is threatened, I can feel the value of the minimum contribution I can make to the Tibetan people’s survival.”

    Ketidakaktifan ini pada era Orba bisa dikatakan sudah mencapai ketingkat kritis. Pembatakan sudah total atau hampir total. Akan tetapi keruntuhan Orba dan datangnya era INTERNET merupakan penyelamat bagi Karo. Dan kita melihat dan merasakan perubahan dan perkembangan pembatakan ini dikalangan orang Karo sendiri maupun dikalangan orang Batak sejak runtuhnya Orba sampai ketingkat sekarang ini, terutama setelah adanya penemuan-penemuan ilmiah arkeologi dan sejarah dari banyak akademisi nasional maupun internasional.Tingkat pembatakan sekarang ialah: sudah tak banyak lagi yang terus terang bilang Karo adalah Batak.

    Keaaktifan Karo terutama pemuda-pemudanya terlihat juga ada perubahan. Tetapi masih belum maksimal seperti yang diharapkan dalam character building itu. Kepasifan (indifference and ignorance) masih cukup tinggi. Ini sudah dilihat oleh generasi muda character building.

    Beberapa hari lalu saya dapat keluhan seorang pemuda Karo baru datang dari kampung halamannya sendiri, bilang: Susah kerja sama dan tukar pikiran dengan orang Karo. Begitu mereka tak setuju pendapat kita, lantas kita terus diboikot dan tak disukai, katanya. Jadi muncul kebuntuan dalam berkomunikasi, dan kebuntuan ini dibiarkan saja entah sampai kapan, tak ada yang urusan. Jelas dari situasi begini tak mungkin ada perubahan, apa lagi perkembangan. Ini persoalan komunikasi serta ”mengenal dan mengelola konflik”.

    MUG

Leave a Reply